365 Days With You

365 Days With You
Cari aman


__ADS_3

Laura kini sudah bangkit dari posisinya dan berjalan menuju ke arah wastafel untuk berkumur-kumur sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tadi harus memuaskan Mario dengan cara lain.


Tentu saja harus menggunakan mulutnya dan membuat pria yang ia ketahui masih perjaka itu meledakkan gairah di malam pengantin agar tidak kecewa.


Beberapa saat kemudian, ia tidak berkedip menatap pantulan dirinya dan tiba-tiba bayangan dua pria terlihat berdiri di belakangnya. Dua pria yang tak lain adalah Christian dan Mario.


"Christian," lirih Laura yang teringat akan pertemuan dengan Christian tadi yang wajahnya terlihat sendu dari mantan suaminya tersebut.


Berbeda dengan ekspresi wajah Mario yang terlihat seolah adalah seorang pria yang paling bahagia di dunia ini karena berhasil menikahinya.


'Kamu akan bahagia bersama Mario dan lupakan Christian,' gumam Laura yang kini mengibaskan tangan agar bayangan Christian hilang.


Benar saja, bayangan Christian kini sudah menghilang dan membuatnya memilih untuk segera melangkahkan kaki telanjangnya keluar dari kamar mandi.


Ia hanya geleng-geleng kepala melihat sosok pria yang baru saja meledakkan gairahnya itu sudah tertidur pulas di atas ranjang king size.


Ia kini memilih berjalan ke arah balkon karena ingin melihat suasana malam di yang diakuinya pemandangannya sangat indah karena bertabur bintang dan temaram cahaya rembulan.


Saat ia menatap ke bawah, yaitu kolam renang luas yang terlihat sangat sepi. Mendadak ia ingin berenang di malam hari karena tidak akan ada yang mengganggunya.


"Akan sangat menyenangkan jika berenang di malam hari," ucap Laura yang berbalik badan dan berjenggit kaget serta membekap mulutnya begitu melihat sosok pria yang baru saja diumpatnya sudah berada di hadapannya.


"Astaga! Kamu benar-benar mengejutkanku!"


Mario hanya terkekeh geli melihat raut wajah terkejut Laura. "Aku tadi hanya berpura-pura tidur.


Hingga saat ia bangkit dari posisinya yang berbaring di atas ranjang, mendengar keinginan Laura untuk berenang malam-malam.


"Lebih baik besok pagi saja kita berenang. Aku tidak ingin kamu sakit karena berenang di malam hari."


Laura memang ingin berenang malam itu juga karena berpikir sudah lama tidak melakukannya semenjak di Jakarta. Ia lebih sibuk dengan pekerjaan. Sementara di New York dulu sering berenang saat menginap di hotel bersama teman-temannya.


"Akan jauh lebih dingin pagi buta daripada malam ini."


"Apa papaku tidak mengirim pesan padamu?" tanya Mario yang kini mengerutkan kening dan melihat Laura menggelengkan kepala. "Aah ... berarti papa hanya memberitahuku saja."


"Memangnya kenapa? Papa bicara apa padamu?" Laura yang kini berjalan masuk ke dalam, berniat untuk membuka ponselnya.

__ADS_1


Niatnya adalah ingin memeriksa pesan. Apakah sang ayah mertua mengirimkan sesuatu, tapi yang dilihatnya saat ini adalah pesan dari Christian dan langsung dibaca.


Semoga kamu hidup berbahagia selamanya bersama Mario dan segera dikaruniai momongan. Aku akan membawa Valerio bersamaku selama satu minggu. Maaf karena tadi tidak meminta izin langsung darimu.


'Satu jam lalu Christian mengirimkan pesan dari tadi dan baru saja kubaca,' gumam Laura yang kini merasa seperti mendapatkan anak panah tepat di jantungnya.


Kemudian ia menaruh ponsel miliknya di atas nakas dan mendaratkan tubuhnya di atas ranjang. "Tidak ada pesan dari papa."


Mario yang kini ikut duduk di sebelah sang istri, sudah melingkarkan tangannya di perut datar Laura dan menaruh dagunya di atas pundak. "Papa bilang sudah booking hotel di puncak. Kita disuruh ke sana sambil bulan madu. Itu karena tadi Christian membawa Valerio."


"Jadi, menyuruh kita bulan madu di tempat lokal saja. Tidak apa-apa, kan bukan di luar negeri?" tanya Mario yang kini berharap Laura tidak kecewa.


Laura kini memilih untuk melepaskan tangan dengan buku-buku kuat tersebut dari perutnya. "Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula bulan madu di mana pun sama saja bagiku."


"Syukurlah kalau kamu tidak keberatan. Lagipula kita pun tidak tenang jika meninggalkan Valerio jauh-jauh. Nanti pasti mencarimu. Kalau dekat kan gampang, bisa pulang sewaktu-waktu. Oh ya, kamu tadi baca pesan dari siapa?" Mario yang kini penasaran kala tadi melihat Laura serius menatap ponsel.


"Pesan dari ... aah lupakan. Itu hanya pesan dari Christian yang mengucapkan selamat dan meminta izin membawa Valerio selama satu minggu." Laura kini melepaskan tangan Mario yang melingkar di pinggang dan bergerak untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Mario yang awalnya merasa kecewa karena Laura seperti menghindarinya gara-gara tidak jadi menyebutkan nama seseorang yang ia ketahui. Namun, saat mendengar penjelasan, membuatnya mengakhiri kecurigaan.


Ia memilih untuk naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah wanita yang terlihat tengah meringkuk menghadapnya. "Peluk, Yank."


Mario yang kini tersenyum lebar karena senang bisa bermanja-manja pada Laura yang sudah sah menjadi istrinya, memilih untuk mendekat dan tidur dengan meringkuk seperti bayi pada Laura yang langsung mendekapnya erat.


Mario kini mengarahkan jari telunjuknya untuk melukis pucuk salah satu gundukan sintal yang tidak memakai pelindung di balik gaun tidur dengan bahan sutra itu.


Sebuah hal yang tidak pernah dilakukannya dan kali ini bersikap sangat nakal dengan meraba sesuatu yang kencang dan menyilaukan matanya tersebut.


"Issh ... diem dan jangan nakal! Aku mau tidur," sarkas Laura yang urat syarafnya menegang kala merasakan kenakalan Mario.


"Aku belum mengantuk. Makanya ingin bermain-main dulu. Aku akan menunggumu tidur dulu, baru akan tidur."


Laura menahan tangan Mario yang tidak mau berhenti bermain dan malah membuatnya terpancing gairah.


Namun menyadari tidak akan pernah bisa menyalurkan gairah dengan merasakan kekuatan Mario untuk pertama kali karena tamu yang tidak diundang hadir.


"Berhenti dan jangan menyiksaku karena aku tengah menstruasi." Mengarahkan tatapan mata tajam untuk mengintimidasi sosok pria yang malah membuatnya merasa semakin gemas.

__ADS_1


Mario hanya terkekeh geli dan mendongak menatap ke arah wajah dengan pahatan sempurna tersebut. "Kalau aku nggak mau, mau apa? Kamu akan memberikanku hukuman padaku?"


"Mungkin. Apa apa kamu mau mencobanya?" Laura yang kini tidak berkedip menatap wajah nakal Mario, terutama pada bibir tebal yang tadi membungkamnya.


Ia tahu jika Mario adalah pria polos yang belum pernah bercinta, berbeda dengan dirinya yang berstatus janda. Jadi, sangat gemas melihat sikap kekanak-kanakan itu.


"Jika kamu melakukannya lagi, aku akan memukul kepalamu!" sarkas Laura yang kini tengah mengarahkan tangan kirinya untuk menarik hidung mancung Mario.


"Lebih baik cepat tidur karena aku benar-benar sangat mengantuk." Memejamkan mata dan membiarkan Mario membenamkan wajahnya di dadanya.


Laura merasakan perbedaan signifikan antara Christian dan Mario dan keduanya punya cara tersendiri untuk membuatnya bahagia menjadi seorang istri.


Mario masih sibuk mengendus aroma khas tubuh wangi Laura. "Wangi dan seperti aroma terapi, Yank."


Ia yang kini merasa wangi tubuh Laura yang sudah memeluknya tersebut berhasil menghipnotisnya. Hingga lama-kelamaan ia sudah tertidur pulas dalam pelukan wanita yang sibuk mengusap punggungnya.


Masih dengan seulas senyuman terbit dari wajah Laura, ia bisa mendengar suara napas teratur dari bibir Mario


"Dasar! Tadi bilang nggak bisa tidur. Dipeluk dikit aja dah tepar. Tadi bilang mau nunggu aku tidur, tapi malah sekarang dah sampai ke Amerika sana. Malah aku sekarang yang nggak bisa tidur," keluh Laura yang saat ini menatap wajah dengan rahang tegas di hadapannya.


Ia kini semakin mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata. Berharap bisa segera tidur dan mimpi indah dengan sang suami yang sudah lebih dulu larut dalam alam bawah sadar.


Akhirnya ia hanya mengerjapkan mata sesekali sambil menatap langit-langit kamar. Ia kini memikirkan Christian tengah bersama dengan Valerio. 'Mereka pasti sekarang tidur bersama dengan saling memeluk seperti ini.'


Satu jam telah berlalu, tapi Laura tak kunjung bisa tertidur dan membuatnya hanya mengembuskan napas berat.


Saat ia asyik menatap wajah damai Mario yang tertidur pulas, indra pendengarannya menangkap suara notifikasi.


'Siapa yang mengirimkan pesan? malam-malam begini? Apa Christian?' Bergerak dengan sangat hati-hati agar sang suami tidak terbangun.


Ia kini sudah meraih ponsel miliknya. Benar apa yang dipikirkannya, bahwa Christian yang baru saja mengirimkan pesan.


Pesan itu berupa sebuah foto Valerio yang tengah tertidur sambil memeluk guling.


Tidak ada tulisan di sana karena hanya sebuah foto saja. 'Apa dia sengaja melakukan ini untuk menggangguku?'


Ia kini berbalik badan dan menatap ke arah sosok pria yang tertidur pulas di atas ranjang. "Bagaimana jika Mario melihat ini? Apa dia akan cemburu? Atau bersikap biasa karena menganggapnya wajar?"

__ADS_1


Merasa sangat pusing memikirkan berbagai macam kemungkinan buruk dari rumah tangganya ketika Mario membaca pesan Christian, ia pun memilih cari aman dan menghapus setelah menyimpan foto putranya.


To be continued...


__ADS_2