
Di sebuah ruangan kerja asisten presiden direktur di Ruby Shine, terlihat seorang pria yang masih cukup muda sedang memeriksa beberapa berkas laporan perusahaan tersebut.
Namun, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka begitu saja tanpa ada ketukan atau sebuah kata permisi terlebih dulu.
CEKKLLEEKK ...
Seorang wanita paruh baya mulai melenggang memasuki ruangan itu dengan senyum lebarnya.
"Ibu ..." pria itu tersenyum hangat menyambut wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya itu.
"Jiro, Sayang. Akhirnya kamu datang setelah beberapa hari tidak datang ke Ruby Shine." wanita yang tak lain adalah ibu dari Kagami Jiro ini kini duduk di seberang meja kerja Kagami Jiro.
"Iya, Ibu. Karena akhir-akhir ini aku sibuk dengan Doragonshadou, Ibu." jawab Kagami Jiro seadanya.
"Hhm. Meskipun begitu jangan lupa untuk mencari menantu untuk ibu. Karena saat ini umurmu sudah cukup, Jiro sayang." ucap Aiko menggoda putra pertamanya itu.
Kagami Jiro tersenyum tipis mendengar ucapan dari sang ibu.
"Doakan saja anakmu yang tampan ini segera bisa menakhlukkan hatinya ibu." sahut Kagami Jiro denygan kekehannya. "Lagipula umurku masih 29 tahun, Ibu. Masih ada waktu sebenarnya."
"Wah ... wah ... apa ini maksudnya? Apakah itu berarti sudah ada seorang gadis yang membuatmu jatuh cinta, Sayang?" seketika Aiko terlihat begitu antusias setelah mendengar ucapan dari putra pertamanya yang saat ini terlihat begitu berseri-seri.
"Aku akan mengenalkannya kepada ibu suatu saat. Doakan saja kali ini aku bisa mendapatkan hatinya ibu."
__ADS_1
Aiko mengernyitkan keningnya mendengar ucapan dari putra sulungnya. Karena selama ini tak pernah terjadi di dalam sejarah kehidupan seorang Kagami Jiro hal seperti itu.
Selama ini cukup banyak gadis dengan berbagai kriteria yang menyukai putra pertamanya, dan Kagami Jiro hanya tinggal memilihnya saja mau memilih yang mana.
Namun baru saja Aiko mendengarkan jika seolah-olah saat ini Kagami Jiro-lah yang sedang memperjuangkan seorang gadis. Dan tentu saja itu membuat Aiko sangat penasaran. Gadis seperti apa yang bisa membuat putra pertamanya jatuh cinta sehingga rela menurunkan egonya untuk berjuang dan berusaha meraih dan mendapatkan sang gadis.
"Ahh ... Jiro, Sayang. Rasanya ibu sangat tidak sabar menunggu hingga waktu itu tiba. Gadis seperti apa dia, Sayang? Apa dia cantik? Dan seperti apa orangnya?" tanya Aiko begitu antusias dan menatap lekat Kagami Jiro dengan senyuman yang begitu hangat.
Kagami Jiro memutar bola matanya dan berusaha untuk mengingat Yuna untuk menceritakan sedikit kepada sang ibu.
"Dia gadis yang sangat berbeda, Ibu. Dia cantik, baik dan tegas. Dia juga pandai bela diri. Dan dia adalah satu-satunya gadis yang bisa berkata blak-blakan di hadapanku. Ucapan pedas bahkan dilontarkan dengan mudahnya untukku saat pertama mengenalnya." ucap Kagami Jiro mulai membayangkan pertemuan pertamanya kembali dengan Yuna dan seketika membuatnya tertawa kecil.
"Apa? Kamu menyukai gadis yang seperti itu? Gadis yang kasar?" celutuk Aiko dengan senyum dan harapan yang seketika memudar saat Kagami Jiro menceritakan sedikit tentang Yuna.
Aiko tertawa kecil melihat putra sulungnya yang terlihat begitu antusias terhadap gadis itu.
"Oh iya, satu lagi ibu ... apakah ibu ingat dengan kejadian yang terjadi 3 tahun yang lalu? Seorang gadis yang terluka karena tertabrak karena berusaha untuk menyelamatkan Christal saat itu?"
Aiko memutar bola matanya dan mulai berusaha untuk mengingat sesuatu. Setelah beberapa saat wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik itu mulai menjawab pertanyaan dari putra bungsunya.
"Iya. Ibu ingat, Sayang. Bagaimana?"
"Gadis yang menyelamatkan Christal saat itu adalah kakak kandung dari gadis yang saat ini aku suka, Ibu. Dan ... dia adalah putri kedua dari tuan Inukai Hyuga. Salah satu karyawan ibu disini yang sekarang menjadi ketua dari divisi marketing." ucap Kagami Jiro menjelaskan.
__ADS_1
Aiko mengkerutkan keningnya dan terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Itu artinya kamu baru saja mengenal gadis itu, Sayang? Karena tuan Inukai Hyuga baru saja kembali dari New York dan kembali ke Jepang. Dan dia baru masuk ke perusahaan Ruby Shine sekitar 5 bulan yang lalu." tutur Aiko.
"Benar, Ibu. Aku bahkan baru bertemu dengannya kembali saat pesta perayaan ke-7 Tatsuya. Dan rupanya gadia itu adalah keponakan dari temanku Tatsuya." ucap Kagami Jiro yang membuat Aiko kembali mengkerutkan keningnya.
"Sayang? Gadis itu adalah keponakan dari dari temannu Tatsuya? Lalu berapa umur gadis itu? Jangan katakan kalau kamu menyukai seorang gadis di bawah umur, Jiro!" celutuk Aiko dengan raut wajah yang begitu serius.
Kagami Jiro terkekeh mendengar ucapan dari sang ibu karena merasa begitu lucu dan konyol, "Tidak, Ibu. Dia adalah seorang gadis yang baru menyelesaikan kuliahnya di FIT. Dan sekarang sedang melanjutkan kuliah S2 di Tokyo." ucap Kagami Jiro menceritakan lalu melirik jam tangan super mewahnya yang melingkar dengan manis di pergelangan tangan kirinya. "Sudahlah, Ibu. Menceritakan tentangnya membuatku teringat, jika saat ini aku sudah ada janji dengannya. Aku akan pergi dulu, Ibu." Kagami Jiro mulai menyimpan kembali beberapa berkas di dalam laci mejanya lalu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri sang ibu.
Kagami Jiro sedikit menunduk di belakang ibunya yang masih duduk di sebuah kursi dan melingkarkan kedua tangannya pada leher sang ibu. Kecupan hangat dia berikan untuk pipi sang ibu yang masih tergolong sehat dan cantik itu.
"Baiklah ... hati-hati, Sayang." ucap Aiko mengusap sisi kanan wajah Kagami Jiro dengan hangat.
"Baik, Ibu."
Kini Kagami Jiro mulai melenggang meninggalkan ruangan kerjanya dan segera meninggalkan perusahaan Ruby Shine milik sang ibu. Langkah kakinya yang begitu lebar dan tegas dan mulai membawanya menuju basement untuk mengambil mobil kesayangannya.
Setelah memasuki mobil hitam kesayangannya itu, Kagami Jiro segera mengenakan sabuk pengaman dan lekas menyalakan mesin mobil itu. Namun belum sempat Kagami Jiro melajukan mobilnya, tiba-tiba saja ada sebuah panggilan pada ponselnya.
Kagami Jiro mulai meraih benda pipih itu dan melihat nama si pemanggil. Sudut-sudut bibirnya mulai ditarik dan mulai membentuk sebuah senyuman manis. Bagaimana tidak bahagia saat mengetahui bahwa si penelpon adalah Yuna.
Dengan wajah yang masih berseri, Kagami Jiro mulai mengangangkat panggilan itu. Namun betapa terkejutnya Kagami Jiro ketika mendengar suara di seberang adalah suara seorang pria. Seketika senyuman yang terlukis indah pada wajah tampannya membeku dan dalam hitungan detik berubah menjadi amarah dan kekesalan.
__ADS_1