Casanova In Love

Casanova In Love
Hukuman Untuk Sia


__ADS_3

Wajah Kagami Jiro terlihat mulai memerah padam karena melihat tingkah laku dari Sia yang sangat di luar batas wajar itu, atau lebih tepat seperti seorang psikopat gila saja.


"Ibu, papa!! Aku tidak mau tau!! Pokoknya wanita ini harus segera meninggalkan rumah ini malam ini juga!!! Dia sudah berusaha untuk mencelakai Yuna. Benalu ini jika dibiarkan akan sangat berbahaya karena beracun!! Dia juga sudah berbohong mengatakan dirinya sakit!! Buang dia!!" tandas Kagami Jiro dengan sangat tegas.


"Aku sudah muak melihatnya!! Aku tak akan bisa mengendalikan emosiku lagi jika aku harus menangani gadis gila itu!! Lebih baik papa dan ibu yang mengurusnya! Jika aku yang mengurusnya, maka jangan salahkan aku jika esok akan ada acara pemakaman!!" tandas Kagami Jiro lagi menakutkan dan mulai menggendong depan Yuna untuk membawanya ke pembaringan.


Sebenarnya Kagami Gumi dan Aiko juga merasa cukup marah luar biasa karena mengetahui sandiwara dan kebohongan dari Sia. Kagami Gumi dan Aiko merasa sudah dibodohi dan ditipu, padahal selama ini mereka berdua begitu mempercayai Sia dan begitu mengasihani Sia.


Namun rupanya Sia malah berniat untuk menyerang Yuna, menantu pertama keluarga Kagami. Rahang Kagami Gumi mulai mengeras, sepasang matanya mulai terlihat memerah dan seakan sudah bersiap untuk meledak.


"Sia!! Kemasi barang-barangmu sekarang juga!! Dan cepat tinggalkan rumah ini!! Sebelum aku membuatmu menyusul ibumu di penjara!!" geram Kagami Gumi menakutkan.


"Tid-tidak, Paman. Bagaimana paman bisa mengusirku? Aku adalah putri dari sahabat baik paman. Daddy pasti akan sedih jika melihat semua ini." ucap Sia memelas berharap Kagami Gumi akan mengasihaninya.


"Mendiang ayahmu pasti akan sangat sedih ketika melihat putrinya melakukan hal sekotor ini! Kali ini aku tidak akan memberikan toleransi lagi kepadamu. Kamu sudah hampir saja melenyapkan menantuku. Max, bawa dia keluar dari rumah ini!!" titah Kagami Gumi kepada salah satu anak buahnya yang kebetulan juga ada di dalam kamar ini.


"Baik, Tuan besar!" sahut pria dewasa dengan sisi samping wajahnya yang dipenuhi dengan jambang itu.


Pria dewasa itu segera menyeret paksa Sia untuk segera meninggalkan kamar ini meskipun Sia bersikeras untuk terlepas dari pria itu dan berteriak meraung-raung meminra belas kasihan keluarga Kagami.


"Yuna sayang ... kamu baik-baik saja kan?" Aiko mulai mendekati pembaringan untuk melihat keadaan Yuna.

__ADS_1


Aiko telihat begitu mengkhawatirkan Yuna dan tentu saja merasa bersalah kepada Yuna karena sudah membawa Sia untuk tinggal di rumah besar Kagami.


Padahal baru saja satu hari tinggal bersama, namun Sia sudah begitu tak sabar untuk segera mencelakai dan malah berniat untuk melenyapkan Yuna.


"Aku baik-baik saja, Ibu." jawab Yuna dengan ramah dan tersenyum manis menatap Aiko.


"Ibu minta maaf. Seharusnya ibu tidak membujuk papamu untuk mengajak Sia tinggal disini. Ini semua salah ibu." ucap Aiko yang terlihat begitu menyesal.


"Tidak kok. Ini bukan salah ibu. Ibu dan papa sangat baik dan hanya berniat untuk menolong dan merawat Sia. Namun rupanya Sia yang malah sudah berbuat keterlaluan seperti ini. Aku baik-baik saja kok, Ibu." jawab Yuna dengan ramah dan terlihat begitu manis.


"Ya sudah. Kalian beristirahatlah. Ini juga sudah sangat larut." ucap Kagami Gumi tiba-tiba. "Ayo kita kembali, Sayang. Kita juga harus segera beristirahat." imbuh Kagami Gumi mulai meraih kedua bahu Aiko dan segera menggiringnya untuk meninggalkan kamar Kagami Jiro dan Yuna.


"Tidak kok. Ini bukan salah kalian. Kalian sangat baik dan hanya ingin membantu Sia saja. Namun Sia malah melakukan semua ini." jawab Yuna seadanya.


"Kamu memang sangat baik. Padahal dia sudah hampir saja melukaimu. Gadis gila itu rupanya masih belum juga berubah. Padahal waktu sudah berlalu cukup lama!! Ckk ..." celutuk Kagami Jiro yang selalu saja merasa kesal jika mengingat kelakuan Sia, ditambah lagi Kagami Jiro akan semakin kesal tingkat dewa jika mengingat kelakuan Bai Mei di masa lalu.


"Ya sudah. Cepat ganti pakaianmu dan segera tidur." ucap Yuna menatap lekat suaminya yang masih duduk di sampingnya.


Belum sempat menjawab ucapan dari sang istri, kini Kagami Jiro tak sengaja melihat lengan Yuna yang berdarah dan mengenai gaun malamnya.


"Sayang ... kamu terluka. Lenganmu berdarah ..." ucap Kagami Jiro terlihat begitu khawatir dan sedikit menarik lengan kiri Yuna.

__ADS_1


Yuna juga mulai beralih menatap lengannya sendiri dan merasa terkejut. Karena Yuna sama sekali tak menyadari jika dirinya terluka oleh serangan dari Sia yang membabi-buta beberapa saat yang lalu.


"Ahh ... aku tidak tidak menyadarinya. Aku akan membersihkan dan mengobatinya." ucap Yuna berniat untuk turun dari ranjangnya.


"Tidak, Sayang. Kamu tetaplah disini. Aku yang akan melakukannya. Kali ini aku yang akan merawatmu." ucap Kagami Jiro dengam cepat lalu turun dari pembaringannya untuk menyiapkan air hangat, alkohol maupun obat merah dan salep.


"Tapi kamu baru saja pulang bekerja. Kamu segera istirahat saja. Aku akan melakukannya sendiri." ucap Yuna dengan keras kepala sama seperti biasanya dan mulai menuruni brankarnya menyusul Kagami Jiro.


"Istriku tersayang. Diam dan tunggu aku saja di ranjang. Kamu sedang terluka saat ini!" dengan cepat Kagami Jiro mulai menggendong depan kembali Yuna dan mendaratkannya kembali di atas pembaringan berukuran king itu.


"Ahh ... tapi ..." Yuna masih saja keras kepala dan ingin menolak perawatan dari Kagami Jiro.


"Patuhlah padaku, Yuna! Apa kamu ingin kembali menjadi seperti saat kita pertama kali pertemu?" ucap Kagami Jiro sedikit melirik sang istri.


"Huftt ... baiklah. Tapi jangan mengeluh lelah setelah memaksaku untuk berdiam diri seperti ini dan melakukan semua kemauanmu itu ya!" ancam Yuna yang sebenarnya hanya menggoda Kagami Jiro saja.


"Hhm? Pernahkah aku mengeluh padamu, Sayang? Paling setelah semua itu, aku hanya akan meminta bayaran saja padamu." Kagami Jiro berkata dengan senyuman misterius dan mengedipkan salah satu matanya kepada Yuna sebelum pria dewasa itu mulai mencari sebuah kotak P3K di sebuah laci meja.


"Cck ... kamu selalu saja tidak ikhlas saat melakukan apapun untukku! Selalu saja berakhir dengan permintaan sebuah bayaran." gerutu Yuna.


Kagami Jiro yang masih mendengarkan ucapan dari Yuna tersenyum lebar dan mulai menyiapkan air hangat di dalam sebuah baskom berukuran sedang. Setelah itu Kagami Jiro segera kembali lagi dengan membawa baskom berisi dengan air hangat itu.

__ADS_1


__ADS_2