
Di dalam kamarnya, Yuna terduduk di depan cermin riasnya. Sebuah kotak kecil berwarna biru navy yang begitu lembut kini masih berada lada genggamannya. Setelah beberapa saat menimang-nimangnya, akhirnya Yuna memutuskan untuk membuka kotak itu.
Sebuah gelang berwarna silver sedikit mengkilap dengan desain yang begitu manis mulai terlihat di dalam kotak itu.Yuna mulai mengmbilnya dan sedikit mengangkatnya ke udara dengan senyum tipis.
"Senior Sky ... mengapa kamu pergi dan tidak berpamitan denganku lagi? Apakah senior Sky hanya menganggapku sebagai junior yang sungguh tidak penting? Padahal selama ini aku selalu mengagumimu. Kau senior teramah dan terbaik yang pernah aku temui. Huft ..." gumam Yuna yang masih menimang-nimang gelang dengan desain lucu itu lalu memcoba untuk memakainya pada pergelangan tangan kirinya.
Senyuman indah nan manis kini mulai menghiasi wajah Yuna saat melihat gelang itu yang sudah melingkar manis pada pergelangan tangan kiri Yuna.
"Ini manis sekali. Aku suka sekali! Sayang sekali tak bisa mengucapkan terima kasih secara langsung kepada senior Sky." gumam Yuna yang masih menatap gelang itu. "Apa aku telfon saja senior Sky ya? Hhm ... ya! Setidaknya ucapkan terima kasih padanya. Baiklah ... mari telfon senior Sky!" kini Yuna mulai meraih sebuah benda pipih di hadapannya lalu menekan sebuah kontak di dalam ponselnya.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilan itu mulai diangkat dari seberang line.
"Hallo, Yuna!" sapa senior Sky dengan nada ramah dan hangat seperti biasanya.
"Hallo, Senior Sky!" sahut Yuna dengan cepat. "Apa senior Sky sudah berangkat lagi ke New York?"
"Hhm. Yah ... aku sudah mau berangkat, Yuna. Sebentar lagi pesawatku akan segera take off." sahut senior Sky masih saja dengan hangat.
"Apa?! Cepat sekali sudah mau meninggalkan Jepang lagi? Apa senior tidak merasa lelah?" Yuna menyauti dan malah Yuna yang terlihat begitu lelah karena membayangkan senior Sky yang melakukan perjalanan panjang bolak-balik dari Jepang-New York-Jepang-New York dalam waktu berderet sekaligus.
Membayangkannya saja sudah membuat Yuna merasa lelah, apalagi yang melakukan perjalanan semua perjalanan itu. Sangat tidak mungkin jika tidak lelah, dan mungkin itu salah satu yang menyebabkan senior Sky demam dan sakit saat menemui Yuna. Ditambah lagi senior Sky begitu merasa sedih saat mengetahui gadis yang disukainya kini sudah bertunangan dengan pria lain dan akan segera menikah.
"Lelah? Lelah raga masih bisa disembuhkan kok, Yuna. Asalkan bukan hati saja yang merasa lelah." jawab senior Sky yang terdengar begitu hangat dan manis, karena pria itu mengatakannya dengan diiringi sebuah tawa kecil, bisa dibayangkan jika melihatnya secara langsung pasti begitu membuat Yuna merasa nyaman.
"Senior benar sekali. Aku menelfon senior karena ingin mengucapkan terima kasih kepada senior Sky. Hadiah gelang dari senior Sky sungguh cantik dan manis sekali." ucap Yuna yang terdengar begitu bersemangat, dan hal itu membuat senior merasa lega karena melihat Yuna bahagia.
__ADS_1
"Apa kamu menyukainya, Yuna?" tanya senior Sky dengan pelan dan suaranya seperti menggantung di udara.
"Hhm. Tentu saja aku sangat menyukainya! Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya!" sahut Yuna sangat bersemangat.
"Syukurlah jika kamu menyukainya. Aku sempat khawatir jika kamu tidak menyukainya." ucap senior Sky sedikit terharu.
"Hhm. Aku sangat menyukainya kok. Terima kasih, Senior Sky."
"Sama-sama, Yuna ..."
Tiba-tiba saja suara interkom mulai terdengar kembali dari tempat senior Sky berada saat ini, semua penumpang dianjurkan untuk segera mematikan ponselnya dan mengenakan sabuk pengamannya.
"Yuna, aku akan menghubungimu lagi nanti saat sudah sampai di New York. Kamu baik-baik ya di Jepang! Dan maaf aku tidak bisa menghadiri pesta pernikahanmu. Semoga kamu bahagia bersama pria itu." ucap senior Sky dengan tulus.
Meskipun hanya sebatas hubungan senior dan junior, namun Yuna juga merasa sedih ketika harus berpisah dengan seniornya yang selama ini sudah begitu dekat dan sangat baik kepada Yuna.
Panggilan itu mulai berakhir, dan Yuna mulai meletakkan benda pipih itu kembali di atas nakasnya.
"Semoga kamu juga baik-baik saja saat di New York, Senior Sky ..."
...⚜⚜⚜...
Hari ini Yuna pulang dari butiknya sedikit terlambat. Bahkan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 8 PM, namun Yuna juga masih belum pulang dan masih terlihat sibuk di meja kerjanya.
Beberapa pesanan memenuhi butik Yuna akhir-akhir ini. Bahkan para customer menginginkan agar Yuna's Fashion segera menyelesaikan pesanan mereka dengan cepat. Padahal yang mereka pesan bukan hanya satu atau 2 item. Mereka memesan hampir 20 seri, dan setiap seri mereka memesan 8 sampai 10 gaun.
__ADS_1
"Mayu, rekrut beberapa penjahit profesional untuk segera menyelesaikan pesanan urgent dari pelanggan. Penjahit kita sedang banyak yang mengambil cuti, tidak akan cukup waktu jika menunggu mereka kembali dari cuti." perintah Yuna kepada asisten pribadinya.
"Baik, Nona Yuna! Aku akan mulai mencarinya besok." sahut Mayu yang sudah mulai berkemas karena sudah waktunya untuk pulang. "Nona Yuna, kalau begitu aku akan pulang. Apa nona Yuna belum mau pulang?" imbuh Mayu yang masih melihat Yuna sibuk dengan beberapa gambar desain gaun dan sesekali mencoret-coretnya dengan pensilnya.
"Ya, Mayu. Aku akan menyelesaikan beberapa desain dulu. Jadi besok hanya tinggal memberikannya untuk penjahit saja. Kamu pulanglah duluan, Mayu." perintah Yuna tanpa menatap Mayu sama sekali.
"Hhm. Baiklah, Nona Yuna. Kalau begitu aku pulang duluan." ucap Mayu lalu mulai meninggalkan ruangan Yuna dan segera meninggalkan Yuna's Fashion.
Suasana butik Yuna saat ini sungguh terasa begitu hening, sunyi, bahkan sebagian lampu sudah dipadamkan dan hanya tinggal lampu di beberapa titik tertentu dan lampu di ruangan Yuna saja yang masih menyala.
Gadis berwajah cantik nan tegas itu masih terlihat berkonsentrasi penuh dan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Setelah beberapa saat berjuang, akhirnya Yuna sudah menyelesaikan semua desain gaun itu.
"Arggh ... akhirnya semua sudah selesai! Besok hanya tinggal menggerakkan para penjahit dan mencari beberapa penjahit profesional untuk mempercepat proses produksi." Yuna mulai merengangkan otot-otot tangannya dengan membuka lebar kedua tangan ke atas, namun tangan kirinya ditekuk dan meraih tangan kanannya.
KRIIEETT ...
KRIEETT ...
KLLAAPP ...
Tiba-tiba saja lampu ruangan Yuna mulai berkedip-kedip beberapa kali, hingga akhirnya lampu itu mulai padam dan ruangan itu menjadi gelap gulita.
"Aarghh ... mengapa tiba-tiba saja lampunya malah mati dan rusak?" keluh Yuna mulai menghidupkan lighter pada ponselnya.
BRAKK ...
__ADS_1
Tiba-tiba saja ada suara seperti benda terjatuh dari luar ruangan Yuna dan membuat Yuna senam jantung saat ini, karena saat ini tak ada siapapun di butik ini, kecuali Yuna. Semua karyawannya sudah pulang. Bahkan Mayu juga baru saja pulang.