
Keempat pria bergengsi dan cukup bersinar itu mulai menikmati sarapan paginya bersama. Dan melihat dari cara mereka menyantap semua hidangan itu, bisa dipastikan jika makanan itu begitu lezat.
"Jadi ... dimana kita bisa menemui cecunguk gila itu?" tanya Kagami Jiro sambil memasukkan sesuap okonomiyaki yang sudah dipotongnya menjadi cukup kecil.
"Rie Fu bekerja sebagai salah satu keamanan di dalam Kasino Grand Lisboa, Tuan. Dia selalu bertugas pada malam hari. Sementara Samuel ... aku belum menemukan tempat tinggalnya, namun dia selalu datang ke Kasino Grand Lisboa di setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Dia akan selalu berjudi di malam-malam itu hingga dini hari." jawab Sean menghentikkan aktifitas makannya untuk sejenak ketika menjelaskan informasi itu kepadan Kagami Jiro.
"Hhm ... berarti malam ini si brengsek Samuel akan datang ke Kasino Grand Lisboa!" ucap Kagami Jiro menyimpulkan. "Wilson, tugasmu adalah berperang dalam beberapa permainan melawan Samuel. Kalahkan dia! Semakin dia sering kalah, maka dia akan semakin begitu berantusias untuk berusaha menang dari kamu. Disaat terburuknya dan dia tak bisa menerima kekalahannya, pasti dia akan berulah dan mulai memanggil anak buahnya. Setelah itu selesaikan mereka dalam sekejap! Terutama cecunguk Rie Fu itu!" titah Kagami Jiro masih dengan santai dan kembali menyantap sarapan paginya.
"Baik, Tuan." Wilson menyauti dengan tegas dan tersenyum tipis.
Beruntung sekali aku. Semenjak malam itu, tuan Kagami Jiro tidak pernah menyinggungku soal Yuna. Padahal aku sangat khawatir dan kebingungan jika sampai tuan Kagami Jiro meminta penjelasan dariku. Karena aku tak bermaksud buruk untuknya, atau bahkan merebutnya. Dan rasa sukaku kepada Yuna juga tak pernah aku rencanakan sebelumnya. Rasa suka itu datang dan tumbuh dengan tiba-tiba saja. Padahal selama ini begitu banyak gadis di luar yang begitu dekat denganku, namun aku tak pernah bisa menyukai mereka seperti aku menyukai Yuna seperti saat ini.
Batin Wilson sedikit melamun dan mengaduk-aduk teh ocha miliknya tanpa sadar.
"Wilson!" tiba-tiba terdengar suara yang sedikit menggelegar dan membuyarkan angan Wilson. "Setelah kita kembali ke Tokyo, ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" tandas Kagami Jiro masih dengan nada santai namun penuh dengan penekanan.
Nah lo ... baru juga Wilson merasa tenang, tiba-tiba saja Wilson dibuat ketar-ketir lagi karena ucapan Kagami Jiro.
"Wilson! Apa kau tidak mendengarkan ucapanku?!" ucap Kagami Jiro sedikit meninggikan nada bicaranya karena melihat Wilson sedikit kurang fokus.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Aku mendengarnya! Maaf ..." sahut Wilson dengan cepat dengan nada yang begitu rendah.
"Hhm. Okay! Setelah ini aku ingin berjalan-jalan sebentar untuk melihat-lihat tempat ini. Kalian juga berjalan-jalanlah jika bosan. Atau mau beristirahat juga tidak masalah. Kita akan bergerak bersama lagi nanti malam." ucap Kagami Jiro mulai mengakhiri sarapannya dengan meletakkan sepasang sumpitnya lalu mulai mengambil sebuah tisu untuk membersihkan sisa makanan pada mulutnya.
"Baik, Tuan." sahut Igor, Sean dan Wilson dengan patuh dan kompak.
Setelah membayar semuanya makanan itu, kini mereka mulai meninggalkan Edo Japanese Restaurant. Igor memutuskan untuk kembali ke kamarnya lagi karena akan menghubungi istrinya.
Sedangkan Sean dan Wilson pergi bersama ke tempat perbelanjaan dan ke Macau Fisherman’s Wharf untuk membeli beberapa barang entah untuk dipakai sendiri atau untuk oleh-oleh.
Sementara Kagami Jiro hanya berjalan-jalan saja tanpa tau harus menentukan tujuannya dan pergi kemana, karena semua yang berada di tempat ini sungguh begitu menakjubkan dan luar biasa! Perpaduan antara gaya Portugis, Barat, dan Asia sungguh memberikan kesan yang begitu wow untuk tempat ini.
Langkah Kagami Jiro akhirnya Kagami Jiro mulai berhenti saat dia menemukan sebuah obyek lain yang tak kalah menariknya, yaitu Ruin’s of St. Paul’s. Ruin's of St. Pauls's adalah reruntuhan bangunan yang merupakan bukti dari sejarah sejak abad 17 semasa pendudukan Portugis.
Pada tahun 2005, reruntuhan St. Paul secara resmi tertulis sebagai salah satu bagian dari UNESCO World Heritage Site Historic Centre of Macau. Wow!!
"Hello, Sir ..." tiba-tiba saja seorang gadis bule menghampiri dan menyapa Kagami Jiro dengan menggunakan bahasa Inggris. "Can you help me? ( Bisakah kau membantuku?)"
"Sure, what can i do for you, Miss? ( Tentu saja. Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Nona?)" balas Kagami Jiro menanggapi gadis bule itu dengan datar.
__ADS_1
"Can i borrow your phone to call someone, Sir? My phone was lose. ( Dapatkah saya meminjam ponsel anda untuk menghubungi seseorang, Tuan? Ponsel saya hilang.)". ucap gadis bule itu terlihat sedikit kebingungan.
Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Kagami Jiro mulai meminjamkan salah satu ponselnya untuk gadis bule itu.
"Sure ... ( Tentu saja ...)" ucap Kagami Jiro lalu memberikan ponsel cadangannya untuk gadis bule itu.
Karena Kagami Jiro tak akan dengan mudah membiarkan orang asing memiliki nomor ponsel utamanya. Tentu saja pria ini akan selalu berhati-hati dan berwaspada dalam hal ini.
"Thanks ..." gadis bule itu mulai menghubungi seseorang melalui ponsel Kagami Jiro.
Jika mendengar dari percakapannya, gadis itu sedang memiliki sebuah janji bertemu dengan temannya, namun tiba-tiba saja ponselnya hilang. Setelah beberapa saat, gadis bule itu mulai mengakhiri panggilan itu dan mengembalikan ponsel itu untuk Kagami Jiro.
"Thank you so much, Sir. You are so kind! May God repay your kindness. I have to go to Edo Japanese Restaurant right now. Bye ... ( Terima kasih banyak, Tuan. Anda sangat baik. Semoga Tuhan membalas kebaikan tuan. Aku harus pergi ke Edo Japanese Restaurant sekarang. Sampai jumpa.)" ucap gadis bule itu sambil melambaikan tangannya lalu meninggalkan Kagami Jiro begitu saja.
Namun tiba-tiba saja Kagami Jiro melihat gadis bule itu menjatuhkan sesuatu. Sebuah gelang berwarna silver dengan liontin hati yang begitu cantik.
"Wait ... ( Tunggu ...)!" Kagami Jiro berusaha untuk memanggil gadis bule itu kembali, namun dengan cepatnya gadis itu sudah menghilang dari pelupuk matanya.
"Haishh ... masa aku harus mengantarkan gelang ini untuknya?!" gumam Kagami Jiro terlihat begitu malas dan masih menimang-nimang gelang itu. "Bagaimana jika dia mencarinya? Bisa jadi gelang ini sangat berharga untuknya. Haishh ... sial!" celutuknya lagi dengan kesal.
__ADS_1
Namun akhirnya Kagami Jiro berniat untuk segera pergi ke Edo Japanese Restaurant untuk menemui gadis bule itu lagi. Sesuai dengan yang gadis itu katakan sebelum meninggalkan Kagami Jiro, jika dia harus segera pergi ke tempat itu untuk menemui temannya.