
"Mengapa ada Jonathan disini?" tanya Kagami Jiro mulai beralih menatap Jonathan dengan tatapan yang begitu dingin dan tajam.
Yuna yang menyadari jika Kagami Jiro sedang merasa sedikit cemburu, kini berusaha untuk menjelaskan kepada Kagami Jiro.
"Jonathan hanya datang untuk mengunjungiku dan mengantarkan masakan dari ibu." jelas Yuna. "Makan yuk! Ibu mengirimkan kari ayam dan juga chicken yakiniku." tanpa menunggu jawaban dari Kagami Jiro, Yuna langsung saja menarik tangan Kagami Jiro dan menggiringnya untuk duduk di salah satu kursi di meja makan.
Setelah Kagami Jiro duduk, Yuna segera menyiapkan kari ayam dan chicken yakiniku itu untuk Kagami Jiro lalu mulai duduk di kursi sebelahnya.
"Terima kasih, Sayang. Sudah lama aku tidak memakan masakan ibu mertua. Rasanya kangen sekali dan jadi semakin tidak sabar inginsegera memakannya." ucap Kagami Jiro mulai meraih sendok dan garpu yang sudah disiapkan oleh Yuna.
"Hhm. Makanlah yang banyak. Masih cukup banyak kok ini." sahut Yuna yang kali ini mulai menuangkan teh untuk Kagami Jiro.
"Hhm. Iya ..." sahut Kagami Jiro mulai memasukkan sepotong ayam yakiniku ke dalam mulutnya.
"Uhm. Baiklah, sebaiknya aku pamit saja. Aku juga sudah berjanji kepada bibi untuk membantunya membereskan rumah." ucap Jonathan yang lebih memilih untuk segera pulang karena merasa tidak nyaman, karena sesekali Kagami Jiro selalu saja meliriknya dengan tatapan yang cukup tajam.
"Cepat sekali, Jonathan? Kita bahkan baru saja bertemu setelah sekian lama tidak bertemu." ucap Yuna yang mulai beralih menatap Jonathan.
"Hehe ... kapan-kapan lagi deh aku akan mampir dan mengantarkan masakan dari bibi. Aku pulang dulu ya ..." ucap Jonathan yang kini sudah mulai bangkit berdiri.
"Hhm. Pulanglah! Dan terima kasih sudah bersukarela mengantarkan semua makanan ini dari ibu mertua." Kagami Jiro menyauti tanla menatap Jonathan dan malah sibuk dengan makanannya.
"Sama-sama, Jiro. Baiklah. Aku akan pulang. Sampai jumpa, Yuna." ucap Jonathan yang mulai melenggang meninggalakan ruangan makan ini dan juga mulai meninggalkan kediaman rumah besar Kagami.
"Kamu mau, Sayang?" kini Kagami Jiro mulau menyodorkan sepotong ayam yakiniku dan berniat untuk menyuapi Yuna.
"Aku sudah makan kok. Kamu makan saja itu semua. Oh ya, aku akan mandi dulu. Tubuhku sudah dipenuhi dengan keringat."
__ADS_1
"Hmm. Mandilah. Setelah mandi aku akan mengajakmu jalan-jalan."
"Benarkah? Asyikk ..." sahut Yuna begitu berbinar, karena selama ini sudah cukup lama untuk Yuna tidak berjalan-jalan.
Terlebih saat masa 3 bulan kehamilan. Karena masa-masa itu Yuna benar-benar harus istirahat dan tidak diijinkan untuk pergi kemana-mana.
"Hhm tentu saja. Mandilah dulu, Sayang."
"Okay!!"
Dengan sangat bersemangat Yuna mulai menuju ke kamarnya dan mulai melakukan ritual mandinya. Saking menikmati ritual mandinya, tak terasa Yuna sudah menghabiskan 2 jam begitu saja di dalam kamar mandi kamarnya.
Dan hal itu tentu saja sedikit membuat Kagami Jiro mekhawatirkan Yuna, khawatir jika sesuatu sudah terjadi dengan Yuna di dalam kamar mandi. Hingga akhirnya Kagami Jiro mulai menyusul Yuna ke dalam kamar mereka.
"Yuna! Apa yang sedang kamu lakukan di dalam, Sayang? Apakah masih belum selesai?" Kagami Jiro mulai memanggil Yuna dari pintu kamar mandi di dalam kamarnya.
"Yuna!! Apa kamu mendengarku?" teriak Kagami Jiro lagi.
"Ya, sebentar lagi aku keluar." ucap Yuna dari dalam kamar mandi.
Setelah beberapa saat akhirnya Yuna mulai keluar dari kamar mandi masih mengenakan jubah mandinya dan rambutnya yang masih basah juga dibalutnya dengan sebuah handul berukuran sedang.
"Maaf, aku terlalu keasyikan di dalam kamar mandi jadi lupa waktu. Hehe ..." ucap Yuna nyengir dan mulai melenggang melalui Kagami Jiro untuk segera pergi ke meja riasnya dan mengeringkan rambutnya dengan sebuah hair dryer.
"Ya, aku hanya khawatir saja. Kamu mandi terlalu lama. Memang apa saja yang kamu bersihkan?" ucap Kagami Jiro dengan nada jenaka dan mulai mengekori Yuna.
"Semua harus dibersihkan donk." sahut Yuna dengan asal. "Padahal aku hanya begitu menyukai aroma sabunnya saja sih. Hehe ... harumnya begitu lembut dan segar." imbuh Yuna mulai melepaskan lilitan handuk di kepalanya lalu mulai menghidupkan hair dryer itu.
__ADS_1
Namun baru beberapa detik saja Yuna mengeringkan rambutnya dengan hair dryer itu, Kagami Jiro segera merebutnya dari Yuna dan malah membantu Yuna mengeringkan rambut Yuna.
"Biar aku bantu mengeringkannya. Kamu pasti sedikit kesusahan saat melakukannya seorang diri." ucap Kagami Jiro mulai mengeringkan rambut Yuna yang kini sudah memiliki panjang di bawah bahu.
"Hhm. Terima kasih." sahut Yuna penuh binar.
Yuna yang melihat pantulan dirinya dan Kagami Jiro melalui cermin rias di hadapannya tersenyum penuh binar. Yuna terduduk sementara Kagami Jiro berdiri di belakangnya dan masih fokus untuk mengeringkan rambut Yuna dengan menggunakan sebuah hair dryer berwarna dusty pink itu.
Yuna merasa begitu bahagia. Karena suaminya begitu menyayangi dan mengasihi dirinya. Bahkan Kagami Jiro selalu memperhatikan Yuna meski hal sekecil apapun, misalnya dengan sebuah luka gores pada tubuh Yuna, meskipun hanya 1 inchi saja.
Setelah beberapa saat melakukannya dengan telaten dan sangat sabar, akhirnya Kagami Jiro kini sudah menyelesaikan tugas mengeringkan rambut itu.
"Sudah kering." ucap Kagami Jiro mulai mematikan hair dryer itu dan meletakkannya di atas meja.
Kali ini Kagami Jiro mulai meraih sebuah sisir berwarna putih dan mulai menyisiri rambut Yuna dengan sangat pelan dan lembut agar Yuna tidak merasakan kesakitan. Kagami Jiro juga sedikit menyentuh dan menekan kepala Yuna ketika menyisirinya agar saat Kagami Jiro tak sengaja terlalu kuat menariknya , Yuna tak akan merasakan sakit pada kepalanya.
"Sudah rapi, Sayang. Sekarang tinggal kenakan make up-mu saja. Aku tak bisa membantumu soal itu." ucap Kagami Jiro mulai memegang kedua bahu Yuna dan menatap Yuna melalui pantulan cermin rias di hadapannya itu.
Mendengar ucapan dari Kagami Jiro membuat Yuna tertawa kecil dan diikuti juga oleh tawa kecil Kagami Jiro.
"Sebenarnya tanpa make up-pun kamu sudah terlihat begitu cantik kok, Yuna"
"Tapi jika ingin bepergian tanpa mengenakan make up rasanya masih sedikit aneh. Dan aku belum terbiasa. Apalagi jika pergi bersama denganmu, semua mata akan memandangmu. Dan tentu saja aku harus selalu memperhatikan dan selalu menjaga penampilanku untuk menjaga namamu, Sayang. Kamu adalah seorang pria yang selalu dihormati semua orang. Dan tentu saja aku tidak bisa berbuat sesuka hatiku." jawab Yuna mulai mengoleskan sebuah pelembab pada wajahnya yang sebenarnya sudah begitu putih, bersih dan sehat itu.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggumu." jawab Kagami Jiro dengan senyum hangatnya dan sesekali menyisiri rambut Yuna dengan jemarinya.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1