
"Kali ini aku akan memenuhi permintaanmu untuk menebas kepalamu dengan katana warisan dari leluhurmu! Bersiaplah. Hiattthh ...." kini Kagami Jiro mulai mengayunkan katana itu ke udara.
Namun tiba-tiba saja seorang gadis sudah berada di hadapannya dan membentangkan kedua tangannya lebar, "Hentikkan!"
Kagami Jiro segera menghentikkan serangannya tepat saat katana itu berasa di hadapan wajah dan leher gadis itu.
Sial! Untung saja aku bisa menghentikkan seranganku dengan begitu cepat. Atau kalau tidak aku sudah benar-benar membunuh Yuna sekaligus!
Batin Kagami lalu menghempaskan katana itu di atas lantai dengan begitu kasar.
"Mengapa kau menghalangiku? Apa kau tau itu sangat berbahaya! Aku bisa saja melukaimu jika aku tak bisa menghentikkan seranganku dengan cepat!" ucap Kagami Jiro yang terlihat begitu kesal melihat tingkah Yuna yang berusaha untuk melindungi pria bernama Aoki itu. Padahal Aoki sudah banyak melukai dan menyakitinya.
"Menegakkan hukum, bukan berarti harus saling bunuh. Aku tau, tuan Kagami Jiro sangat kuat dan tak terkalahkan. Namun mengakhiri nyawa seseorang seperti itu apakah tidak akan membuat tuan menyesal di kemudian hari?" ucap Yuna dengan begitu bijak.
"Ciih ... aku sudah begitu sering melakukan pembantaian! Jika tidak ingin melihatnya, sebaiknya kamu bersembunyi saja dan jangan menghentikkanku!" celutuk Kagami Jiro yang terlihat begitu kesal.
GRREEPP ...
Tiba-tiba saja Aoki sudah bangkit kembali dan meraih Yuna dari belakang dengan menodongkan katana itu pada lehernya. Karena diam-diam ternyata Aoki sudah memungut katana itu kembali.
"Gadis manis, kau sungguh baik hati sekali! Aku sangat beruntung dan berterima kasih kepadamu. Karena berkat kamu, kepalaku masih seutuhnya ada dan aku masih tetap hidup." ujar Aoki yang sudah menyandra Yuna.
"Lihatlah gadis kecil! Lihatlah apa yang sudah kau lakukan kini malah mempermudahnya ..." celutuk Kagami Jiro semakin terlihat kesal.
"Lepaskan aku! Aku sudah meminta ampunam untukmu, tapi kamu malah seperti ini!" ujar Yuna berusaha untuk melepaskan dirinya dari Aoki.
"Hati-hati, Gadis manis. Kamu bergerak sedikit saja, maka katana ini bisa melukai lehermu yang indah ini." Aoki menyauti dan menatap Yuna dari jarak yang begitu dekat.
"Aoki! Lepaskan dia, maka aku akan memberikan uang dengan jumlah yang besar untukmu!" ucap Kagami Jiro mencoba untuk bernegosiasi.
__ADS_1
"Berikan 5 juta yen, maka aku akan melepaskannya!" tandas Aoki dengan suara yang begitu menggelegar.
"Baiklah! 5 juta dan kau pergi dari sini!"
"Okay!"
Kagami Jiro mengeluarkan sesuatu dari dalam saku pakaiannya, sebuah cek dan dengan cepat dia segera menuliskan nominal itu lalu menyerahkan cek itu untuk berandalan itu.
"Apakah ini asli?"
"Tentu saja itu asli! Lihatlah nama dan tanda tanganku!"
Aoki mulai memperhatikan cek itu dan sedikit mengkerutkan keningnya saat melihat nama yang tertera di bawah cek itu, "Kagami Jiro?"
Dengan cepat Aoki segera menyimpan cek itu di dalam saku pakaiannya lalu menghempaskan Yuna dengan cukup kasar. Namun Kagami Jiro segera menangkap Yuna ke dalam pelukannya.
Keduanya sempat bertatapan beberapa saat. Terlihat wajah Yuna yang dipenuhi dengan beberapa luka, dan entah mengapa itu membuat Kagami Jiro merasa ngilu.
Tar ...
Terdengar sebuah tembakan yang meluncur dari lighter itu dan mengenai kaki kanan Aoki hingga membuatnya ambruk seketika, dan tentu saja untuk melumpuhkannya dalam beberapa saat.
Salah satu kekurangan dari senjata-senjata rahasia dari Doragonshadou adalah setiap senjata rahasia itu hanya mampu menyimpan antara 2-3 peluru. Jadi Kagami Jiro selalu saja membawa beberapa senjata rahasia sekaligus, atau terkadang dia juga membawa benerapa peluru untuk reload.
"Bajingan busuk! Beraninya kau masih menyerangku!" umpat Aoki yang sudah terjatuh di atas lantai.
Namun Kagami Jiro tak mengindahkannya, dia malah melenggang mendekati Aoki dan mengambil kembali cek itu dari saku pakaian Aoki.
"Hei! Kembalikan! Itu milikku sialan!"
__ADS_1
Kagami Jiro tak mengindahkannya dan terus melenggang mendatangi paman Yu dan membantunya untuk berdiri kembali.
"Aku akan membayar ganti rugi semua kerusakan dan semua kerugian yang dialami oleh restoran ini. Ambillah, Paman!" ucap Kagami Jiro sambil menyerahkan cek itu untuk paman Yu, pemilik restoran kecil ini.
"Tidak, Tuan Kagami Jiro. Semua ini karena perbuatan para berandalan itu. Tuan Kagami Jiro tidak perlu membayar ganti rugi untuk restoran ini." paman Yu menolak dengan sopan dan menyodorkan kembali cek itu.
"Tidak, Paman. Aku akan marah dan merasa tidak dihargai jika paman menolak uang ini! Selama ini, aku sudah menjadi salah satu pelanggan setia restoran ini. Jadi biarkan aku sedikit membantu." ucap Kagami Jiro sambil menarik tangan kanan paman Yu dan memaksanya untuk menerima cek itu kembali.
"Tapi ... nominal ini sungguh besar sekali, Tuan.
"Jangan pikirkan nominalnya, Paman. Pikirkan saja ketulusan hatiku." Kagami Jiro tersenyum hangat menatap paman Yu. "Baiklah, polisi akan segera sampai untuk membawa mereka semua. Aku akan kembali! "
"Baik, Tuan Kagami Jiro. Terima kasih banyak!" paman Yu membungkukkan badannya sementara Kagami Jiro mulai berbalik dan melenggang mendekati Yuna.
"Dan kau, ikutlah bersamaku! Aku akan mengobatimu!" ucap Kagami Jiro menatap Yuna.
"Tidak, terima kasih. Namun aku akan tetap disini." tolak Yuna dengan ramah.
"Cckk. Dasar gadis yang keras kepala! Ayo ikut! Atau pamanmu akan benar-benar membunuhku jika mengetahui aku yang membiarkanmu seperti ini!" kali ini Kagami Jiro mulai meraih kedua paha Yuna dan segera menggendongnya di atas bahunya.
"Dasar! Baiklah, lepaskan aku! Aku akan berjalan sendiri!" pinta Yuna yang begitu merasa tidak enak.
Namun Kagami Jiro tak melepaskannya dan malah terus melenggang untuk meninggalkan restoran ini. Mereka berdua juga berpapasan dengan beberapa petugas kepolisian yang datang untuk membawa para berandalan itu.
"Aku akan pulang dan naik taxi. Tolong lepaskan aku!" Yuna memukuli punggung Kagami Jiro karena Kagami Jiro tidak juga menurunkan Yuna.
"Apa kau sadar, Gadis manis? Sudah jam berapakah sekarang? Ini sudah tengah malam dan kau bilang mau naik taxi? Tidak boleh! Itu akan sangat berbahaya! Lebih baik kau ikut bersamaku!" jawab Kagami Jiro dengan kekeh dan mulai membuka pintu depan samping kemudi Buggati Divo miliknya.
Lalu perlahan Kagami Jiro sedikit menunduk dan mulai menurunkan Yuna di dalamnya. Yuna yang sudah dalam posisi duduk menatap sisi samping pemuda itu dalam jarak yang begitu dekat dari wajahnya, sehingga membuatnya sedikit kaku.
__ADS_1
"Bagiku bersama denganmu akan jauh lebih berbahaya!" celutuk Yuna tanpa sadar, dan dengan cepat Yuna segera membungkam mulutnya kembali.