
Beberapa saat lalu, Vicky yang baru saja membelikan makanan dan juga obat yang diminta bosnya, berniat untuk mengetuk pintu seperti yang dilakukan tadi, agar bosnya segera keluar.
Namun, ia tidak melakukannya begitu mendengar suara dari dalam ruangan yang menjelaskan jika Laura merasa ragu serta curiga pada sosok pria yang mengaku telah menjadi suami.
'Gawat ini jika dibiarkan!' gumam Vicky yang saat ini tengah memutar otak untuk masalah keraguan Laura, sehingga ia refleks mendapatkan sebuah ide dan tanpa membuang waktu langsung mengetuk pintu di hadapannya.
Setelah menunggu beberapa detik, lalu ia membuka serta melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah bos serta istri sirinya tersebut. Tentu saja ia tahu tatapan penuh kecurigaan dari wanita yang ada di atas ranjang perawatan tersebut.
"Selamat malam, Bos. Saya datang membawa pesanan Anda," sahut Vicky yang saat ini langsung memberikan kantong plastik di tangannya.
Sementara itu, Christian saat ini mengerutkan kening dan karena tadi asistennya mengatakan jika tidak ingin terlihat oleh Laura karena merasa tidak enak.
"Kau sudah kembali rupanya. Lebih baik kau pulang saja karena aku ingin berbicara empat mata dengan istriku." Christian yang merasa pusing, berpikir jika ia harus segera menyelesaikan kesalahpahaman dengan menjelaskan pada Laura.
__ADS_1
Hingga ia pun merasa lega begitu asisten pribadinya tersebut tiba-tiba memberikan sebuah kode padanya dan menjelaskan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan.
"Maafkan saya karena tadi saat masuk, mendengar tentang perkataan nona Laura, Tuan Christian." Akhirnya Vicky ingin membantu bosnya keluar dari masalah.
Bahkan ia bisa melihat sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut seperti tengah bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi.
"Apa kau adalah seorang penguntit? Hingga berani mendengarkan masalah pribadi orang lain!" sarkas Laura yang semakin bertambah kesal pada pria dengan tatapan dingin itu.
Sementara itu, Christian yang merasa jika akan diselamatkan oleh orang kepercayaannya, kini mulai memberikan sebuah anggukan kepala dan tidak memperdulikan kekesalan Laura.
Apalagi wajah sang istri siri benar-benar sangat masam dan seperti ingin memangsanya hidup-hidup. Hingga ia seketika mengerti apa maksud Vicky.
"Kenapa Anda menyembunyikan tentang fakta jika buku nikah ada di Bandung dan tidak membawanya karena buru-buru saat datang ke Jakarta?" tanya Vicky yang kini memberikan kode agar bosnya segera menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
'Aku akan langsung mengurus buku nikah palsu agar istri bos tidak lagi merasa curiga seperti itu,' gumam Vicky yang tadi memikirkan ide tersebut sebelum masuk ke dalam ruangan.
Laura yang saat ini menatap ke arah pria yang tidak diketahui siapa, kini langsung menyahut, "Siapa sebenarnya kamu? Benarkah buku nikah kami ada di Bandung?"
"Iya, Nona Laura. Pasti tuan Christian sangat terpukul karena mendapatkan sebuah kecurigaan dari istri sendiri. Meskipun itu adalah sebuah hal yang wajar karena Anda amnesia, tapi tuan Christian tetaplah manusia yang punya hati." Berhenti sejenak untuk melihat ekspresi wajah bosnya.
"Bukan robot tanpa perasaan." Kemudian menatap ke arah bosnya dan kemudian memberikan tatapan penuh ketenangan.
Christian hanya diam karena membiarkan asistennya mengambil alih suasana penuh ketegangan di antara ia dan sang istri yang selalu curiga padanya dan berpikir untuk membuat buku nikah palsu agar Laura tidak lagi berpikir macam-macam padanya.
'Karena menikahi Laura secara siri, jadi aku harus bertindak secepatnya agar Laura percaya sepenuhnya padaku.'
To be continued...
__ADS_1