
Yuna mulai keluar dari sebuah elevator karena elevator itu sudah berhenti di lantai 8. Kini Yuna mulai menyusuri sebuah lorong yang begitu mewah dan dipenuhi dengan nuansa biru navy kombinasi emas. Dinding lorong ini dipenuhi dengan ukiran bunga tulip berwarna keemasan.
Lampu gantung di sepangjang atap yang berwarna kekuningan menyinarinya dengan sedikit remang-remang.
"822 ... 823 ... 824 ..." Yuna masih terus melenggang di koridor yang cukup sepi ini dan melihat nomor pintu demi pintu. "825 ... kamar yang ini kan seharusnya? Hhm baiklah ..." Yuna bergeming lalu mulai mengetuk pintu berwarna cream lembut itu.
CEKLEEKK ...
Rupanya pintu itu tidak terkunci dan malah terbuka begitu saja. Meskipun sedikit ragu-ragu, namun akhirnya Yuna mulai memasuki kamar itu.
Kamar ini begitu remang-remang dan hanya sebuah lampu tidur kekuningan saja yang sengaja dibiarkannya menyala. Yuna masih melenggang pelan dan pandangannya diedarkannya untuk mencari sosok Kagami Jiro.
"Jiro ... kamu dimana?" Yuna mulai memanggil nama suaminya dan masih saja mencari sosok Kagami Jiro.
Tak ada jawaban sama sekali, kamar ini begitu hening sekali. Namun ruangan ini sangat harum. Yuna mulai mencium aroma bunga kenanga yang mulai menyeruak melalui indra penciumannya. Aroma dari bunga kenanga yang memiliki senyawa afrodisiak yang bisa meningkatkan energi dan gairah seksual. Aromanya tercium dan menimbulkan kesan erotis.
Aromanya bunga ini tercium begitu lembut dan tiba-tiba saja membawa pada mood romantis dan membuat Yuna kembali mengingat Kagami Jiro, atau lebih tepatnya tiba-tiba saja Yuna begitu merindukan sosok Kagami Jiro.
"Apa ini? Mengapa ada wewangian seperti ini? Begitu harum namun mengapa membuatku merasa tak nyaman dan panas?" gumam Yuna kebingungan. "Dan ... mengapa aku malah begitu merindukan Jiro ... apa yang sedang terjadi padaku? Apakah aku sedang mabuk?"
BLLAMM ...
__ADS_1
Tiba-tiba saja pintu tertutup dan seperti dibanting oleh seseorang. Yuna yang merasa sedikit terkejut kini mulai berbalik untuk melihat apa yang terjadi. Hinga akhirnya mulai terdengar suara derap langkah seseorang yang semakin mendekati Yuna.
Sosok itu adalah seorang pria, namun Yuna tak bisa melihat wajah sosok itu dengan begitu jelas. Bahkan hanya seperti sebuah siluet saja, karena begitu remang dan gelap.
"Jiro, kamukah itu?" ucap Yuna masih berusaha untuk melihat wajah pria itu. "Bukankah kamu sudah makan makan tadi sore? Lalu mengapa maag kamu bisa kambuh lagi?" ucap Yuna yang masih menganggap jika sosok itu adalah Kagami Jiro.
Pria itu tak menjawab ucapan dari Yuna dan masih saja melenggang dan semakin Yuna lalu mulai mencekal salah satu pergelangan tangan Yuna.
"Aku bukan Jiro!" ucap sosok pria itu mulai menyeringai dan wajahnya kini juga mulai terlihat karena sorot lamolpu kamar.
Seorang pria bule dengan rambut pirang dan memiliki tinggi seperti Kagami Jiro kini menyeringai misterius menatap Yuna dan semakin mencengkeram kuat pergelangan tangan Yuna.
"Siapa kamu? Dan apa yang kamu inginkan?!" ucap Yuna berusaha untuk melepaskan cengkeraman dari pria bule itu.
"Tidak penting siapa aku. Sekarang ini aku datang hanya untuk membantumu menuntaskan hasraatmu itu, Gadis cantik. Saat ini ... kamu sedang menginginkannya bukan? Karena aku sedang berbaik hati, maka aku akan membantumu dan memuaskanmu." ucap pria bule itu dengan mata liarnya yang sudah mulai menatap Yuna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan salah satu tangannya dengan beranu membelai wajah Yuna
PLAKK ...
Sebuah tamparan yang cukup keras kini Yuna layangkan dan mengenai pipi pria bule itu hingga meninggalkan cap lima jari berwarna kemerahan pada pipi pria bule itu. Tak puas dengan itu saja, kini Yuna mulai mengayunkan sikunya dan mengenai wajah pria bule itu.
"Arrghh ... gadis sialan!!" erang pria bule itu memegangi bagian wajahnya yang sudah menjadi sasaran dari Yuna.
__ADS_1
Disaat cengkeraman itu sudah terlepas, kini Yuna segera berusaha untuk meninggalkan kamar itu. Namun dengan cepat pria bule itu segera mengejar Yuna kembali dan berhasil menarik lengan gaunnya hingga pada bagian lengan gaun itu sobej begitu saja.
KRAKK ...
"Ahh ... gaun limited editionku!!" teriak Yuna begitu histeris. "Ini adalah hadiah dari kakakku! Beraninya kamu merusaknya, Pria mesum!!" imbuh Yuna mulai merasa kesal dan segera menghujani pria bule itu dengan beberapa tinjunya dan terakhir Yuna menendang senjata pamungkas pria bule itu karena merasa begitu kesal!!
Setelah itu Yuna mulai bergegas kembali untuk meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba saja kondisi tubuhnya menjadi terasa sedikit aneh dan mulai melemas kembali. Seperti tak ada tenaga dan merasa begitu panas.
GREEPP ...
Belum sempat Yuna meraih handle pintu itu, tiba-tiba saja pria bule itu sudah menarik kembali gaun Yuna dan segera menggendong Yuna dengan bahunya lalu membawanya kembali dan menghempaskan tubuh Yuna di atas pembaringan berukuran king itu.
Ahh sial ... ada apa dengan tubuhku ini? Mengapa tersa semakin panas dan aku merasa tak berdaya kembali untuk melawan pria brengsek di hadapanku ini? Apa yang sudah mereka lakukan kepada tubuhku? Tunggu dulu ... apakah ini semua adalah rencana dari Ella? Apa dia berbohong padaku soal Jiro yang sedang sakit maag dan memintaku untuk menyusulnya di kamar ini? Apakah Ella sengaja ingin menjebakku untuk membuat Jiro benci padaku? Ahh sial!! Gadis cantik memang selalu saja tidak bisa dipercaya ... aku sudah salah menilainya sejak awal. Bahkan aku sudah mengira jika dia benar-benar tulus meminta maaf kepadaku. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana jika sampai pria ini benar-benar melakukan sesuatu kepadaku? Jiro ... dimana kamu ...
Batin Yuna yang berusaha untuk bangun kembali, namun pergerakan tubuhnya tak sejalan dengan pirannya karena sudah merasa begitu tak berdaya. Sementara pria bule itu mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu.
Pria bule itu kini mulai menganggalkan pakaiannya setelah semua kancing pakaiannya sudah terbuka semuanya. Bahkan kini si pria bule sudah mulai melepaskan sabuk ikat pinggangnya begitu saja dan menyusul melepas sebuah celana jeans yang sedang dia kenakan saat ini.
Semua pakaian itu dihempaskan begitu saja dan terjatuh dinatas lantai. Sebuah seringai yang menyeramkan kini sudah menghiasi wajah pria bule itu. Lalu pria itu mulai menaiki pembaringan dan semakin mendekati Yuna.
Jiro ... dimana kamu? Tolong aku ... aku tidak bisa melawan pria ini lagi. Aku juga tidak ingin mengkhianatimu ... aku juga tidak mau merusak namamu di depan semua orang ... tapi aku sudah begitu tidak berdaya ... maafkan aku, Jiro ...
__ADS_1
Batin Yuna yang masih berusaha untuk merangkak dan menjauh dari pria itu, namun pria bule itu malah dengan cepat menarik tubuh Yuna dan menindih tubuh Yuna begitu saja.