
"Putri bungsu kami Yuna memang selalu waspada dan berhati-hati terhadap orang asing. Jadi tolong tuan muda Kagami Jiro bisa memakhlumi semua ini." imbuh ibu Yuna kembali.
"Ibu ..." sela Yuna dengan nada merengek.
Sedangkan ibu Yuna hanya tersenyum mengkerutkan keningnya dan mengangguk pelan menatap Yuna, putri kesayangannya. Yuna sedikit mendegus dan mulai menikmati makan malamnya kembali dengan wajahnya yang sedikit murung.
"Tidak masalah, Bibi. Aku begitu memahaminya kok. Dan tindakannya memang sangat bagus untuk selalu waspada dan berhati-hati, terlebih jika sedang menghadapi orang asing." jawab Kagami Jiro dengan nada bersahabat.
"Hhm. Memang benar sekali, Tuan. Yuna memang selalu saja memiliki tingkat kewaspadaan yang begitu tinggi. Bahkan Yuna pernah menghajar temannya fakultasnya sendiri karena mengira pria itu adalah salah satu dari berandalan yang sedang mengganggu temannya." ucap ayah Yuna terkekeh.
"Yuna bisa bela diri?" tanya Wilson dan Kagami Jiro secara bersamaan.
Dan kedua pria itu terlihat begitu terkejut dan saling menatap satu sama lain karena berkata bersamaan. Namun Wilson segera meringis dan mengalihkan pandangannya agar tidak beradu pandang dengan Kagami Jiro.
"Yuna sangat pandai judo maupun kendo. Bahkan dia pernah menjadi pelatih untuk anak-anak kompleks saat di SMU maupun saat di New York." sahut ayah Yuna menceritakan putri bungsunya.
"Keren sekali!" gumam Wilson begitu takjub dan dia mengatakannya secara tak sadar. Namun seketika nyalinya menjadi ciut saat ditatap oleh Kagami Jiro dengan tatapan yang begitu menusuk.
"Hhm. Yuna sangat keren. Bahkan dia bisa melawan dan mengalahkan semua pengawalku dengan begitu mudahnya saat itu." celutuk Jonathan mulai meminum teh matcha hangatnya kembali.
"Lelucon macam apa ini, Jonathan?!" Yuna menonjok pelan lengan Jonathan karena sedikit kesal jika mengingat kejadian saat itu. "Jelas-jelas kau sudah mengatur semuanya saat itu dengan sengaja membiarkanku menang ... cihh .." imbuhnya mengerucutkan bibirnya.
"Ahahaha ... biar bagaimanapun kau tetap menang bukan?" Jonathan tertawa renyah dan puas membuat Yuna kesal.
Mereka semua tertawa bersama, kecuali Yuna. Bahkan Kagami Jiro juga ikut tertawa bersama mereka karena baru mengetahui sesuatu yang begitu luar biasa.
Gadis bermulut pedas itu pandai melakukan kendo dan judo ya. Hmm ... mengapa aku melewatkan informasi itu? Keren sekali!
__ADS_1
Batin Kagami Jiro yang masih ikut tertawa bersama mereka.
Perbincangan hangat dan penuh warna itu mengiringi makan malam mereka hingga tak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukun 10 PM. Jonathan, Wilson, dan Kagami Jiro mulai berpamitan untuk segera pulang.
"Terima kasih, Paman ... bibi sudah mengundangku malam ini. Aku akan segera pulang. Kapan-kalan aku akan mampir kembali." ucap Jonathan dengan nada santai saat berpamitan dengan kedua orang tua Yuna.
"Iya, Jonathan. Sering-seringlah datang kemari sebelum kamu sibuk karena mulai kuliah kembali." sahut Ibu Yuna yang terlihat sudah begitu akrab dengan Jontahan. Bahkan sudah seperti seorang ibu dan anak.
"Iya, Bibi. Aku akan datang." sahut Jonathan dengan manis. "Paman, aku pulang. Bye, Yuna." kini Jonathan mulai melenggang dan melambaikan tangannya.
'Bye, Jonathan!" sahut Yuna juga melambaikan tangannya untuk Jonathan.
"Paman, bibi ... aku juga pamit. Terima kasih sudah mengundangku malam ini." kini Wilson dengan sangat ramah berpamitan.
"Iya, Wilson. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk makan malam bersama kami." sahut ibu Yuna dengan ramah.
"Baik. Aku pulang. Permisi, Paman ... bibi ... Yuna ... tuan Kagami Jiro ..."
Dan entah kenapa senyumannya itu terlihat begitu penuh misteri dan mencekam. Auranya sungguh menakutkan dan membuat Wilson seketika merinding.
Apakah aku sedang dalam bahaya? Matilah aku ... sepertinya besok tuan Kagami Jiro akan melakukan sesuatu kepadaku. Karena perasaanku sungguh merasa tak enak.
Batin Wilson mengusap tengkuknya dengan kening yang berkerut.
"Baik, Tuan Kagami Jiro." sahut Wilson menyunggingkan sebuah senyuman namun terlihat begitu terpaksa dan sangat kaku.
"Hati-hati, Wilson!" celutul Yuna cengengesan.
__ADS_1
"Ahaha ... iya, Yuna." sahutnya merasa kikuk.
"Rumah Wilson hanya beberapa langkah saja dari sini bukan? Dia akan selamat dan baik-baik saja kok." sahut Kagami Jiro dengan nada begitu ramah, namun terkesan menyebalkan untuk Yuna, dan terkesan sebagai peringatan untuk Wilson.
"Hhm. Iya, Tuan Kagami Jiro. Tuan benar sekali." sahut Wilson.
Kini Wilson mulai berbalik dan melenggang untuk pulang ke apartemennya yang hanya selang beberapa ruangan saja dari apartemen keluarga Yuna.
"Bibi, paman. Kalau begitu aku juga pamit dulu. Terima kasih banyak sudah mengundang. Masakan bibi sungguh sangat enak. Lebih enak daripada masakan-masakan si restora. Apalagi takoyaki buatan bibi. Aku suka sekali." ucap Kagami Jiro yang sebenarnya berkata dengan jujur.
Karena Kagami Jiro memang sangat menyukai makanan rumahan dan makanan tradisional daripada masakan-masakan di restoran. Terlebih masakan kekinian, dia sangat kurang menyukainya.
"Kalau begitu kami akan mengundang tuan muda Kagami Jiro lagi lain kali. Bibi akan masak yang banyak lagi. Apalagi sebentar lagi Yuna akan berulang tahun. Biasanya kita hanya merayakannya dengan makan bersama sama seperti malam ini." ucap ibu Yuna begitu antusias.
"Ibu ..." sela Yuna sangat keberatan mendengar ucapan dari ibunya.
Namun ibunya hanya tersenyum saja melirik Yuna. Sementara Kagami Jiro tersenyum begitu lebar dan terlihat sangat bersinar karena suasana hatinya membaik dalam seketika.
"Baiklah, Bibi. Aku akan datang lagi saat bibi dan paman mengundangku. Kalau begitu aku pamit. Selamat malam dan selamat beristirahat. Sampai jumpa, Yuna." ucap Kagami Jiro dengan ramah.
Bahkan sebelum berlalu, dia sempat melirik Yuna dan tersenyum begitu misterius. Namun Yuna tak terlalu menanggapinya dan malah masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil sesuatu. Sesuatu yang mau dia titipkan untuk Kagami Jiro.
Namun setelah Yuna kembali ke pintu keluar, Kagami Jiro sudah tak ada disana. Akhirnya Yuna berusaha untuk mengejarnya karena harus memberikan barang itu untuk Kagami Jiro.
"Huft. Mengapa aku bisa melupakannya. Padahal barang ini sudah aku siapkan." keluh Yuna.
Setelah memberanikan dirinya untuk menaiki elevator itu lagi dan berhasil di lantai dasar, akhirnya Yuna mendapati Kagami Jiro sedang bercakap dengan seorang gadis. Dan ternyata gadis itu adalah Nana Fukada.
__ADS_1
"Nana Fukada juga tinggal disini?" gumam Yuna mengkerutkan keningnya. "Mereka berdua terlihat dekat sekali, apa tidak takut jika Tanaka Miuri akan salah paham? Huft ... sudahlah. Ini bukan urusanku! Sebaiknya segera hampiri mereka dan serahkan barang ini untuk pria licik ini lalu kembali pulang lagi." imbuh Yuna masih bergumam.
Yuna mulai melenggang dan semakin mendekati mereka berdua yang tengah asyik berbincang dan terlihat begitu dekat dan mesra.