
"Bibi, Tante. Pakaian ini sangat cocok untukku bukan? Yuna sungguh sangat berbakat dan memiliki tangan yang begitu ajaib sehingga bisa membuat karya indah seperti ini!" ucap Kagami Jiro dengan cepat.
Nah loh ... kini kedua orang tua Yuna semakin meleleh karena Kagami Jiro memuji putrinya. Sikap manisnya tentu juga akan membuat meleleh semua orang, kecuali Yuna.
"Sangat cocok." sahut ibu Yuna begitu bersemangat. "Ibu tidak menyangka kalau kalian sudah sedekat ini." ibu Yuna menatap Yuna dan Kagami Jiro secara bergantian.
"Kami tidak dekat, Ibu!"/ "Sangat dekat sekali, Bibi."
Yuna dan Kagami Jiro mengucapkannya secara bersamaan. Dan hal itu terdengar begitu lucu untuk Kagami Jiro.
Kedua orang tua Yuna terdiam dan hanya tersenyum tipis, namun mereka segera menahannya kembali karena khawatir Yuna akan semakin kesal jika melihat kedua orang tuanya malah membela seorang pria asing yang baru saja dikenalnya.
Sementara Wilson merasa sedikit murung karena melihat semua ini. Dan Jonathan juga terlihat sedikit kesal, karena selama ini Yuna selalu bercerita buruk tentang Kagami Jiro.
"Hhm. Baiklah. Mari kita menikmati makan malamnya terlebih dahulu." ucap ayah Yuna mencairkan suasana kembali.
"Banyak dan begitu menggoda. Pasti sangat lezat. Aromanya juga begitu menggoda." Kagami Jiro menatap semua makanan yang sudah disiapkan di atas meja.
Ada ramen, takoyaki, tempura, korokke kani cream, Korokke Kani Cream, beef teriyaki, kari ayam jepang, fluffy okonomiyaki, yakittori, rice bowl ayam teriyaki, chicken katsu, dan uramaki sushi.
"Harum sekali, Bibi!" Jonathan juga mencium aroma gurih dan manis di hadapannya itu.
"Hhm. Baiklah. Mari dimakan. Dan makanlah sepuasnya." ibu Yuna menyauti dengan begitu ramah dan mulai menyiapkan sebuah rice bowl dengan ayam teriyaki sebagai pelengkapnya untuk suaminya. "Silakan, Sayang."
"Hhm. Terima kasih." sahut ayah Yuna dengan seulas senyum menatap istrinya.
Wilson mulai mengambil sebuah potongan fluffy okonomiyaki. Sedangkan Jonathan juga mulai mengambil satu tusuk yakittori.
"Yuna. Bisakah kau memberikan takoyaki yang ada di hadapanmu itu untukku?" ucap Kagami Jiro meminta tolong, karena kebetulan sekali salah satu makanan faforitnya sedang berada di hadapan Yuna.
Yuna yang baru saja mau memasukkan sesuap beef teriyaki ke dalam mulutnya harus menghentikkannya karena harus memberikan takoyaki itu terlebih dulu untuk Kagami Jiro. Meskipun kesal, namun dia tak bisa melawannya dan hanya menurutinya saja.
__ADS_1
"Silakan, Tuan." ucapnya dengan senyum yang terlihat begitu terpaksa saat menyodorkan sepiring besar berisikan takoyaki itu.
Kagami Jiro tersenyum lebar menatap Yuna dan mulai menerima takoyaki itu, "Terima kasih."
Mereka mulai menikmati makan malam bersama dan sesekali melakukan beberapa perbincangan ringan.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba saja Kagami Jiro mulai meminta ijin untuk memakai kamar mandi mereka.
"Paman, bibi. Aku mau permisi ke toilet sebentar. Dimana toilet disini ya?" ucap Kagami Jiro menatap mereka secara bergantian.
"Ada di sebelah tangga naik, dan berada di ruangan paling ujung." jelas ibu Yuna.
"Yuna, tolong antarkan dulu tuan muda Kagami Jiro!" titah ayah Yuna menatap putrinya yang bahkan belum menyelesaikan makan malamnya.
"Baik, Ayah." Yuna mulai meletakkan sumpitnya di atas meja dan segera bangkit lalu mulai melenggang meninggalkan ruangan makan.
Sedangkan Kagami Jiro mulai mengekorinya di belakangnya. Setelah berjalan beberapa bersama dan melewari beberapa ruangan, akhirnya Yuna mulai berhenti.
"Eh, tunggu dulu!" sergah Kagami Jiro menghalangi Yuna.
"Ada apa lagi, Tuan? Di dalam sudah lengkap semua. Ada handuk, tisu basah, tisu kering, sabun cuci tangan. Apa ada yang tuan butuhkan lagi saat ini?"
"Mengapa kau tidak menungguku sebentar? Bagaimana jika aku tersesat nanti?"
Mendengar ucapan Kagami Jiro yang terdengar cukup konyol untuk Yuna, kini Yuna mulai tertawa renyah.
"Apartemenku ini kecil, Tuan. Bagaimana mungkin tuan Kagami Jiro bisa tersesat disini? Kecuali jika tuan meninggalkanku sendirian di rumah besar keluarga Kagami. Sudah pasti aku akan tersesat." sungut Yuna.
"Maka aku tak akan meninggalkanmu sendirian." ucap Kagami Jiro dengan reflek tanpa sadar. Bahkan ucapannya terdengar begitu lembut dan manis.
"Apa?!" Yuna mengkerutkan keningnya karena merasa tak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar dari Kagami Jiro.
__ADS_1
Kagami Jiro memejamkan matanya dan sedikit memijit keningnya. "Tidak, Yuna. Tapi darimana kamu tau jika kediaman keluarga besar Kagami begitu besar?" ucap Kagami Jiro yang seketika bisa membalikkan keadaan yang membuat Yuna malu, karena diam-diam Yuna juga mencari info tentang Kagami Jiro.
"Itu ... itu ... sebenarnya itu hanya perkiraanku saja. Karena kediaman di daerah Danenchofu pastinya begitu besar dan mewah. Opps ..." dengan cepat Yuna membungkam mulutnya dengan kedua jemarinya.
Lagi-lagi Kagami Jiro tersenyum begitu menawan dan merasa gemas dengan Yuna, "Kau bahkan juga tau, jika keluarga besarku tinggal di Danenchofu, Yuna? Hmpptt ..." Kagami Jiro menutupi senyumannya dengan punggung telapak tangan kanannya dan sebenarnya dia begitu merasa bahagia.
Namun tak mungkin Kagami Jiro memperlihatkan secara terang-terangan di hadapan Yuna. Atau presentasi tingkat kerennya akan menurun drastis ( itu menurut dia loh!).
"Apa lagi yang kau tau tentangku?" Kagami Jiro berjalan tiga langkah mendekati Yuna, sementara Yuna juga berjalan mundur hingga akhirnya berhenti karena sudah mentok di menabrak dinding di belakangnya.
Kagami Jiro mengangkat tangan kirinya ke udara dan mendaratkannya di dinding tepat di sebelah Yuna.
"Katakan padaku. Apa lagi yang kau tau tentangku?" suara itu terdengar begitu pelan dan setengah berbisik.
"Tidak ada ... aku tidak tau apa-apa." ucap Yuna masih begitu waspada menatap sepasang mata dengan pupil kecoklatan itu.
"Kau yakin?"
Yuna hanya mengangguk pelan tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
"Huftt ... ya sudah. Aku akan ke kamar mandi dulu." kini Kagami Jiro mulai mundur kembali dan melenggang meninggalkan Yuna lalu memasuki kamar mandi itu.
Sementara Yuna terlihat mulai mengatur napasnya kembali, karena daritadi dia sangat tidak leluasa untuk melakukannya. Seakan Kagami Jiro selalu saja mengawasi dan membatasi gerak geriknya.
Akhirnya Yuna memutuskan untuk meninggalkan Kagami Jiro dan segera bergabung bersama dengan yang lainnya di ruang makan.
Setelah beberapa saat akhirnya Kagami Jiro mulai keluar dari kamar mandi dna melihat sekelilingnya.
"Gadis itu benar-benar sudah meninggalkanku ya ..." gumamnya pelan lalu berniat untuk segera kembali bergabung bersama yang lainnya.
Namun tiba-tiba saja langkah Kagami Jiro berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Ruangan yang terlihat begitu rapi, harum dan dipenuhi dengam nuansa putih. Karena begitu penasaran, akhirnya Kagami Jiro mulai memasuki ruangan itu.
__ADS_1