
Penggalan part saat Kagami Jiro menjemput Yuna malam itu di butiknya, tepatnya di ruang produksi Yuna's Fashion.
"Kita pulang yuk!" ajak Kagami Jiro menunduk dan menatap hangat Yuna dengan senyum manisnya.
Yuna mengangguk pelan dan tersenyum manis namun terlihat sudah cukup lelah, "Ayo ..."
"Tapi ... setelah ini dulu ya ..." ucap Kagami Jiro dengan senyum nakalnya dan mulai mendekati wajah ayu Yuna.
"Setelah apa?" tanya Yuna, dan kali ini Yuna sedikit membuka sepasang matanya lebih lebar dan berwaspada menatap Kagami Jiro, namun semua indranya tak berusaha untuk menolak atau menghentikkan Kagami Jiro.
"Setelah yang ini ..." kini Kagami Jiro semakin menunduk dan memiringkan kepalanya mendekati wajah Yuna.
Yuna hanya terdiam dan tak berusaha untuk menghentikkan Kagami Jiro, namun sepasang matanya masih terbuka cukup lebar. Hingga akhirnya kini ujung hidung Kagami Jiro mulai menyentuh pipi halus Yuna.
Namun tiba-tiba saja ada suara sesuatu yang membuat Yuna merasa begitu malu, dan tentunya membuat Kagami Jiro mulai menghentikan niatnya.
KRUYUKKK ...
Wajah putih Yuna seketika menjadi begitu merah karena saking malunya, hingga akhirnya Yuna lebih memilih untuk menunduk saja untuk menghindari tatapan dari Kagami Jiro.
"Kamu belum makan, Yuna?" tanya Kagami Jiro bertanya dengan begitu lembut.
Yuna menggeleng pelan dan masih menunduk karena masih merasa begitu malu.
"Kalau begitu ayo kita makan dulu! Kamu mau makan apa malam ini?" tanya Kagami Jiro menawari Yuna dengan manis.
"Uhm ... terserah kamu saja. Aku bisa memakan apapun kok." ucap Yuna masih begitu lirih karena sebenarnya Yuna masih merasa cukup malu dengan Kagami Jiro.
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo kita berangkat." kini Kagami Jiro mulai menggandeng Yuna dan menuntunnya hingga akhirnya mereka berdua mulai meninggalkan gedung butik itu.
Buggati Divo hitam metalik itu mulai melaju dan meninggalkan butik milik Yuna. Jalanan kota Tokyo malam ini mulai dilalui oleh mobil berwarna hitam ini dengan kecepatan laju standar. Karena Kagami Jiro audah cukup hafal, jika Yuna tidak menyukai mengendarai sebuah mobil dengan kecepatan yang sangat kencang.
"Kapan kamu terakhir kamu makan, Yuna? Mengapa kamu terlihat begitu tak bertenaga seperti ini?" tanya Kagami Jiro memecah keheningan saat di dalam mobil.
"Tadi pagi. Dan itupun hanya sempat memakan sebuah roti panggang." ucap Yuna dengan jujur.
"Lain kali makanlah dengan benar sesibuk apapun kamu. Jagalah kesehatan dan juga lambungmu." ucap Kagami Jiro sedikit melirik Yuna dan terlihat begitu khawatir.
Namun tiba-tiba saja Kagami mulai menepikan mobilnya sedikit dan wajahnya terlihat sedang menahan sakit hingga mulai terlihat sedikit pucat dan mengeluarkan keringat dingin dari pelipisnya.
Tangan kanannya masih memegang kemudi, sementara tangan kirinya mulai memegangi perutnya.
"Apa yang terjadi? Kamu kenapa? Apa kamu sedang sakit?" ucap Yuna mulai terlihat begitu khawatir.
Kagami Jiro tidak menjawab pertanyaan dari Yuna, dia masih saja memegangi perutnya dan sedikit menunduk.
"Aku tidak apa-apa." jawab Kagami Jiro berusaha untuk duduk dengan tegap kembali. "Belilah sesuatu dan bungkus di restoran di depan. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu makan malam, Yuna. Maafkan aku ..." imbuh Kagami Jiro terlihat begitu menyesal dan masih memegangi perutnya.
"Ti-tidak masalah. Aku bisa makan di rumah saja. Tapi kamu ... apa yang terjadi dengan perutmu? Apa kamu memiliki riwayat sakit lambung?" ucap Yuna berusaha untuk menerka-nerka.
"Ya, sudah penyakit lama. Ini bukan masalah besar." ucap Kagami Jiro berusaha untuk tetap bersikap baik-baik saja.
Yuna menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan dan mulai menatap Kagami Jiro dengan ekspresi bak seorang guru yang seakan sudah cukup kesal karena melihat siswanya yang bertingkah bandel dan membangkang.
"Kamu saja tidak menjaga pola makanmu dengan benar. Lalu malah memarahiku seperti tadi. Huft ..." sungut Yuna merasa sedikit kesal.
__ADS_1
Kagami Jiro tidak menjawab pertanyaan dari Yuna dan malah kembali sedikit meringkuk menahan rasa sakit yang semakin dirasakannya.
"Apakah ini saat yang tepat untukmu marah-marah padaku, Yuna?" ucap Kagami Jiro semakin memelankan suaranya karena menahan rasa sakit lambungnya saat ini yang semakin dia rasakan.
Bahkan kini Kagami Jiro sudah menunduk hingga menyandarkan kepalanya di atas setir mobilnya.
"Oh maafkan aku. Ayo, aku antar ke rumah sakit!!" ucap Yuna yang masih memegangi lengan Kagami Jiro.
"Apa kamu bisa menyetir, Yuna?" ucapan dari Kagami Jiro sudah terdengar semakin lirih, hinga pria itu memejamkan matanya.
"A-aku sedikit bisa menyetir." ucap Yuna yang terdengar begitu ragu-ragu dan tersenyum mencurigakan.
"Baiklah, tolong antarkan aku ke apartemenku. Apakah kamu bisa, Yuna?" suara itu semakin terdengar lirih di indera pendengaran Yuna, hingga membuat Yuna tak tega saat melihat Kagami Jiro sedang kesakitan seperti itu.
"Ke apartemen? Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit saja?" ucap Yuna mulai membantu Kagami Jiro untuk duduk dengan tegap dan sedikit maju untuk mereka bertukar tempat duduk, karena kali ini Yuna yang akan menyetir.
"Tidak, di apartemenku ada obat yang sudah diracik seorang dokter dan khusus dibuat untukku. Setelah meminum obat itu, maka aku akan baik-baik saja."
"Uhm. Baiklah ... kamu istirahat saja. Aku akan menyetir dan berusaha untuk secepat mungkin segera sampai di apartemenmu." ucap Yuna mulai menghidupkan mesin dari mobil mewah kesayangan Kagami Jiro ini.
Sebenarnya selama ini tak seorangpun diijinkan untuk menyentuh dan mengendarai mobil kesayangan milik Kagami Jiro ini. Dan ini adalah pertama kalinya seseorang mengemudikan mobil pribadinya selain Kagami Jiro.
Yuna mulai mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kini Yuna mulai mengemudikan mobil itu dengan sangat hati-hati, namun sebenarnya Yuna merasa cukup tegang kali ini. Karena sebenarnya Yuna masih hanya beberapa kali saja mengemudikan sebuah mobil.
Bahkan kali ini Yuna terlihat beberapa kali melakukan pengereman secara mendadak dan membuat tubuh Kagami Jiro dan Yuna tersentak ke depan.
"Yuna, apa kamu masih menyimpan dendam padaku dan mengingikan kematianku?" ucap Kagami Jiro yang baru saja membenarkan posisi duduknya kembali dan kembali bersandar di sandaran kursinya. "Apa kamu ingin menjadi seorang janda?" imbuh Kagami Jiro semakin berbicara ngelantur.
__ADS_1
"Jangan bercanda. Mana bisa dikatakan janda, sedangkan kita saja belum menikah?!" sungut Yuna yang masih berkonsentrasi sepenuhnya saat mengemudikan Buggati Divo itu. "Dan aku juga tidak menginginkan kematianmu ... jika memang aku menginginkannya, maka aku sudah meninggalkan kamu saat itu juga ... saat kamu tak sadarkan diri, saat para preman menculikku malam itu."
Hening ... tak ada jawaban lagi dari Kagami Jiro, dan tentu saja hal ini sangat membuat khawatir Yuna.