
Sinar mentari mulai menyapu dan menyapa dunia dengan hangatnya. Seperti kehangatan keluarga besar keluarga Kagami di pagi hari ini. Mereka melakukan sarapan pagi bersama sebelum kesibukan memisahkan mereka dengan rutinitas masing-masing.
Sebenarnya bukan hanya pagi hari ini saja keluarga besar Kagami terlihat begitu hangat dan harmonis. Namun keseharian mereka saat di rumah dan berkumpul bersama memang selalu hangat dan harmonis.
"Ibu, berangkat bersama denganku saja. Hari ini aku juga akan pergi ke Rubby Shine kok." ucap Kagami Jiro sambil menikmati sarapan paginya.
"Iya, Sayang." sahut Aiko sambil mengambil secangkir teh ocha hangatnya dan mulai meneguknya.
"Lalu bagaimana denganku? Aku juga ingin sekali-kali diantar kak Jiro!" sungut Christal dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kakak akan mengantarmu, Christal. Karena arah sekolahan kamu sama dengan arah kampus kakak." sahut Yosuke yang juga terlihat sangat menikmati menu pagi hari ini.
"Hhm. Kalian semua berangkat bersama-sama. Hanya papa yang berangkat seorang diri ya. Hhm ..." Kagami Gumi mulai menggerutu karena putra, putrinya, maupun istrinya sudah memiliki partner berangkat sendiri-sendiri.
Aiko, Kagami Jiro, Yosuke dan Christal mulai tertawa kecil karena mendengar sang papa yang mulai menggerutu karena hanya dia yang tidak memiliki partner.
"Jiro, jadi hari ini kamu tidak akan datang di markas utama Doragonshadou? " tanya Kagami Gumi yang mulai menyudahi makannya dan mulai membersihkan sisa makanan pada mulutnya dengan selembar tisu.
"Sepertinya tidak, Papa. Aku akan full time berada di Rubby Shine hari ini. Dan sorenya akan melakukan fitting baju pernikahan bersama dengan Yuna." Kagami Jiro menyauti dan juga mulai menyudahi makannya dan mulai mengambil Americano coffe miliknya yang setiap pagi sudah menjadi sebuah minuman wajib yang harus disiapkan untuk Kagami Jiro.
"Cie yang mau menikah ..." Yosuke mulai menggoda Kagami Jiro dan tertawa kecil. "Kak Jiro, sebaiknya kurangi porsi makanmu. Nanti kalau jaz pengantinnya kekecilan repot lo." lagi-lagi Yosuke teryawa renyah.
"Benar sekali adikmu, Jiro. Bukan hanya para gadis saja yang menjaga pola makannya menjelang hari pernikahan. Karena khawatir gaun maupun setelan jaz yang akan kalian kenakan akan longgar atau malah tidak muat." ucap Aiko menyetujui ucapan dari Yosuke.
"Wah ... aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu sebelumnya lo, Ibu." sahut Kagami Jiro seadanya.
"Lihatlah tubuhmu 3 tahun yang lalu sama yang sekarng saja sudah sangat berbeda. Mana muat lagi pakaianmu saat itu jika kamu kenakan lagi saat ini." celutuk Aiko mulai menatap tubuh Kagami Jiro yang sekarang sudah semakin besar dan kekar. Bahkan bench press-nya saja sudah hampir 200k kg. Kuat sekali!
__ADS_1
"Ibu, pernikahanku hanya tinggal bulan depan saja kok. Tidak ada genap 30 hari malahan. Jadi masih bisa diatasi dong." sahut Kagami Jiro tak mau kalah.
"Sayang. Kamu ini tipe yang mudah naik berat badannya seperti papa kamu. Hanya karena kamu rajin bermain gym dan latihan otot lainnya makanya kamu tidak terlalu terlihat. Karena semua menjadi otot dan sebagian terbakar kembali." timpal Aiko juga tak mau kalah.
"Sudah ... sudah ... sebaiknya kalian segera berangkat. Jalanan Tokyo selalu macet saat pagi hari. Nanti kalian bisa terlambat." ucap Kagami Gumi mulai menengahi mereka.
Akhirnya mereka semua menyudahi sarapan pagi dan mulai berangkat bersama partner masing-masing, kecuali Kagami Gumi yang berangkat seorang diri.
...⚜⚜⚜...
"Ibu ..." Kagami Jiro yang masih menyetir sesekali melirik Aiko yang duduk di sebelahnya.
Wanita itu sudah cukup tua, namun masih terlihat cantik dan dia adalah wanita yang sangat disayangi oleh Kagami Jiro. Bahkan Kagami Jiro dan Kagami Gumi sering memperebutkan Aiko disaat mereka sedang bermain bersama. Dan saat itu belum ada Christal.
"Ada apa, Putraku sayang?" jawab Aiko sedikit melirik Kagami Jiro dan berkata dengan nada seolah sedang menghibur seorang anak kecil.
"Oh masalah itu ya. Bukan masalah besar kok." jawab Aiko dengan santai, "Sebenarnya ibu hanya ingin sedikit bercerita kepadamu."
"Cerita soal apa, Ibu?" tanya Kagami Jiro sedikit penasaran.
"Saat itu Bai Mei mengatakan mau menarik semua sahamnya. Namu tiba-tiba saja dia tidak jadi melakukan semua itu. Ini aneh sekali. Padahal ibu sudah sangat pasrah saat itu." ucap Aiko mulai bercerita dan masih terlihat begitu kebingungan.
Kagami Jiro yang mendengar ucapan dari sang ibu mulai tersenyum tipis. Karena Kagami Jiro-lah yang berada di belakang semua itu, hingga sukses membuat Bai Mei menuruti permintaan dari Kagami Jiro.
"Bagus dong jika seperti itu, Ibu. Berarti semua aman dan terkendali." sahut Kagami Jiro masih tersenyum tipis menatap jalanan lurus di depan.
"Iya. Memang bagus. Tapi bukankah menurutmu ini sangat aneh, Sayang? Padahal sebelumnya mereka sangat ..." ucap Aiko tidak melanjutkan kembali ucapannya karena sebenarnya Aiko tidak menginginkan Kagami Jiro untuk mengetahui permintaan dan penawaran dari Bai Mei saat itu yang meminta Aiko untuk membatalkan pernikahan antara Kagami Jiro dan Yuna.
__ADS_1
"Sebelumnya mereka kenapa, Ibu?" tanya Kagami Jiro dengan nada jenaka.
"Hhm? Tidak kok. Tidak ada apa-apa. Hanya saja ibu masih sangat tidak menyangkanya. Seorang Bai Mei yang begitu arogan tidak akan mudah untuk merubah keputusan dan kemauannya. Namun kali ini, sikapnya ini bukan seperti seorang Bai Mei." gumam Aiko mulai bersandar pada sandaran kursinya yang empuk.
"Sudahlah, Ibu. Tidak usah memikirkan hal itu lagi. Lebih baik ibu berbahagia karena sebentar lagi aku akan segera menikah. Dan keinginan ibu untuk mendapatkan cucu kembar mungkin saja akan terkabul. Semoga saja sih. Hehe ..." celutuk Kagami Jiro mulai tertawa kecil.
"Pasti lucu sekali ya. Aduh ... rasanya ibu sudah tidak sabar sekali, Jiro. Semoga saja ibu masih memiliki umur yang panjang dan bisa menimang cucu-cucu ibu." ucap Aiko penuh harap sambil menautkan kedua jemarinya sendiri dan menggenggamnya.
"Iya, makanya ibu harus selalu sehat ya ..." ucap Kagami Jiro yang terdengar begitu hangat.
"Iya, Sayang. Terima kasih ya. Oh iya, Jiro. Tolong tanyakan kepada Yuna. Dia lebih menyukai pesta pernikahan indoor apa outdoor? Lalu tanyakan juga padany, dia ingin berbulan madu kemana? Kami akan menyiapkan semuanya. Jadi setelah pesta pernikahan, kalian akan segera beristirahat dan berbulan madu selama 2 pekan." ucap Aiko yang terlihat begitu bersemangat.
"Apa, Ibu? Dua pekan? Kurang banyak itu, Ibu! Kami akan berbulan madu selama 1 bulan!" ucap Kagami Jiro dengan asal dan seenak jidatnya sendiri.
"Apa? Satu bulan? Tidak, Sayang. Bagaimana mungkin kamu meninggalkan pekerjaan selama itu. Tidak bisa! Ibu hanya mengijinkan 2 pekan saja. Dan pilihlah negara manapun yang kalian suka." ucap Aiko dengan tegas.
"Ya sudah ... 3 pekan ya, Ibuku yang cantik. Coba bayangkan saja jika saat bulan madu ternyata Yuna sedang kedatangan tamu. Sudah berkurang lagi waktu untukku bersamanya, Ibu. Kasihanilah putramu ini, Ibu." rengek Kagami Jiro berharap sang ibu akan memberikan ijin untuknya.
Namun bukannya menyetujui permintaan dari Kagami Jiro, Yuna malah menjewer telinga Kagami Jiro begitu saja.
"Aww ... ibu sakit. Mengapa malah menjewerku seperti ini?"
"Kamu Jiro!! Belum menikah saja pikiranmu sudah kemana-mana! Jangan sampai kamu menyentuh Yuna sebelum menikahinya!!" geram Kagami Jiro yang masih menjewer putranya.
"Hentikan, Ibu. Aku sedang menyetir. Ini sangat berbahaya, Ibu." ucap Kagami Jiro berharap Aiko segera melepaskannya.
Akhirnya Aiko mulai melepaskan jewerannya dan membiarkan Kagami Jiro menyetir dengan tenang kembali.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...