Casanova In Love

Casanova In Love
Di Apartemen


__ADS_3

Kagami Jiro mulai duduk di sebuah kursi sofa, sementara Nana masih mengambil kotak P3K, hingga beberapa saat gadis bermata hazel itu kini kembali lagi dengan membawa kotak P3K putih berukuran kecil.


Nana duduk di sebelah Kagami Jiro dan mulai membuka kotak berukuran kecil itu. Kemudian dia mulai mengambil sebuah casa steril dan memberikan beberapa tetes alkohol.


"Kau sungguh sangat bersemangat untuk bertarung ya, Jiro. Dan semua itu sudah menjadi seperti makanan pokok dan wajib untukmu!" celutuk Nana sambil memberikan alkohol beberapa tetes di casa steril itu.


"Mereka yang mulai, Nana. Mana mungkin aku biarkan saja. Mereka harus diberi pelajaran. Kau sangat mengenalku dengan baik bukan?" sungut Kagami Jiro yang sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang.


"Hhm. Ya ya ya. Kau adalah pria pemberani yang tak pernah takut pada apapun. Dan kau juga.suka sekali untuk selalu saja membuat setiap gadis berdebar!" sungut Nana dengan kekehan kecilnya.


Perlahan Nana mulai mendekati dan menyibak rambut poni Kagami Jiro untuk membersihkan luka pada kening pemuda tampan bermata kecoklatan itu.


Kagami Jiro hanya diam dan membiarkan Nana melakukan semua itu, meski dia tau jika sebenarnya dia tidak sedang terluka.


"Oh ya? Benarkah itu, Nana? Apa kau juga berdebar saat berada di dekatku, Nana?" ucap Kagami Jiro dengan senyum manisnya menatap Nana.


"Hhm, tentu saja! Kalau aku tidak berdebar, berarti ada yang salah dengan diriku ..." jawab Nana tersenyum tipis dan masih fokus mengobati luka pada kening Kagami Jiro. Namun tiba-tiba dia menjadi sedikit terkejut.


"Ada apa, Nana? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Kagami Jiro kebingungan melihat gadis keturunan Spanyol-Jepang itu mengkerutkan keningnya.


"Ternyata memang tidak terluka." celutuk Nana yang terlihat sedikit cemberut.


"Kan aku sudah mengatakannya tadi. Kamu saja yang tidak percaya." ucap Kagami Jiro dengan senyum tipis. "Mereka tak akan bisa menyentuh dan melukaiku. Hanya aku yang bisa menyentuh dan melukai mereka!" ucap Kagami Jiro dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Hhm ..." raut wajah ayu itu masih saja terlihat cemberut dan kini hendak membersihkan sudut bibir Kagami Jiro yang juga sedikit berdarah.


Dan Nana juga semakin cemberut kali ini, "Ini juga tidak terluka. Jadi benar semua ini bukan darahmu, Jiro?"


"Kenapa? Apa kau menginginkan aku terluka, Nana? Sungguh jahat sekali kamu ya." celutuk Kagami Jiro pura-pura dan memasang wajah kesal.


"Bukan begitu, Jiro. Maksudku aku tidak enak padamu, karena kamu sudah memberitahuku jika kamu tidak terluka. Tapi aku malah ngotot dan tidak percaya padamu, Jiro."


"Hhm. Sudahlah. Tidak masalah, Nana. Sekarang mana hadiah untukku? Aku menagihnya sekarang!" celutuk Kagami Jiro dengan santai dan masih duduk bersandar ke belakang dengan kedua tangannya yang dibuka lebar-lebar.


"Hadiah?" Nana mengkerutkan keningnya dan terlihat sedang berpikir.


"Jangan bilang kau melupakannya, Nana. Huft ..." sungut Kagami Jiro memasang wajah sedikit kecewa.


Tapi tiba-tiba ada beberapa helai rambutnya yang panjang ada yang tersangkut pada kancing pakaian Kagami Jiro sehingga membuatnya tertahan dan malah sedikit menimpa tubuh Kagami Jiro yang sedikit bersandar di sofa masih dengan kedua tangannya yang terbuka. Dan reflek, Nana mempergunakan dada bidang kagami Jiro sebagai tumpuan untuk kedua tangannya.


Keduanya saling bertatapan dan saling terkesima satu sama lain selama beberapa saat. Seakan keduanya saling tersihir oleh pesona dari masing-masing.


Bagaimana tidak? Gadis mana ketika dihadapkan dengan seorang pemuda yang begitu sempurna tampan, mempesona, memiliki postur tubuh yang kuat dan kekar, ahli bela diri, genius luar biasa, serta kaya raya dan merupakan pemimpin dari sekelompok Yakuza terbesar seperti Kagami Jiro, gadis mana yang akan bisa berpaling dari pesonanya yang begitu luar biasa?


Sementara gadis bernama Nana Fukada? Yeap, seorang gadis yang memiliki pesona luar biasa, setiap pemuda yang melihatnya tak akan mampu untuk berpaling darinya. Gadis itu seakan memiliki sebuah magnet ajaib yang akan memikat para pria. Dia gadis yang begitu cantik, stylish, manis, bahkan dia dinobatkan sebagai model dan penyanyi yang cukup berkelas saat ini.


"Oh ... maaf, Jiro." ucap Nana yang berusaha untuk melepaskan rambutnya yang tersangkut itu.

__ADS_1


Sementara sepasang netra kecoklatan milik pemuda tampan itu masih menatap lekat Nana yang masih berusaha untuk melepaskan rambutnya yang tersangkut.


"Nana ..." ucapan yang begitu pelan dan lembut seketika membuat Nana menjadi sedikit berdebar dan merasa gugup.


Bahkan Nana langsung terdiam dan mulai menatap Kagami Jiro yang kini hanya berjarak beberapa inchi saja darinya. Keduanya seakan tersihir oleh pesona yang terpancar dari masing-masing, dan membuat keduanya terbuai untuk sesaat.


Namun, Nana segera berpaling dan berusaha untuk melepaskan rambutnya kembali. Setelah beberapa saat akhirnya Nana berhasil melepaskan rambutnya yang tersangkut, kemudian Nana berniat bangkit dan berdiri.


Namun sepertinya takdir seakan sedang ingin bermain-main bersama mereka, kini gelang silver berkilauan yang melingkar manis pada pergelangan tangan kiri gadis cantik bermata hazel itu tersangkut pada kancinh pakaian Kagami Jiro tepat pada sisi dadanya.


Seketika tubuh Nana terjatuh kembali di atasnya dan menimpa tubuh Kagami Jiro. Pandangan mereka kembali bertaut dan menyapa hangat satu sama lain kembali. Senyuman menawan mulai tersembul dari pemuda tampan itu, sementara Nana hanya mematung menatap Kagami Jiro dengan wajah yang seakan sudah tersihir.


"Sepertinya takdir sedang ingin bermain-main bersama kita, Nana ..." Kagami Jiro tersenyum begitu menawan dan mulai membelai lembut beberapa helai rambut gadis cantik itu yang menutupi sebagian wajah bagian depannya dengan jemarinya.


"Oh ya? Kalau begitu ayo kita lakukan!" tantang Nana mulai mengusap dan melonggarkan dasi yang sedang Kagami Jiro kenakan.


Mendengar ucapan dari gadis cantik bermata hazel itu seakan mendapatkan sebuah lampu hijau untuk Kagami Jiro. Senyuman menawan itu semakin terukir dengan jelas menghiasi wajah tampannya.


"Baiklah ... siapa takut!" ucap Kagami Jiro lalu meraih pinggang ramping di atasnya dan semakin menariknya agar menjadi semakin dekat dengannya.


Kedua jemari lentik itu masih tertahankan pada dada bidang Kagami Jiro, sementara wajah keduanya sudah semakin berdekatan dan napas hangat dari keduanya mulai berbaur menjadi satu.


Sebuah kecupan lembut akhirnya terjadi dengan posisi Nana yang masih di atas tubuh Kagami Jiro. Begitu hangat dan lembut keduanya saling membalas kecupan itu. Hingga akhirnya perlahan tangan kanan Kagami Jiro mulai meraih tengkuk Nana, untuk memperdalam ciuman itu.

__ADS_1


__ADS_2