
Kagami Jiro menyusul Yuna yang saat ini sudah berlari menuju ke kamar mandi umum di dalam rumah besar Kagami. Dan rupanya Yuna sedang mual hingga seluruh makanan yang baru saja dimakannya sedikit saja itu kembali keluar begitu saja.
Kagami Jiro mulai menghampiri Yuna dan mengusap pelan tengkuk dan punggungnya. Dan sesekali Kagami Jiro juga membantu menyibak rambut Yuna di belakang telinganya.
"Sayang ... apa yang kamu rasakan saat ini? Apa perlu aku panggilkan dokter lagi?" tanya Kagami Jiro saat Yuna mulai berhenti mengeluarkan isi perutnya.
Kagami Jiro juga memberikan sebuah sapu tangan untuk Yuna untuk mengusap mulut Yuna yang masih basah karena baru saja Yuna mencucinya.
"Tidak perlu, Jiro. Hal seperti ini sudah sangat wajar kok. Aku hanya ingin beristirahat saja." ucap Yuna dan mulai berjalan pelan karena kepalanya mendadak juga menjadi berat dan pusing.
Kagami Jiro yang peka kini segera berinisiatif untuk segera menggendong depan Yuna untuk segera membawanya ke kamar mereka berdua.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." ucap Kagami Jiro lalu mulai membawa Yuna ke kamarnya.
"Hhm. Terima kasih ..." ucap Yuna begitu lirih dan menyandarkan kepalanya yang dirasa berat pada dada bidang Kagami Jiro.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini adalah tugasku sebagai seorang suami, Yuna."
"Hhm ..."
Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua sudah sampai di kamar dan seorang asisten rumah tangga juga datang untuk mengantarkan beberapa kue dan susu kehamilan untuk Yuna karena perut Yuna saat ini sudah kembali kosong. Dan yang memerintahkan asisten rumah tangga itu adalah Aiko.
"Makanlah sedikit saja, Yuna. Perutmu sudah kosong kembali saat ini. Makan sedikit agar tubuhmu memiliki sesikit tenaga." bujuk Kagami Jiro karena Yuna sama sekali tidak mau memakannya.
"Aku tidak bisa makan, Jiro. Mencium aromanya saja sudah membuatku mual kembali. Tolong singkirkan semua kue manis itu." ucap Yuna sambil menutup indera penciumannya dengan jemarinya sendiri.
"Ya sudah. Kalau begitu minum dan habiskan susunya saja. Aku akan membawa kue ini keluar." ucap Kagami Jiro mulai meraih segelas susu coklat dan memberikannya untuk Yuna.
__ADS_1
Lalu Kagami Jiro mulai meraih beberapa piring yang berisi dengan beberapa kue manis yang biasanya sangat disukai oleh Yuna. Namun kali ini tiba-tiba saja Yuna begitu tidak menyukainya.
Yuna menurut dan mulai menghabiskan susu coklat itu. Sementara Kagami Jiro sudah melenggang meninggalkan kamar besar itu.
"Wah wah ... tidak aku sangka kini aku bisa tidak menyukai kue-kue manis itu. Padahal selama ini aku sangat menyukainya." gumam Yuna pelan dan mulai meletakkan sebuah gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
Yuna mulai meraih ponselnya dan mulai mengutak-atiknya, hingga akhirnya menemukan sebuah panggilan masuk yang berasal dari senior Sky tadi pagi.
"Senior Sky? Menelpon tadi pagi? Tapi aku merasa tidak menerima panggilan dari siapapun tadi pagi. Apakah itu artinya Jiro yang mengangkatnya? Tapi mengapa Jiro tak mrngatakan apapun kepadaku? Apakah ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan senior Sky padaku? Apa aku harus menelponnya balik? Aku rasa iya ..." gumam Yuna lalu berniat untuk menghubungi senior Sky.
Namun panggilan itu segera diakhiri oleh Yuna karena Kagami Jiro sudah datang kembali ke kamar. Dan tentunya hal ini pastinya akan membuat Kagami Jiro sedikit tidak nyaman dan bahkan bisa marah kembali karena cemburu.
"Wah sudah habis ya susunya? Apa mau dibuatkan lagi? Jika masih mau, aku akan meminta asisten rumah untuk membuatkannya lagi, Sayang." ucap Kagami Jiro yang mulai naik di atas pembaringan dan duduk di sebelah Yuna.
"Tidak perlu. Ini sudah habis saja sudah mendingan kok. Takutnya aku akan merasa mual lagi."
"Hhm. Iya ..."
"Sudah mengantuk? Apa mau melakukan olahraga malam dulu?"
"Apa yang kamu katakan, Jiro? Sebaiknya jangan lakukan dulu selama hamil muda seperti ini ..." ucap Yuna tersipu malu dan sedikit mendorong tubuh Kagami Jiro yang sudah hampir kembali mau menyerangnya.
"Apa? Apa tidak boleh melakukannya?"
"Sebenarnya bukannya tidak boleh. Hanya saja aku takut ..."
"Apa yang kamu takutkan, Yuna? Kata dokter boleh kok asal melakukannya pelan-pelan dan halus."
__ADS_1
"Dokter mengatakannya kepadamu seperti itu?" ucap Yuna hampir saja tak percaya karena merasa Kagami Jiro begitu tidak malu untuk menanyakan hal seperti itu kepada orang lain, terlebih seorang dokter wanita.
"Ya. Dokter Lin mengatakannya padaku seperti itu. Asal kamu sedang sehat dan dalam keadaan mood maka itu tidak masalah. Dan tentunya harus dilakukan dengan pelan." ucap Kagami Jiro lagi semakin mendekati Yuna dan sudah berhasil mencium pipi kiri Yuna.
"Begitu ya ..."
"Hhm. Masa aku harus berpuasa dan menahannya selama 9 bulan, Yuna? Apa kamu tidak kasihan padaku? Aku ini pria dewasa yang normal. Dan tentu saja aku selalu membutuhkannya. Tidak mungkin aku mendapatkannya dari wanita lain bukan?" ucap Kagami Jiro lagi, dan kalimat paling akhir sedikit membuat Yuna kurang nyaman.
"Apa kamu ingin mencobanya dengan wanita lain?!" ucap Yuna dengan nada bicara yang terdengar sedikit kurang bersahabat.
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya ingin kamu saja kok. Jangan khawatir ... aku tak akan pernah melakukakannya." ucap Kagami Jiro semakin mendorong tubuha Yuna dan mulai mencium Yuna.
Namun baru saja beberapa detik ciuman itu terjadi, tiba-tiba ponsel Yuna mulai melantunkan sebuah lagu menandakan ada yang sedang menghubunginya.
Yuna sedikit mendorong tubuh Kagami Jiro agar ciuman itu terhenti. Dan Yuna juga berniat untuk menerima panggilan itu.
"Jangan diangkat! Biarkan saja! Ini sudah malam." ucap Kagami Jiro berusaha untuk kembali melanjutkannya lagi.
"Tapi bagaimana jika panggilan ini penting? Sebentar, Jiro ..." ucap Yuna mulai melihat ponselnya untuk melihat nama sang pemanggil yang rupanya adalah senior Sky.
Melihat nama si pemanggil di layar ponsel Yuna itu seketika membuat mood Kagami Jiro kembali memburuk dan auranya terlihat kembali menakutkan.
"Saat ini sedang pukul 9 PM di Jepang. Bukankah saat ini di London sedang menunjukkan pukul 1 PM. Apakah dia tidak mengetahui jika saat ini sudah begitu larut untuk menghubungi seorang wanita yang sudah menjadi istri dari orang lain?!Ataukah dia memang sengaja melakukannya untuk mengganggu kita, Yuna?" geram Kagami Jiro begitu menakutkan. "Jangan diangkat!!" tandasnya lagi dengan begitu tegas.
"Ba-baiklah. Aku tidak akan mengangkatnya." ucap Yuna kembali meletakkan ponsel itu di atas nakas. "Tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu, Jiro. Apakah tadi pagi kamu yang mengangkat panggilan dari senior Sky?"
"Ya. Itu adalah aku. Dan dia hanya ingin mengetahui kabarmu." jawab Kagami Jiro dengan asal. "Sekarang tidurlah! Aku juga akan tidur!" ucap Kagami Jiro mulai tidur dengan membelakangi Yuna, karena masih merasa sedikit kesal.
__ADS_1