
"Huft, setidaknya akan aman jika aku mengajaknya bertemu di taman Yamashita yang ramai ini." gumam Yuna yang mulai menikmati pesona taman Yamashita di kala senja ini. Begitu memukau dan sangat indah.
Ditambah suasana Taman Yamashita sore ini begitu cerah sekali. Taman Yamashita adalah salah satu tempat paling terkenal di Yokohama. Ada banyak tempat wisata disini, seperti pemandangan yang menghadap ke laut dan kota Yokohama.
Taman ini juga mulai dipenuhi dengan bunga dan tanaman hijau yang mulai bersemi, dan jika malam tiba akan ada pertunjukan kembang api musim semi. Bahkan bukan hanya saat musim semi, kembang api akan menghiasi taman Yamashita. Di saat musim panas, taman Yamashita juga akan dipenuhi dengan kembang api saat perayaan.
Taman Yamashita menghadap ke Pelabuhan Yokohama, dan menawarkan pemandangan panorama kota dan Jembatan di sepanjang Teluk, serta kapal penumpang dan kargo yang begitu mewah.
Sore ini cuaca juga begitu cerah. Musim semi kali ini terasa begitu hangat dan memukau. Hembusan angin yang bertiup saat ini terasa begitu sejuk. Sesekali membuat beberapa helai rambut Yuna menari-nari di udara dengan indahnya.
Di tengah-tengah menikmati panorama yang begitu memukau ini, tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh seorang pria yang tiba-tiba melenggang dan sudah berdiri di hadapannya dengan gagahnya.
Dengan gaya santai seperti biasanya, pria dewasa itu berdiri tegap dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Yuna segera mendongak dan menatap pria itu.
"Ada sesuatu yang harus aku urus dulu tadi. Jadi aku sedikit terlambat." ucapnya dengan begitu santai dan memasang senyum tipis.
"Tidak masalah, Tuan. Menikmati keindahan taman Yamashita di senja hari tak membuatku merasa bosan karena menunggu terlalu lama kok." sahut Yuna tak kalah santai lalu mulai berdiri menghadap Kagami Jiro. "Tuan, Kagami Jiro. Aku mengajak tuan bertemu hari ini, karena aku ingin mengembalikan hadiah ini. Aku tidak bisa menerimanya, Tuan." ucap Yuna to the point sambil mengulurkan sebuah tote bag berwarna hitam.
Kagami Jiro mengerutkan sepasang alis tegasnya karena merasa begitu terkejut dan tak menyangka jika Yuna akan mengembalikan hadiah ponsel darinya.
"Aku tidak mau menerimanya kembali! Ponsel itu aku berikan untukmu! Dan bukankah ponselmu juga rusak malam itu?" tandas Kagami Jiro bersikeras tak mau menerima kembali hadiah itu.
"Ya. Ponselku memang rusak, Tuan. Dan itu bukanlah kesalahan tuan Kagami Jiro. Aku akan membeli sendiri saja setelah ini. Lagipula ponsel ini juga terlalu berlebihan jika dipakai oleh seorang mahasiswi sepertiku. Terima kasih banyak atas kemurahan hatinya, Tuan. Tapi aku menolaknya!" Yuna memberanikan diri untuk menarik tangan kiri Kagami Jiro dan memberikan tote bag hitam itu padanya.
Setelah itu Yuna membungkukkan badannya dan segera pamit, "Aku pergi, Tuan. Selamat sore." ujarnya lalu melenggang meninggalkan Kagami Jiro dengan langkahnya yang penuh percaya diri.
__ADS_1
"Eh, hei! Tunggu!" teriak Kagami Jiro berusaha untuk menahan Yuna, namun Yuna tak menghiraukannya sama sekali dan terus melenggang begitu saja.
Aku tidak mau berususan hal apapun lagi kepadamu! Hidupku hanya sekali dan hidupku sangat berharga! Berada di dekatmu hanya membuatku selalu ketakutan!!
Batin Yuna yang masih melangkahkan kaki dengan mantap lalu menghadang sebuah taxi berwarna kuning cerah.
"Pak, antar aku ke Queen's Square Mall!" perintah Yuna kepada sopir taxi itu.
"Baik, Nona." sahut sopir taxi itu segera bersiap untuk mengemudikan taxi itu.
Namun belum sempat taxi itu melaju, tiba-tiba saja ada sebuah mobil vann putih yang berhenti tepat di hadapan taxi itu dan menghalangi jalan taxi itu.
Segerombolan pria dengan pakaian jaz yang begitu rapi terlihat mulai turun dari mobil vann putih itu. Kemudian mereka mulai melenggang dan mengepung taxi kuning itu.
"Nona, bagaimana ini ... siapa mereka?" ujar sopir taxi itu begitu ketakutan.
"Buka dan keluar dari mobil sebelum aku menghancurkan mobil ini!" perintah salah satu dari mereka.
Akhirnya sopir taxi dan Yuna segera keluar dari taxi, dengan cepat dua orang preman segera menangkap Yuna.
"Apa yang kalian inginkan?! Dan siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini?!" tandas Yuna yang berusaha untuk melepaskan diri.
"Kau akan segera bertemu dengan bossku, Nona!" tandas salah satu preman itu lalu menyeret Yuna dan segera memasuki vann putih itu.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1
Di sebuah bangunan tua yang cukup besar, pengap dan panas. Sesekali terdengar suara putaran dari kipas angin yang tergantung di dinding dan menambah ruangan ini menjadi semakin panas dan pengap.
Di tengah-tengah ruangan, terlihat seorang gadis yang duduk terikat di atas sebuah kursi kayu. Mata dan mulutnya ditutup dengan menggunakan kain. Sementara di sekitarnya sudah ada beberapa pria yang masih selalu menjaganya.
Di bagian depan, terlihat seorang pria duduk di sebuah kursi putar dalam posisi menghadap dinding, dan membelakangi semua orang.
"Boss, gadis ini sudah sadar!" ucap salah satu dari mereka yang menyadari gadis yang tak lain adalah Yuna itu sudah mulai bergerak kembali.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, pria yang dipanggil boss itu memberikan isyarat agar salah satu anak buahnya mendekat. Lalu si boss mulai membisikinya sesuatu.
"Baik, Boss." sahut pria ber-jaz itu lalu mulai melakukan sesuai yang diperintahkan oleh sang boss.
Pria ber-jaz itu segera mendekati Yuna dan mulai membuka penutup mata serta penutup mulut Yuna. Yuna segera mengedarkan pandangannya dan melihat keadaan sekitar dengan kening yang berkerut.
"Kalian siapa? Dan apa tujuan kalian menangkapku?!" ujar Yuna yang terlihat begitu kesal.
"Bossku ingin bertemu denganmu, Nona." jawab pria yang membukakan penutup mata itu.
"Siapa boss kalian?! Aku tidak mengenal orang seperti kalian! Mungkin kalian salah tangkap! Sekarang lepaskan aku!"
"Hanya ada satu gadis bernama Inukai Yuna, yang baru saja menyelesaikan study-nya di Fashion Institute of Technology ( FIT ) di New York 6 bulan yang lalu. Dan sekarang gadis itu sedang melanjutkan study-nya di Tokyo Designer Gakkuin College."
Tiba-tiba pria yang duduk di sebuah kursi putar di depan itu bangkit dan mulai melenggang beberapa langkah. Keadaan yang begitu remang-remang tanpa ada lampu dan hanya mengandandalkan sinar dari luar ruangan, membuat wajah pria itu tak terlihat.
"Siapa kamu? Dan mengapa kamu menangkapku?" ucap Yuna yang masih berusaha untuk melihat wajah dari pria itu, namun Yuna tak bisa melihat wajahnya.
__ADS_1
Hanya sebuah siluet hitam saja yang terlihat di hadapannya yang berjarak kira-kira 10 meter darinya.