365 Days With You

365 Days With You
Mendatangi makam Ana


__ADS_3

Laura kini seketika membeliakkan mata, menatap tajam wajah Mario. Ia kemudian menyeka bibirnya yang baru saja disambar Mario. Sial. Bisa-bisanya ia kecolongan seperti itu.


"Hmm ... baiklah, karena kamu sudah memberikan kecupan istimewa untukku, jadi sekarang aku yang akan melakukan apa yang kamu inginkan."


Alih-alih menanggapi amarah Laura, Mario justru memilih untuk mengabaikan dan bersikap santai seolah-olah tak berdosa.


Mario diam-diam menyelipkan sebelah tangannya ke bawah paha Laura, sementara sebelah lagi telah merangkul bahu wanita itu. Tanpa aba-aba ia segera mengangkat tubuh langsing itu dengan kedua tangannya, sontak membuat Laura terkejut hebat.


"Heh! Apa yang kamu lakukan?" erang Laura seraya memukul tangan Mario, sementara tubuhnya yang sudah dipangku tampak tidak bisa diam. Memohon agar diturunkan kembali.


"Diamlah, Laura. Bukankah kamu ingin pergi ke makam Ana? Aku akan mengantarnya sekarang," ucap Mario tidak terlalu peduli dengan erangan kekasihnya.


"Ya, tapi tidak dengan cara seperti ini, Mario. Tolong lepaskan aku sekarang juga!" tegas Anna masih berusaha untuk menjatuhkan diri, sehingga membuat Mario sedikit kelimpungan menahan tubuhnya.


"Diamlah! Kamu baru saja dioperasi. Lukamu masih belum kering. Jangan membuatku khawatir, please!" Mario menahan dengan kuat tubuh Laura, sehingga wanita itu tidak bisa berkutik lagi.


"Tapi turunkan aku sekarang, Mario!"


"Tidak!" tolak Mario dengan tegas.


"Bahkan kamu belum meminta maaf atas perbuatan yang baru saja kamu lakukan padaku!" cerocos Laura masih kesal.


"Baiklah, aku minta maaf," balas Mario tetap santai, seolah-olah tidak serius dengan ucapannya.


Ya, tentu saja ia tidak serius. Memangnya kesalahan apa yang sudah ia lakukan pada Laura sampai harus meminta maaf? Bukankah sebuah kecupan itu hal yang wajar jika diberikan kepada seorang kekasih?


'Ah, kenapa Laura sangat menjengkelkan. Seperti anak kecil saja. Seharusnya dia senang mendapat kecupan itu dariku,' gerutu Mario dalam hati.


"Kamu tidak serius!" protes Laura tidak terima permintaan maaf dari Mario, tetapi sepertinya pria itu tetap tidak peduli.


"Diamlah, aku akan membawamu ke mobil!" pinta Mario seraya berjalan menuju pintu ruangan yang sejak tadi memang sengaja tidak ditutupnya kembali.


"Apa kamu akan membawaku seperti ini sampai ke makam Ana, hah? Jangan gila kamu! Ini sangat memalukan, Mario!"


"Tentu tidak. Tenang saja, aku sudah menyiapkan kursi roda untukmu di mobil," jawab Mario sambil tersenyum lebar. Berbeda dengan Laura yang hanya bisa menggelengkan kepala.


Laura tidak mampu berkata apa pun lagi. Rasanya percuma ia memprotes pria itu berulang kali. Mario tetap tidak akan mendengarnya dan hanya akan membuat tenggorokkannya sakit karena terlalu banyak teriak.


"Duduklah dengan tenang, Sayang. Jangan banyak bergerak, tapi jangan terlalu tegang juga. Aku tidak ingin luka bekas operasimu sobek kembali," tutur Mario sesaat setelah berhasil mendaratkan tubuh Laura di jok penumpang paling depan.


Pria itu segera menutup pelan pintu mobil, setelah memakaikan seatbelt untuk Laura. Ia kemudian mengitari bagian depan mobil dan memposisikan dirinya di jok kemudi, tepat di samping Laura.


"Apa kamu sudah siap, Sayang?" Mario menoleh ke arah Laura, memberikan senyuman mengembang tanpa dosa.


Sementara itu, Laura masih memasang ekspresi masam karena masih kesal dengan tingkah laku Mario. Ah, sepertinya pria itu tidak tahu jika jantung Laura hampir saja copot karena ulahnya.


Lihat saja! Laura tampak berusaha mengatur napas berulang kali, mencoba meredam degup jantung yang sedari tadi berdebar sangat hebat. Entah mengapa bisa seperti itu. Sentuhan Mario seperti memiliki daya magis yang luar biasa, sehingga bisa membuat tubuhnya bergetar begitu dahsyat.


"Kamu sangat menyebalkan, Mario!" umpat Laura seraya membeliakkan mata.

__ADS_1


Alih-alih merasa kesal, Mario justru terkekeh. Ah, padahal ia melakukan sesuatu yang sangat manis, tetapi mengapa Laura justru sangat kesal padanya? Begitu pikirnya.


"Apa? Adakah yang lucu?" sarkas Laura masih menatap tajam. "Aku sedang marah. Kenapa kamu malah tertawa, hah?" imbuhnya seraya mencebikkan bibir.


Mario tersenyum menatap lekat wajah kekasihnya. "Aku sayang kamu, Laura," ucapnya yang sontak membuat Laura bungkam seketika.


Wanita itu menunduk. Ia bisa melihat keseriusan dari tatapan Mario kali ini. Itulah mengapa ia menjadi bingung harus memberikan tanggapan seperti apa.


"A-aku—"


"Kita berangkat sekarang!" seru Mario tidak memberikan Laura kesempatan untuk berbicara.


Ya, bahkan ia tidak butuh tanggapan positif dari Laura sekarang. Yang penting ia sudah dapat menyampaikan perasaannya dan Laura pun sudah menerimanya. Itu sudah lebih dari cukup.


Tanpa berpikir panjang, Mario segera menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat itu.


Sementara Laura hanya tercengang menatap Mario yang tengah serius mengemudi. Binar matanya seolah-olah menunjukkan bahwa ia sangat senang dicintai oleh pria seperti Mario yang selalu memperlakukannya secara istimewa.


Meski ia belum bisa mencintai pria itu dengan sepenuh hati, setidaknya sekarang ia sudah menyadari bahwa Mario adalah pria yang tepat untuknya.


Ah, rasanya ia sangat terharu kali ini. Ia pikir Christian akan menjadi pria terakhir yang berhasil meluluhkan hatinya, ternyata salah. Tentu saja Mario itu lebih baik daripada Christian yang hanya datang sekadar untuk memanfaatkan dirinya.


"Jangan terus-terusan menatapku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta padaku."


Laura terlonjak dan refleks membuang wajahnya ke arah jendela mobil. Wajahnya seketika berubah merah. Bagaimana bisa ia tertangkap basah sedang menatap Mario. Sungguh memalukan.


"A-aku tidak menatapmu. Tolong jangan terlalu percaya diri, Mario!" sangkal Laura sedikit terbata-bata.


"Hm ... a-aku ... aku—Sudahlah, Mario. Jangan membahas itu. Fokus saja dengan kegiatan menyetirmu. Aku tidak ingin kita celaka karena kamu yang tidak fokus!" tukas Laura gugup.


Mario hanya terkekeh dan menuruti saja permintaan Laura. "Baiklah, Nona Laura. Saya pastikan Anda akan aman kali ini," kelakarnya seraya mengerlingkan sebelah mata. Namun, Laura hanya mencebikkan bibirnya seolah-olah tidak suka.


Mario kembali fokus dengan kegiatannya. Suasana hening pun seketika mendominasi. Hanya suara kendaraan lain yang kini mengiringi perjalanan mereka. Hingga tak terasa, mereka pun tiba di kediaman Christian.


Sebelum pergi ke makam Ana, Laura memang sengaja meminta Mario untuk mengantarnya ke rumah Christian terlebih dahulu. Setidaknya ia ingin menyampaikan ucapan bela sungkawa pada pria yang tak lain adalah ayah dari anaknya. Walau bagaimanapun, ia pernah memiliki hubungan sangat dekat dengan pria itu.


"Christian, aku turut berduka atas meninggalnya Anna. Maaf, aku tidak bisa datang ke acara pemakamannya," ucap Laura pada Christian yang duduk berseberangan dengannya. Ia tampak menunduk, seolah-olah tidak kuasa jika harus menatap Christian lebih lama.


Sementara itu, di samping Laura tampak Mario yang sedari tadi setia mendampinginya. Pria itu tidak banyak berbicara setelah bertemu dengan Christian. Hanya sesekali saja membuka suara. Tak lupa ia juga mengucapkan bela sungkawa atas kematian Ana.


"Tidak apa-apa, Laura. Terima kasih kamu sudah repot-repot datang kemari, padahal aku tahu kalau kondisimu masih belum benar-benar pulih," balas Christian tampak tersenyum canggung, tetapi tatapannya tidak bisa berbohong bahwa ia masih sangat sedih ditinggal oleh Ana secepat itu.


"Tidak apa-apa. Aku sudah membaik," lirih Laura tanpa bersedia mengangkat wajahnya, meski sekadar menatap Christian walau sejenak.


Rasanya berat sekali menatap pria itu. Walau bagaimanapun ia pernah merasakan sakit yang begitu dalam karena ulah Christian dan itu tidak akan dengan mudah dilupakan begitu saja.


Setidaknya, ia juga memahami bahwa kehadiran Christian dalam hidupnya bukan untuk dimiliki, tetapi sebatas memberikan pelajaran dan pengalaman berharga baginya.


Ia hari ini tidak ingin membahas putranya karena masih dalam suasana duka. Mencoba untuk mengerti bagaimana suasana hati Christian dan satu keluarga. Jadi, selama putranya tidak menangis dan rewel, sehingga membiarkan tinggal di rumah itu sampai ia pulih.

__ADS_1


'Ini adalah sebuah toleransi dariku kepada kalian karena aku bukanlah seorang wanita kejam yang tidak punya hati dengan membawa putraku di hari duka,' gumam Laura yang dari tadi mencoba untuk bersikap layaknya seorang wanita yang baik-baik saja, kini mendengar suara bariton dari sosok pria yang pernah menjadi pria paling penting dalam hidupnya.


"Aku minta maaf atas apa yang telah aku perbuat padamu, Laura," celetuk Christian seraya menatap Laura yang masih menundukkan kepala.


Melihat wanita itu berada di depannya, membuat ia mengingat kembali dosa yang pernah ia lakukan pada wanita itu. Sungguh ia sangat menyesal dan merasa bersalah.


Namun, nasi telah menjadi bubur. Hanya ucapan maaf yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahan itu dan selebihnya ia hanya perlu berubah menjadi lebih baik.


Ini memang bukan permintaan maaf yang pertama kali. Namun, tetap saja ia merasa masih belum terbebas dari rasa bersalah, meski Laura sudah memaafkannya.


Laura mengangkat wajahnya, menatap sayu wajah Christian. "Tidak perlu membahas itu lagi, Christian. Aku sudah memaafkanmu. Bahkan, kamu sudah berulang kali meminta maaf padaku. Kurasa itu sudah cukup," tuturnya tersenyum canggung.


'Aku memaafkan kesalahanmu, tapi bukan berarti merelakan putraku karena maaf dan rela adalah sebuah hal yang sangat berbeda,' gumam Laura yang saat ini tengah memikirkan tentang hal yang akan dilakukannya begitu beralih padanya.


"Ya, aku tahu." Christian mengangguk pelan sambil memaksakan senyumannya. Ia memang mengetahui bibir Laura memaafkannya, tapi tidak mungkin mengikhlaskan hak asuh putranya. Jadi, ia berpikir untuk bersiap ketika semua itu terjadi, harus kuat dan tetap berdiri tegak karena masih bisa menemui putranya meskipun tidak tinggal bersamanya.


Laura menghela napas lega, lalu menoleh ke arah Mario dan menampilkan senyum bahagia.


Sebagaimana Laura, Mario pun membalas dengan hal serupa. Tentu saja ia senang jika melihat kekasihnya tersenyum bahagia seperti itu.


"Apa aku boleh mendatangi makam Ana?" tanya Laura.


Mendapat pertanyaan itu, Christian langsung tersentak. Namun, dengan cepat ia bisa menormalkan kembali ekspresi wajahnya. "Ya, tentu saja. Apa aku harus mengantar?"


"Tidak perlu, Christian. Ada Mario yang akan mengantarku. Bukankah begitu?" jawab Laura, lalu menoleh kembali ke arah Mario, sekadar meminta persetujuan.


"Ya, tentu. Aku akan mengantar Laura ke makam istrimu. So, kamu tidak perlu repot-repot mengantarnya. Lagipula, aku tidak akan rela jika calon istriku pergi berdua dengan pria lain," timpal Mario yang berhasil mendapat cubitan dari Laura tepat di tangannya.


"Argh! Kenapa kamu mencubitku seperti itu?" protes Mario seraya menatap kesal Laura sambil mengusap tangan yang terasa seperti habis digigit semut.


"Tidak perlu sombong di depannya. Memalukan!" tukas Laura berbicara sangat pelan. Namun, tetap saja masih terdengar oleh Christian dan Mario.


"Loh, memangnya kenapa? Aku berbicara apa adanya. Memangnya apa yang salah?"


Christian sama sekali tidak menyangka bisa melihat pemandangan yang sangat aneh karena perubahan sikap Laura benar-benar drastis hari ini. Sikap manja Laura yang ditujukkan pada Mario membuatnya berpikir jika mereka sudah benar-benar makin dekat.


Namun, ia tidak ingin mengambil pusing masalah itu karena hanya ingin fokus pada acara sampai 7 hari di rumah. Ia kini menatap Laura dan Mario yang terlihat sangat intim.


"Ah, jadi kalian datang ke rumahku hanya untuk membuat keributan di sini?" celetuk Christian yang sukses mengalihkan perhatian Laura dan Mario.


"Kami—"


"Sudahlah! Aku tahu kalian sedang berbahagia. Kuucapkan selamat untuk kalian. Sekarang pergilah, aku ingin istirahat," pungkas Christian tidak memberi Laura dan Mario kesempatan untuk menyangkal.


"Baiklah, kami permisi."


Setelah berpamitan, Mario segera membawa Laura yang duduk di kursi roda meninggalkan rumah itu.


Karena jarak dari rumah Christian ke tempat pemakaman tidak terlalu jauh, Mario dan Laura pun tidak perlu menghabiskan waktu yang lama untuk sampai di sana.

__ADS_1


Kini keduanya telah berada di depan makam Ana. Laura masih tampak duduk di atas kursi roda, tepat di samping pusara Ana. Sementara Mario tampak berjongkok di sampingnya.


To be continued...


__ADS_2