
Udara pagi hari di Tokyo masih begitu dingin. Namun seberapa dinginnya suhu kali ini, tak mematahkan sedikitpun semangat seorang pria dewasa yang kini mulai mengendarai Buggati Divo kesayangannya untuk menuju suatu tempat.
Bahkan rasa lelah karena dia baru saja tiba di Tokyo setelah melakukan sebuah pejalanan dari Nagano, seakan lenyap begitu saja. Lelahnya sirna setelah pria tampan itu menginjakkan kakinya di Tokyo.
Wajah tampannya terlihat begitu berseri, dan begitu bersemangat. Aroma tubuhnya sudah begitu harum dan sangat rapi. Sesekali dia berkaca dan melihat wajahnya sendiri yang selalu dihiasi oleh seulas senyum. Dan sesekali dia juga berkaca untuk merapikan pakaiannya yang sebenarnya sudah begitu rapi.
CCKKIITT ...
Sebuah pendaratan yang cukup ekstrim namun sangat keren dan cukup gesit, baru saja dilakukan oleh pria tampan itu di depan sebuah butik yang masih dipenuhi dengan karangan bunga di depan gedung butik itu.
Terlihat sebuah sepatu kulit hitam mengkilap mulai dipijakkannya setelah meninggalkan Buggati Divo hitam metalik itu. Dengan langkah lebar yang begitu gagah dan penuh percaya diri, pria itu mulai melenggang untu memasuki gedung butik itu.
"Selamat datang, Tuan." sambutan penuh kehormatan mulai dilakukan oleh beberapa staff yang sudah dilaluinya dengan membungkukkan badannya ketika Kagami Jiro melaluinya.
Sedangkan pria itu terus melenggang masih diiringi dengan senyum manisnya yang masih terlukis indah menghiasi wajah tampan nan tegas itu.
"Panggil bos kalian kemari!" perintah pria yang tak lain adalah Kagami Jiro itu lalu mulai menghempaskan dirinya dan duduk di sebuah sofa berwarna cream lembut.
Kagami Jiro mulai duduk dengan gaya santai andalannya. Kedua tangan dibuka lebar dan dibentangkannya bertumpu pada sandaran sofa. Sedangkan kaki kanannya diangkat dengan kaki kiri sebagai tumpuannya. Pandangannya terlihat begitu arogan dan dingin, meskipun senyuman itu masih selalu menghiasi wajahnya.
"Baik, Tuan Kagami Jiro." salah satu staff itu menyauti dan sedikit membungkukkan badannya lalu mulai melenggang meninggalkan Kagami Jiro.
Kagami Jiro masih duduk dan mengawasi sekitarnya. Begitu banyak jenis gaun mendominasi butik ini yang dipakaian pada beberapa patung manekin maupun di gantung pada beberapa hanger dan dibalut dengan sebuah plastik tebal berwarna bening.
Gaun-gaun itu terlihat begitu memukau dan menawan, ditambah dengan interior butik yang di desain dengan begitu unik dan elegan. Menjadikan perpaduan diantara keduanya menjadi begitu sempurna.
Tak hanya gaun, ada juga beberapa setelan jaz, kemeja, maupun blazer hasil karya dari Yuna yang dipasang pada beberapa patung manekin dan juga ada yang digantung di hanger berwarna putih.
__ADS_1
Terlihat juga beberapa gaun indah pada beberapa patung manekin yang dipajang di beberapa tempat secara bertingkat seperti sebuah rak gaun yang berukuran cukup besar. Ada juga yang dipajang melingkar di atas sebuah tempat yang hampir menyerupai sebuah panggung bertingkat yang memiliki diameter kira-kira 3 meter.
Ada juga beberapa gaun yang dipajang secara khusus dan terpisah dengan gaun lainnya, menandakan jika gaun itu begitu spesial dan berbeda dengan gaun-gaun lainnya.
Hhm ... jika diperhatikan lumayan juga karya-karya dari tangan ajaib gadis bermulut pedas itu. Sangat sesuai dan cukup keren, karena Yuna memang alumni dari FIT.
Batin Kagami Jiro yang masih mengamati beberapa gaun dari kejauhan dengan senyum tipisnya. Saking asyiknya dia mengawasi sekitar, kedatangan dari seseorang yang sedang dia nantikan tak disadarinya dengan cukup baik.
"Selamat pagi, Tuan Kagami Jiro." sapa seorang gadis yang mengenakan sebuah blazer berwarna broken white dipadankan dengan pakaian hangatnya yang berwarna broken white juga.
Rambut pendeknya diikat ke belakang dan hanya menyisakan beberapa helai saja pada sisi sampingnya. Gadis berwajah cantik nan tegas itu juga mengenakan sebuah topi hangat berwarna senada dengan pakaian hangatnya.
Dia terlihat begitu manis dan tak membosankan bagi siapa saja yang melihatnya. Bahkan seorang Kagami Jiro hingga dibuat begitu terpana ketika melihat kecantikannya yang begitu alami itu hingga membuatnya terdiam cukup lama seakan tersihir olehnya begitu saja.
Sungguh!! Cantik sekali! Aku bahkan tak bisa berpaling untuk tak melihatnya. Semakin hari mengapa terlihat semakin begitu cantik saja? Apa karena aku yang sudah lama tidak melihatnya?
"Hallo, Tuan Kagami Jiro!" gadis yang tak lain adalah Yuna itu mulai melambaikan tangan kanannya di hadapan Kagami Jiro. "Apa tuan Kagami Jiro mendengarku?" imbuhnya membuyarkan angan dari Kagami Jiro.
"Oh ... ya! Ah ... kamu sudah datang rupanya!" sahut Kagami Jiro dengan cukup cepat dan sedikit salah tingkah karena terlihat dan kepergok sedang memperhatikan Yuna di hadapan beberapa staff Yuna's Fashion.
"Ya, Tuan. Tapi maaf, aku belum menyelesaikan kemeja dan jaz milik tuan Kagami Jiro." ucap Yuna meminta maaf dengan tulus. "Karena dalam pekan ini begitu banyak yang harus aku selesaikan. Tapi aku akan berusaha untuk segera menyelesaikannya dalam pekan depan, Tuan." imbuh Yuna berharap kali ini Kagami Jiro tidak memperpanjang dan mempersulitnya kali ini.
"Hhm. Aku akan menunggu. Tapi kamu harus menyelesaikannya di depan! Apa kamu tau? Aku sudah bersusah payah datang ke butikmu, bahkan aku baru saja pulang dari Nagano dini hari tadi. Tapi kau malah mengecewakanku!" sungut Kagami Jiro yang mulai memperlihatkan ketidaksukaannya.
Yuna mulai menghela napas dan berusaha untuk tetap bersikap profesional, "Maaf, Tuan. Seharusnya tuan menghububungiku terlebih dahulu, jadi waktu tuan tidak akan terbuang dengan sia-sia seperti ini."
"Aku sudah menghubungimu namun kau tidak membalas pesanku sama sekali! Coba sekarang jelaskan padaku! Siapa yang bersalah atas semua ini?!" ucap Kagami Jiro yang mulai terlihat begitu kesal, dan sebenarnya ini hanyalah akting belaka.
__ADS_1
"Pesan? Tuan mengirimiku sebuah pesan?" Yuna mengkerutkan keningnya dan mencoba mengingat-ingat sesuatu. "Oh, maafkan aku, Tuan. Aku tidak menyangka jika tuan Kagami Jiro akan kembali dari Nagano secepat ini. Padahal baru 3 hari tuan meninggalkan Tokyo." imbuh Yuna yang terlihat begitu menyesal.
Oh ... benar juga ya. Aku bahkan baru 3 hari berada di Nagano! Namun rasanya aku sudah begitu lama berada disana. Ini aneh sekali!
Batin Kagami Jiro yang begitu bingung dengan dirinya sendiri.
"Baiklah! Karena ini akhir pekan, maka kamu harus menepati janjimu padaku!" ucap Kagami Jiro lalu mulai bangkit dari temlat duduknya dan berjalan mendekati Yuna.
"Janji?" lagi-lagi Yuna mengkerutkan keningnya menatap pria di hadapannya itu.
"Yeap! Bukankah kita sudah membuat janji di akhir pekan? Sekarang cepat bersiap untuk menepati janji itu padaku!"
"Tap-tapi ... aku masih ada sebuah pertemuan dengan seorang pelanggan." sergah Yuna.
"Aku akan menunggu disini hingga kau menyelesaikan pertemuan itu!" ucap Kagami Jiro lalu duduk kembali di sofa itu.
"Baiklah." ucap Yuna tak ada pilihan lain. "Mayu, tolong layani tuan Kagami Jiro dengan baik saat aku tak ada. Aku hanya akan menemui seorang pelanggan sebentar." ucap Yuna kepada Mayu, asistennya yang kebetulan masih berada disebelahnya.
"Baik, Nona Yuna." sahut Mayu dengan patuh.
Yuna mulai meninggalkan tempat itu dan melenggang dengan begitu anggunnya.
"Buatkan aku Americano coffe!" perintah Kagami Jiro kepada Mayu.
"Baik, Tuan." sahut Mayu lalu bergegas meninggalkan Kagami Jiro.
Kini Kagami Jiro mulai meraih benda pipihnya dan terlihat sedang menghubungi seseorang.
__ADS_1