
Kagami Jiro mulai tersenyum lebar seolah-olah mengatakan "Nah, makan siangku sudah datang ..."
"Masuk!" perintah Kagami Jiro mulai menatap ke arah pintu masuh berdiri dan menyandarkam pinggangnya pada meja kerjanya, sedangkan kedua tangannya disilangkannya di depan dada bidangnya.
Sementara gadis bernama Sia itu juga mulai beralih menatap pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan sebenarnya Sia cukup penasaran karena melihat Kagami Jiro sedang bersemangat dan begitu menantikannya.
Entah apakah itu karena Kagami Jiro yang sudah begitu lapar dan begitu menantikan makan siangnya? Entahlah, mari kita lihat saja. Hehe ...
CEKLEKK ...
Pintu mulai terbuka, kini seorang gadis terlihat mulai memasuki ruangan dengan membawa sebuah bingkisan yang ditentengnya. Gadis itu mengenakan sebuah blazer hitam dan memadankannya dengan celana jeans warna gelap. Gadis itu memakai coat berwarna broken white.
"Maaf, apakah aku mengganggu? Aku akan kembali nanti saja ..." gadis itu mulai menghentikkan langkahnya saat melihat jika ternyata seseorang yang sedang ingin dia kunjungi sedang memiliki seorang tamu.
"Tidak, Yuna ... kamu tidak mengganggu. Kemarilah ... aku sudah menunggumu!" ucap Kagami Jiro dengan hangat.
Yuna menghentikkan niatnya untuk segera meninggalkan ruangan ini, dan malah melenggang mendekati Kagami Jiro menuruti perintah dari Kagami Jiro. Namun sebenarnya Yuna masih merasa tidak enak karena merasa kehadirannya mengganggu.
"Aku hanya ingin mengantarkan makan siangmu, sesuai perintah dari ibuku." ucap Yuna sambil memberikan sebuah bingkisan yang berisi dengan sebuah rantang susun yang sudah diisi dengan beberapa masakan rumahan.
Cihh ... gadis ini mau mengantarkan masakan rumahan seperti itu untuk Jiro? Sungguh tidak berkelas!! Pasti Jiro akan menolaknya. Sungguh tak tau malu!
Batin Sia menyeringai menatap Yuna dari kejauhan dan penuh percaya diri jika Kagami Jiro akan menolaknya mentah-mentah.
"Hhm. Terima kasih ya ..." sahut Kagami Jiro segera menerima bingkisan itu.
What?? Apa?? Apa aku tidak salah dengar? Jiro menerimanya begitu saja?! Sial!!
Batin Sia merasa kesal.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan pulang." Yuna hendak berbalik dan berniat ingin meninggalkan mereka berdua.
"Tunggu, jangan pergi. Temani aku makan dulu!" dengan cepat Kagami Jiro menahan tangan Yuna.
Siapa gadis ini? Mengapa Jiro terlihat begitu menyukainya? Apakah dia mainan baru Jiro? Huh ... siap-siap saja akan dihempaskannya suatu saat nanti. Jiro tak akan mungkin menyukai gadis biasa seperti ini bukan? Penampilannya saja sangat biasa yang tertutup seperti ini ... mana mungkin Jiro menyukai tubuh rata seperti itu. Cckk ...
Batin Sia masih menatap Yuna dengan tatapan yang terlihat kurang suka, dan Sia menatap Yuna dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Dan penampilan Yuna terlihat begitu biasa di mata Sia.
"Jiro, siapa dia? Mengapa aku tak pernah melihat gadis ini sebelumnya?" tanya Sia menatap sinis Yuna dan terlihat sedikit tidak suka.
"Oh, aku lupa mengenalkannya kepadamu, Sia. Dia adalah Yuna, tunanganku." Kagami Jiro mulai berdiri dengan tegap dan mulai melingkarkan lengan kanannya pada bahu Yuna.
Nah loh ... seketika Sia mematung karena begitu terkejutnya mendengarkan ucapan dari Kagami Jiro. Sementara Yuna hanya tersenyum tipis menatap Sia dan mengangguk pelan.
"Tunangan?? Apa kau sedang bercanda, Jiro? Gadis ini adalah tunanganmu? Ini sungguh tidak masuk akal." Sia tertawa kecil dan menganggap ini hanyalah sebuah lelucon saja.
"Aku tidak sedang bercanda, Sia. Yuna adalah tunanganku. Dan kita akan segera menikah bulan depan." jawab Kagami Jiro lagi dan sukses membuat Sia membatu seketika.
"Mengapa tidak mungkin, Sia? Maaf ya aku lupa memberikan kabar ini untukmu, paman dan bibi. Mungkin kami akan mengundang kalian saat persta pernikahan kami saja. Aku harap kamu bisa menghadirinya kelak." ucap Kagami Jiro dengan seulas senyum dan semakin mendekatkan tubuh Yuna pada Kagami Jiro.
"Oh ... i-iya .. kalau begitu aku akan segera pergi dulu. Permisi ..." Sia berusaha untuk bersikap manis, bahkan dia juga terpaksa harus memperlihatkan senyumannya meskipun hatinya sedang sangat kesal saati ini.
Karena sebelumnya, ibu Sia pernah mengatakan kepada Sia. Jika dia akan menikahkan Sia dengan Kagami Jiro.
Sia mulai meninggalkan ruangan Kagami Jiro dengan suasana hatinya yang sudah tak karuan. Hentakan dari sepatu hak tinggi miliknya terlihat sekali jika gadis ini sedang dalam keadaan hati yang tidak baik.
Ibu ... mengapa ini bisa terjadi?! Bukankan ibu sudah berjanji padaku sebelumnya akan menikahkanku dengan Kagami Jiro? Gara-gara ibu mengirimku ke China aku malah kehilangan sebuah kesempatan!! Arghhh, pasti gadis jelek itu sudah merayu Jiro selama ini!!
Geram Sia di dalam hati, dan sudah bisa dipastikan jika gadis ini akan menemui sang ibu untuk memperjelas semua ini.
__ADS_1
Sementara itu ...
"Ayo ..." Kagami Jiro menarik tangan Yuna dan mengajak Yuna untuk duduk bersama di sebuah sofa di dalam ruangan ini.
Yeap, karena di dalam ruangan ini juga ada sebuah sofa untuk tamu, dan kali ini Yuna dan Kagami Jiro mulai duduk disana
"Terima kasih sudah membawakan makan siang untukku, Yuna. Sepertinya ini enak sekali ... baunya sungguh harum sekali ..." Kagami Jiro mulai membuka bingkisan itu dan mengeluarkan rantang itu kemudian mulai membukanya.
"Hhm. Iya ... ibu memasak banyak kari ayam. Dan ibu memintaku untuk mengantarkannya untukmu." jawab Yuna seadanya.
Kagami Jiro tersenyum misterius dan sedikit melirik Yuna.
Hehe ... sebenarnya aku yang meminta kepada bibi agar kamu mengantarkannya untukku agar aku bisa melihat dan bertemu denganmu.
Batin Kagami Jiro masih tersenyum dan sesekali melirik Yuna.
"Karena makanan ini cukup banyak, mari kita makan bersama." ucap Kagami Jiro yang mulai mengeluarkan satu persatu susunan rantang stainless itu di atas meja di sebelah.
"Uhm ... itu untuk kamu saja. Aku akan makan di rumah saja nanti." tolak Yuna dengan sopan.
"Tidak. Kamu harus menemaniku makan siang." Kagami Jiro mulai mengambil sebuah sumpit untuk mengambil sepotong ayam lalu mulai menyuapi Yuna.
"Baiklah ... tapi aku akan makan sendiri." ucap Yuna mulai mendorong tangan Kagami Jiro.
"Tapi aku juga ingin menyuapimu. Karena kamu sudah rela datang dan mengantarkan semua ini, maka ijinkan aku sedikit berbuat sesuatu untukmu . Ayo sekarang buka mulutmu ..." ucapan halus dan lembut itu lebih mirip seperti sebuah pemaksaan secara halus, dan semua itu berhasil membuat tubuh Yuna reflek melakukan semua perintah Kagami Jiro.
"Lain kali aku ingin kamu sendiri yang memasak untukku." ucap Kagami Jiro sambil memasukkan sepotong kecil ayam ke dalam mulutnya.
"Hhm. Baiklah ... lain kali aku yang akan memasak untukmu. Tapi aku harap kamu tidak terkejut saat mencicipi masakanku." sahut Yuna dengan asal.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Aku akan menantikannya!!" sahut Kagami Jiro mulai menyuapi Yuna kembali dengan bersemangat.