Casanova In Love

Casanova In Love
Penyamaran Death Eyes


__ADS_3

Beberapa orang rekanan dari Doragonshadou kini sudah kembali ke markas Doragonshadou klan Nagano setelah melakukan tugasnya dalam menyingkirkan tikus peledak itu. Sekitar 45 orang mereka mulai memasuki gerbang utama satu persatu.


Tak ada rasa curiga sedikirpun untuk penjaga gerbang itu, karena para rekanan penyamar dari Death eyes itu juga begitu mengetahui tentang Doragonshadou, bahkan kata sandi rahasia ketika mereka mulai memasuki markas kembali.


Dengan jumlah rekanan yang cukup banyak, dari klan Doragobshadou yang mencapai 1000 klan, membuat hampir beberapa dari mereka tak mengenal satu sama lain. Mereka hanya memakai salah satu tato sebagai ciri khas mereka.


Yeap, sebuah tanda kecil di sebuah tato naga pada bagian sayapnya. Jika detail saat melihatnya, maka akan ketahuan dan para rekanan dasar itu akan segera diketahui.


"Nice Job, Dude! Hama dari tikus bom sudah berhasil kalian selesaikan dengan begitu baik. Ini bonus dari tuan Kagami Jiro untuk kalian!" ucap seorang pria sambil menyerahkan masing-masing sebuah amplop kecoklatan untuk para rekanan itu yang berjumlah 45 orang.


Setelah itu mereka segera berniat untuk kembali ke suatu ruangan bersama untuk beristirahat, namun tiba-tiba saja seorang pria menghadang jalan mereka dan menahannya.


"Tunggu dulu!" pria itu mulai menatap tajam 45 rekanan itu yang masih lengkap dengan mengenakan masker kainnya yang bercorak army satu persatu, lalu berjalan sedikit untuk mengamati rekanan yang berada di belakang.


"Mengapa hanya ada 45 orang? Dimana yang lain?" selidik pria itu kembali yang tak lain adalah Shota, pemimpin klan Nagano.


Ternyata dia menghitung rekanan klan Nagano yang baru saja kembali untuk menjalankan misi dadakan itu. Shota masih menatap tajam para rekanan itu, untuk menunggu jawaban dari mereka.


"Sebagian dari kami sudah gugur dalam menjalankan misi, Tuan. Bom tikus itu meledak sebelum sampai di jurang dan mengenai mereka." jelas salah satu rekanan itu.


"Lalu dimana jenazah mereka?" selidik Shota yang masih begitu tak puas mendengarkan jawaban dari anak buahnya itu.


"Kami sudah menguburnya disana, Tuan."


"Mengubur?"


"Ya, Tuan. Karena terkena bom dan hancur, maka kita menguburnya di sana."


Shota masih memicingkan sepasang matanya menatap para rekanan itu secara bergantian. Namun tiba-tiba seorang pria datang mendekat dan segera membisiki sesuatu kepada Shota.


Seakan mendapatkan berita besar yang begitu luar biasa! Seketika wajah Shota berubah menjadi lebih serius, dan sepasang matanya juga sedikit membelalak dalam seketika.


Kini Shota kembali menatap ke-45 rekanannya dengan lebih tajam, dan sepertinya Shota sudah mengetahui sesuatu saat ini.


"Sebenarnya siapa kalian?" kalimat pertanyaan yang dilontarkan oleh Shota, spontan membuat 45 rekanan itu sedikit berwaspada dan menjadi gelagapan. "Katakan padaku! Siapa kalian?!" ucap Shota lagi sengan suaranya yang begitu menggelegar dan menggema di ruangan ini.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan dari Shota, kini ke-45 orang itu segera melakukan sesuatu dan mulai mengaktifkan berniat untuk mengaktifkan sesuatu.


Namun dengan cepat para sniper, pemimpin klan wilayah lain, dan juga Kagami Jiro mulai menembaki kepala para penyusup itu sebelum mereka mengaktifkan bom bunuh diri lagi. Yeap, bom bunuh diri akan selalu menjadi pilihan paling akhir untuk mereka, jika aksi mereka mulai tercium oleh anggota Doragonshadou.


Satu persatu dari mereka mulai ambruk di atas lantai sebelum mereka berhasil menyentuh dan mengaktifkan bom bunuh diri itu.


Kagami Jiro yang sedang berada di mulai menuruni tangga demi tangga untuk mencapai lantai dasar. Sepasang netranya menatap tajam para penyusup yang sudah terkapar tak berdaya seperti sampah yang sudah berserakan itu.


"Death eyes ....selalu saja!!" geram Kagami Jiro yang terlihat begitu menakutkan.


"Mengapa mereka dengan bodohnya melakukan ini semua untuk para berandalan Death Eyes? Sunggu memuakkan!" ujar Shota yang tak kalah emosi.


"Apalagi kalau bukan iming-iming uang! Mereka pasti akan merekrut orang-orang yang mahir ilmu beladiri ataupun tidak sekalipun, dan yang pasti orang-orang itu begitu membutuhkan uang!" sahut Hiruma yang sudah berada di belakan Kagami Jiro.


"Yang tidak aku mengerti mengapa kita sama sekali tak bisa menemukan mereka?" imbuh Toda.


"Yeap. Mereka sangat transparan dan begitu sulit untuk ditemukan." ucap Afito.


Beberapa orang kini mulai datang dengan membawa tandu untuk mengurus jenazah para penyusup itu.


"Apa tuan sedang tidak sehat? Apakah harus aku panggilkan dokter, Tuan Jiro?" ucap Igor yang terlihat begitu khawatir melihat Kagami Jiro yang tiba-tiba saja menghindari acara minum bersama di club.


"Tidak, Igor! Aku baik-baik saja!" tandas Kagami Jiro yang mulai membuka pintu kamarnya.


"Apa tuan Jiro yakin?" tanya Igor lagi yang masih terlihat begitu khawatir.


"Ya! Siapkan saja besok untuk persiapan kita kembali ke Tokyo!" perintah Kagami Jiro yang mulai terlihat kesal melihat Igor.


"Kita kembali ke Tokyo besok, Tuan?" tanya Igor lagi seolah tidak yakin dengan apa yang sudah dia dengar.


"Ya! Mengapa malam ini kau begitu cerewet, Igor? Apa kau mau aku potong lagi gajimu?!"


"Tid-tidak, Tuan Jiro."


"Jalankan saja semua perintahku jika kau masih mau bekerja untukku!" tandas Kagami Jiro mulai kesal dan mulai memasuki kamarnya.

__ADS_1


BRRAAKK ...


Pintu itu ditutupnya dengan begitu kuat, sehingga membuat Igor sedikit tersentak.


"Huft ... padahal aku hanya mengkhawatirkan tuan Jiro saja." gumam Igor pelan.


Tiba-tiba saja pintu kamar Kagami Jiro terbuka kembali dan Kagami Jiro mulai menyembulkan kepalanya, dan itu membuat Igor sedikit terkejut.


"Dimana ponsel baruku?!"


"Sudah aku siapkan di atas nakas, Tuan." jawab Igor dengan cepat.


BRRAAKK ...


Dengan cepat Kagami Jiro segera menutup pintu kamarnya lagi dengan begitu kuat. Dan lagi-lagi itu membuat Igor sedikit terkejut lalu menghela napas.


Sementara itu ...


Kagami Jiro mulai duduk di atas pembaringan lalu meraih ponselnya. Dengan cepat dia menghubungi seseorang.


Tut ... tut ... tut ...


"Selamat malam, Tuan Jiro." sapa seorang pria dari seberang line.


"Ya. Bagaimana dengan klan Kyoto, Montaro?"


"Masih aman, Tuan. Tidak ada penyerangan seperti yang dikabarkan melalui surat elektronik itu." jelas pria bernama Montaro itu.


"Hhm. Sepertinya memang untuk mengecoh ya. Ya sudah. Tetap selalu waspada dan selalu siaga! Mereka sangat licik! Bahkan mereka juga memiliki senjata rahasia tikus bom seperti kita." ucap Kagami Jiro mengusap rambutnya ke belakang.


"Baik, Tuan Jiro! Dipahami!" sahut Montaro dengan begitu tegas.


"Hhm ..." Kagami Jiro mulai mengakhiri panggilan itu dan mulai menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.


Kini Kagami Jiro mulai merebahkan dirinya di atas pembaringan dan segera memejamkan matanya, "Aku rindu Tokyo ..." gumamnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2