
"Ini!" Kagami Jiro mulai meletakkan sekantong plastik besar yang berisi dengan pembalut kepada Yuna. Dia juga memberikan sebuah termos berukuran mini yang berisi teh peppermint yang masih hangat.
Yuna sedikit bingung melihat sebuah kantong yang berukuran cukup besar yang berisi dengan banyak barang yang baru saja Kagami Jiro bawakan untuknya itu.
"Apa ini?" tanya Yuna mengkerutkan keningnya menatap kantong hitam itu lalu mulai melihat isinya.
Sepasang mata Yuna mulai membulat sempurna karena melihat isi di dalamnya adalah pembalut. Yeap, semua itu adalah pembalut dengan berbagai macam jenis dan berbagai merk.
"Itu adalah barang yang kau butuhkan bukan?" ucap Kagami Jiro sambil mengusap tengkuknya dan menatap sisi lain karena sebenarnya saat ini Kagami Jiro masih begitu malu.
"I-iya ... memang benar aku sedang membutuhkannya. Tapi ... mengapa bisa sebanyak ini?" ucap Yuna yang sebenarnya merasa begitu kikuk.
Kedua anak manusia itu seketika menjadi begitu kikuk karena situasi saat ini. Antara malu, canggung, namun karena situasi yang menjadikan keadaan ini terjadi begitu saja, akhirnya terjadilah!
"Aku tidak tau harus membeli yang seperti apa dan berapa banyak. Jadi aku hampir mengambil semua stok benda itu di mini market. Pakailah seperlunya dan buang saja jika masih tersisa!" ucap Kagami Jiro dengan asal.
"Hhm? Tidak, aku bisa menyimpannya sebagian dan akan bisa dipakai kelak." jawab Yuna dengan begitu datar dan masih menatap seisi kantong itu
"Minumlah dulu untuk mengurangi rasa nyeri pada perutmu!" Kagami Jiro membuka termos itu dan menuangkan teh peppermint itu pada tutup termos itu lalu memberikannya untuknYuna.
Yuna menatap minuman itu dan bergantian menatap Kagami Jiro dengan perasaan segan yang bercampur dengan rasa malu.
"Hhm. Terima kasih." sahut Yuna dengan tulus dan menerima minuman berwarna kehijauan yang masih hangat itu lalu meneguknya.
Setelah menghabiskan minuman pada botol termos itu Yuna segera pamit untuk pergi le kamar mandi dan membawa sebuah pembalut bersamanya. Sementara Kagami Jiro masih menunggunya di pondok gazebo itu.
Baru pertama di dalam seumur hidupku aku melakukan hal konyol dan memalukan seperti ini! Semoga tidak ada yang melihatnya selain orang-orang itu! Sungguh memalukan sekali! Haishh ...
__ADS_1
Kagami Jiro menunduk dan memijit keningnya dan mulai menghembuskan napas kasarnya ke udara. Setelah beberapa saat akhirnya Yuna mulai kembali lagi, namun raut wajahnya terlihat sedikit aneh dan dia selalu menutupi sisi belakang badannya.
"Sudah?" tanya Kagami Jiro yang masih duduk di sebuah bangku.
"Hhm. Iya ... tapi bisakah kita pulang sekarang?"
"Pulang? Apa perutmu masih terasa sakit?"
"Uhm ... sedikit ..." ucap Yuna yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu dan masih berusaha untuk menutupi sisi tubuh bagian belakangnya agar Kagami Jiro tak melihatnya.
"Lalu? Mengapa harus pulang sekarang? Ini masih jam 4 Pm. Kita akan pulang setelah makan malam." ucap Kagami sambil melirik jam tangan super mewahnya yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
"Tap-tapi ... aku harus segera pulang, Tuan." ucap Yuna dengan wajah memelasnya.
"Kenapa? Apa ada yang sedang ingin kau lakukan?"
"Ya sudah kalau memang tidak ada. Kita akan pergi ke suatu tempat lagi."
"Tapi, Tuan. Aku sungguh tidak bisa."
"Mengapa? Apa kau sangat ingin makan malam bersama Jonathan?" tuduh Kagami Jiro mencurigai Yuna.
"Jonathan? Aku bahkan lupa akan hal itu ..." Yuna menggaruk pelipisnya dan mengkerutkan keningnya. "Sebenarnya bukan soal itu ... namun aku tak bisa menjelaskan kepada tuan."
"Apa kau ingin menemui seniormu itu?" celutuk Kagami Jiro mencurigai Yuna.
"Seniorku? Maksud tuan adalah senior Sky? Tentu saja tidak. Dia bahkan masih di New York untuk menyelesaikan kuliahnya." sahut Yuna seadanya.
__ADS_1
"Lalu?"
Yuna sudah merasa begitu tak nyaman dan masih terlihat menutupi sisi tubuh bagian belakangnya dan itu sungguh membuat Kagami Jiro begitu curiga dan menjadi semakin ingin tau.
"Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?" Kagami Jiro memicingkan sepasang mata kecoklatannya lalu mulai bangkit dari duduknya dan melenggang mendekati Yuna.
Yuna sedikit mundur dan menatap Kagami Jiro dengan waspada, "Tidak ada yang aku sembunyikan, Tuan."
"Tidak. Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku! Katakan padaku, apa yang sedang kau sembunyikan di belakang tubuhmu?"
Yuna menggeleng pelan dan masih menatap Kagami Jiro dengan penuh waspada.
"Tidak ada, Tuan."
"Jangan berusaha untuk membohongiku!" tandas Kagami Jiro akhirnya meraih dan mencengkeram lengan kanan Yuna dan sedikit memutar tubuh Yuna.
Yuna memejamkan sepasang matanya dan sudah bersiap untuk menebalkan wajahnya kali ini. Rasa malu, sedih, kesal, marah semua bercampur menjadi satu saat ini. Yeap, sebuah noda merah terlihat dengan cukup nyata pada celana berwarna sweet cream Yuna.
Meskipun sedikit tertutup oleh pakaian hangat Yuna yang berbulu, namun noda merah itu masih sangat terlihat. Dan tentu saja itu akan membuatnya begitu malu jika sampai terlihat oleh orang lain. Terlebih jika dia adalah seorang pria.
Yuna masih terlihat menggigit bibir bawahnya dan masih memperlihatkan ekspresi yang sama. Dan hal ini membuat Kagami Jiro merasa sedikit bersalah kepada Yuna, hingga akhirnya Kagami Jiro mulai melepaskan coat hitamnya dan mengikatkannya pada bagian pinggang Yuna.
Yuna yang mendapatkan perlakuan itu secara tiba-tiba dari seorang Kagami Jiro, merasa sedikit aneh dan hanya terdiam mematung saja menatap Kagami Jiro yang masih berusaha untuk mengikatkan coat itu pada pinggangnya.
Seorang pria yang terkenal dengan begitu kejam, berdarah dingin, berkarakter tegas dan sangar, namun tiba-tiba saja seketika terlihat menjadi begitu manis dan peduli seperti ini.
Apakah pria di hadapanku ini adalah benar-benar tuan Kagami Jiro yang selama ini aku dengar dari orang-orang? Mengapa begitu berbeda? Ternyata ada sisi lain yang tak diketahui oleh kebanyakan orang. Bahkan dia rela membeli pembalut untukku? Padahal pastinya itu akan sangat membuatnya begitu malu dan kehilangan harga dirinya dalam sekejap. Aku sungguh sangat merasa berdosa kepadanya karena selalu saja men-judge buruk tentangnya. Aku harus berterima kasih dan juga meminta maaf kepadanya! Namun ... tunggu dulu ... aku masih belum mengetahui hubungan dia dengan kak Siena! Hhm ... yasudah untuk saat ini, lebih baik ucapkan terima kasih saja kepadanya! Hhm ... ya! Tak ada salahnya untuk selalu berwaspada terhadap pria licik ini! Atau ... bisa saja ini memang sengaja dia lakukan untuk mendapatkan simpati dariku? Ahaha! Kau sangat pintar, Yuna! Mana mungkin seorang Kagami Jiro tulus melakukan semua itu! Kau sangat tau bukan jika dia adalah pemikat para gadis? Tak ada gadis yang akan bisa berpaling darinya! Tapi tidak untukku! Aku tidak akan semudah itu bisa masuk ke dalam perangkap manismu yang sebenarnya begitu busuk! Okay! Ucapkan terima kasih ala kadarnya saja!
__ADS_1
Batin Yuna bergejolak di dalam hatinya.