
Ketiga pria bule yang sebenarnya tidak cukup memiliki kesasaran dan sedikit mabuk itu masih saja tertawa lepas dan salah satu dari mereka masih saja menggendong Yuna dengan bahu kirinya.
Yuna tak hanya diam, berulang kali Yuna melayangkan tinjunya untuk memukuli punggung pria bule itu, namun semua usahanya adalah sia-sia. Karena pria itu pastinya lebih kuat dan tak akan melepaskan Yuna.
Hingga akhirnya Yuna mulai memutar otaknya agar bisa terlepas dari mereka dan mulai menggigit bagian punggung pria itu sekuat tenaga, bahkan sampai berdarah.
"What the f*ck with this bit*h!! ( Apa-apaan jaalang siapan ini!!)" geram pria yang sedang menggendong Yuna dan langsung menurunkan Yuna begitu saja.
Yuna memanfaatkan kesempatan emas itu sebaik mungkin dan segera meninggalkan mereka bertiga dengan berlari dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Namun saking buru-burunya dan saking bersemangatnya berlari, tiba-tiba saja Yuna malah menabrak seseorang dengan cukup keras dan sebenarnya cukup menyakitkan keningnya.
BUUGGHH ...
Tak sengaja Yuna menabrak seorang pria dengan gaya berpakaian yang super rapi, namun pria itu bukannya segera melepaskan Yuna melainkan malah menahan tubuh Yuna agar tidak terlepas darinya.
"Sampah mana lagi sekarang ini!! Lepaskan aku!!" gertak Yuna yang masih berusaha mendorong tubuh pria itu untuk berusaha melepaskan dirinya tanpa melihat wajahnya.
Namun tiba-tiba saja Yuna mulai menghentikan usahanya setelah pria itu mengatakan sesuatu dan suaranya terdengar sangat tidak asing, bahkan menggunakan bahasa seperti dirinya.
"Tenanglah, Yuna. Ini adalah aku. Kamu aman bersama denganku." ucap pria itu begitu lembut dan membelai lembut rambut Yuna, namun pandangannya tajam menatap ketiga pria bule itu.
Yuna mulai mendongak untuk memastikan bahwa pria yang saat ini berada di hadapannya adalah memang yang sudah dikenalinya selama ini. Dan wajah penuh rasa lega disertai dengan senyuman tipis kini mulai menghiasi wajah ayu nan tegas itu.
__ADS_1
"Jiro ..." ucap Yuna yang terlihat begitu lega saat melihat kehadiran sang suami, seakan sudah mendapati seorang pahlawan yang datang untuk menyelamatkan hidupnya.
"Ya, ini adalah aku! Ayo kita segera kembali ke hotel!" Kagami Jiro mulai meraih tangan Yuna untuk menggandengnya dan berniat segera meninggalkan tempat itu. "Igor, bereskan mereka bertiga dan segera kembali ke hotel!" titah Kagami Jiro kepada Igor yang rupanya sudah datang bersama dengan Kagami Jiro beberapa saat yang lalu.
"Baik, Tuan Kagami Jiro! Siap laksanakan!" Igor menyauti dengan nada rendah namun terdengat penuh dengan keyakinan.
Kagami Jiro segera menghadang sebuah taxi dan segera menuju ke Monsieur George Hotel and Spa yang terletak tak jauh dari Menara Eiffel.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu agar tidak pergi kemana-mana, Yuna? Mengapa kamu sampai pergi sejauh ini?" tanya Kagami Jiro mulai mengintrogasi Yuna saat di dalam taxi.
"Maaf, aku hanya pergi untuk melihat air mancur dan berjalan-jalan di sekitar sungai Seine. Namun tak sadar aku malah sudah pergi terlalu jauh dan malah tersesat begitu saja. Maaf, Jiro." ucap Yuna begitu menyesal dan merasa bersalah.
"Huuftt ... lain kali jangan pergi sendirian seperti itu! Tunggu aku dan kita akan pergi bersama!" tandas Kagami Jiro menghembuskan nafas kasarnya ke udara.
"Tenang saja, Igor cukup kuat dan cerdas jika hanya untuk menghadapi ketiga pria kelas teri itu." sahut Kagami Jiro begitu santai.
"Kelas teri?" ucap Yuna hampir saja tak percaya saat Kagami Jiro begitu menganggap remeh ketiga pria bule itu yang bahkan berbadan lebih besar dari Kagami Jiro.
"Kesadaran ketiga pria itu sedang tidak baik karena alkohol. Itu menjadikannya salah satu titik lemahnya saat ini. Sudahlah, jangan khawatirkan pria lain di hadapan suamimu, Yuna!" sungut Kagami Jiro sudah mulai malas untuk membahas hal itu, terlebih Yuna terlihat begitu mengkhawatirkan Igor saat ini.
"Pria lain? Bahkan dia adalah asisten pribadimu yang selama ini sudah selalu membela dan mengabdi kepadamu, Jiro? Apa kamu sama sekali tidak punya hati dan perikemanusiaan?" ucap Yuna sedikit tak terima dengan ucapan dari Kagami Jiro.
Kagami Jiro terlihat mulai menghela nafas panjang lalu mulai mengeluarkannya perlahan.
__ADS_1
"Yuna, apa kamu sungguh tidak mengerti?! Aku ini suamimu. Tapi kamu malah mengkhawatirkan pria lain di hadapanku. Bagaimana perasaanmu jika aku bertindak seperti itu? Bagaimana jika aku memperhatikan dan mengkhawatirkan seorang gadis di hadapanmu?!" ucap Kagami Jiro yang mulai sedikit kesal, karena Yuna selalu saja cuek dan tidak memikirkan perasaan Kagami Jiro.
"Itu tergantung!" jawab Yuna dengan entengnya. "Jika kalian masih wajar dan tidak melebihi batasan, maka itu tidak menjadi masalah untukku." imbuh Yuna yang semakin membuat Kagami Jiro cukup kesal dan merasa lelah hingga akhirnya pria yang selalu berdiri di puncak tertinggi itu lebih memilih untuk diam dan tak melanjutkan perdebatan lagi.
"Sudahlah. Mari kita segera pulang dan segera makan saja. Kamu sudah lapar bukan?" ucap Kagami Jiro mulai mengalihkan pembicaraan agar perdebatan itu tak berlanjut dan membuat suasana bulan madu menjadi semrawut dan kacau.
"Aku tidak lapar!" ucap Yuna memalingkan wajahnya menghadap kaca jendela dan mulai menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya.
"Apa kamu yakin? Tidak mau makan makanan manis? Berkuah? Pedas?" ucap Kagami Jiro lagi mulai menurunkan egonya dan memilih untuk mengalah demi sang istri.
"Ya!!" jawab Yuna begitu tegas, yakin dan tak ada keraguan.
Namun rupanya kenyataan tak bisa berbohong dan berjalan sejalan dengan ucapan yang dilontarkan oleh Yuna, karena tiba-tiba saja mulai terdengar suara yang berasal dari perut Yuna. Dan hal ini sungguh membuat Yuna malu hingga wajahnya mulai merona.
Sementara Kagami Jiro terlihat mulai tersenyum gemas hingga melupakan rasa kesalnya beberapa saat yang lalu. Namun Kagami Jiro segera menuntupi senyumnya dengan punggung jemari kanannya yang digunakan untuk menutupi bibirnya yang sedang tersenyum, bahkan sebenarnya saat ini sedang menahan tawa.
"Baiklah. Jangan menolak lagi. Sebaiknya kita segera makan siang. Dan sebenarnya ini sudah sangat terlambat untuk melakukan makan siang." ucap Kagami Jiro memutuskan tanpa meminta pertimbangan dari Yuna lagi. "Please stop at the front restaurant, Sir! ( tolong berhenti di restoran depan, Pak!)" imbuh Kagami Jiro mulai memerintahkan supir taxi itu.
"Sure, Sir." jawab supir taxi itu dengan nada rendah dan mulai bersiap untuk menepikan taxi itu di depan sebuah restoran Persancis yang sudah diperintahkan oleh Kagami Jiro.
Setelah beberapa saat taxi itu mulai berhenti dan Kagami Jiro mulai memberikan beberapa lembar uang dengan mata uang Perancis untuk sopir itu. Lalu Kagami Jiro dan Yuna mulai menuruni taxi itu dan mulai memasuki restorant untuk segera melakukan makan siang yang sudah sedikit terlambat ini.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1