Casanova In Love

Casanova In Love
Kegundahan


__ADS_3

Malam yang begitu sunyi bagi Yuna. Di tempat yang baru dan suasana yang baru tanpa kehadiran sosok suami yang baru saja menikahinya. Kebersamaan yang seharusnya terjadi begitu hangat dan indah kini malah meningglakannya dan berteman dengan sunyi.


Di dalam kamar yang begitu rapi dengan nuansa putih ini sudah dihias dengan begitu indah untuk menyambut pasangan pengantin baru yang baru saja melangsungkan pesta pernikahannya di Palace Hotel Tokyo sore ini.


Yuna terduduk di pinggiran tempat tidurnya dan mengusap lembut pembaringan yang begitu empuk nan harum itu. Pandangannya kosong menatap pembaringan dengan sprei putih yang menjuntai hingga lantai itu.


Meskipun belum cukup siap untuk menghadapi malam pertama yang Yuna bayangkan terasa cukup menyeramkan, namun hal seperti ini juga bukanlah menjadi sebuah keinginannya untuk menunda malam pertama sebagai pasangan pengantin baru.


Rasanya begitu sedih dan sesak saat menyadari suaminya kini sedang berada di dalam jeruji sel seorang diri. Di tempat yang gelap dan panas. Dan tentunya tempat itu akan membuat Kagami Jiro merasa sangat tidak nyaman.


TRING ...


Di tengah-tengah kesedihannya di tengah malam, kini ponselnya mulai berbunyi menandakan sebuah pesan sudah mulai diterimanya. Yuna meraih ponsel itu untuk melihat siapa yang sedajg mengirimkan pesan untuknya saat ini. Dan rupanya pesan itu berasal dari sebuah nomor baru.


Yuna, apa kamu sudah tidur? Kagami Jiro.


Membaca pesan yang ternyata Kagami Jiro-lah sebagai pengirimnya, membuat dada Yuna seketika berdugup lebih kencang. Dengan cepat Yuna segera menghubungi nomor baru itu. Dan setelah cukup lama menunggu, panggilan itu kini mulai diangkat oleh seseorang dari seberang line.


"Hallo, Yuna." suara maskulin dari seorang pria yang sangat tidak asing mulai terdengar dari seberang line.


Ini adalah pertama kali Yuna merasa begitu merindukan sosok Kagami Jiro, bahkan hanya bisa mendengar suaranya saja sudah membuat Yuna merasa lega dan sedikit bahagia.


"Yuna ... apa kamu mendengarku?" ucapan yang terdengar begitu lembut dan hangat kini mulai terdengar lagi dan membuyarkan angan Yuna.


"I-iya ... aku mendengarmu." jawab Yuna sedikit terkejut.

__ADS_1


"Mengapa belum tidur? Ini sudah begitu larut, Sayang?" Kagami Jiro masih berbicara dengan santai seperti biasanya dan tidak terlihat sedang memiliki sebuah beban apapun saat ini.


"Bagaimana aku bisa tidur dan beristirahat dengan tenang,.sementara kamu sedang berada di jeruji sel?" ucap Yuna yang membuat dirinya sendiri merasa sesak dan ngilu.


"Yuna istriku yang cantik. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Sayang. Aku baik-baik saja. Dan sebentar lagi aku juga akan kembali ke rumah kok. Kamu tenang saja ya ..." bujuk Kagamk Jiro dengan nada bicara seakan dia sedang membujuk seorang gadis kecil.


Mendapatkan bujuk rayu dengan kata-kata yang begitu manis sebenarnya cukup membuat Yuna merasa malu dan salah tingkah. Meskipun saat ini mereka tidak bertatap muka secara langsung, namun bagi Yuna berbincang dengan Kagami Jiro melalui panggilan telpon seakan sedang berbincang secara langsung di hadapannya.


"Mengapa ponselmu tidak aktif?" tanya Yuna mengusir rasa malunya dan berusaha untuk mengalihkan pembicarannya.


"Ponselku disita oleh mereka. Dan ini aku meminjam ponsel salah satu dari penjaga." jawab Kagami Jiro dengan jujur.


"Apakah disana begitu panas dan pengap? Apa kamu bisa beristirahat dengan baik? Apa mereka memberikan tempat tidur yang layak? Apa makanan disana enak? Tidak ada makanan sea food kan?" Yuna menyerang Kagami Jiro dengan pertanyaan bertubi dan terlihat jika Yuna sedang sangat mengkhawatirkan Kagami Jiro.


Kagami Jiro tertawa kecil saat mengetahui jika dibalik semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Yuna tersimpan sebuah kekhawatiran untuk dirinya. Dan tentu saja itu membuat Kagami Jiro begitu berbunga-bunga tak terkira.


Dan sebenarnya ucapan dari Kagami Jiro ini hanyalah sebuah kebohongan belaka. Tidak ada jenis kamar seperti itu di dalan jeruji sel!


"Benarkah itu? Syukurlah jika memang seperti itu." ucap Yuna dengan polosnya tanpa ada rasa curiga sedikitpun, dan ucapan dari Kagami Jiro tentu saja membuat Yuna menjadi sedikit lega karena mengetahui jika Kagami Jiro baik-baik saja.


"Hhm. Makanan disini sangat enak. Tempat tidurnya juga sangat nyaman dan empuk. Tempat ini juga tidak panas dan tidak pengap. Namun hanya ada satu yang kurang ..." sahut Kagami Niro mulai mengentikan ucapannya kembali.


"Apa? Apa mereka tidak memberikan takoyaki untukmu?" potong Yuna. "Apa masakan takoyaki mereka kurang enak? Kalau begitu aku akan memasak takoyaki untukmu esok dan akan membawakannya kesana!" ucap Yuna mengusulkan.


"Bukan, Yuna. Bukan seperti itu ... namun aku juga tak akan menolak apapun yang kamu masak." sahut Kagami Jiro yang sukses membuat Yuna merona meskipun mereka hanya sedang berbincang melalui panggilan telpon saja.

__ADS_1


Lagi-lagi Yuna dibuat semakin merona oleh ucapan dari Kagami Jiro. Namun untung saja perbincangan ini semua hanya melalui sebuah panggilan, jadi wajah merah Yuna tak akan terlihat oleh Kagami Jiro.


"Baiklah. Aku akan memasak untukmu setelah kamu pulang." jawab Yuna sedikit tersipu malu.


"Terima kasih, Sayang." Kagami Jiro menyauti dengan sumringah dan tentunya Kagami Jiro juga sudah tak sabar untuk segera pulang ke rumah besar Kagami.


"Oh iya. Kamu bilang tadi masih ada satu hal yang kurang. Apa itu?" tanya Yuna kembali teringat dengan ucapan Kagami Jiro beberapa saat yang lalu.


"Ya. Meskipun tempat ini begitu nyaman, namun bagiku masih belum lengkap. Karena disini tidak ada kamu. Jadi dimanapun aku berada, sebaik apapun tempat itu ... bagiku tempat itu tidak akan sempurna jika kamu tak ada bersama denganku." jawab Kagami Jiro yang lagi-lagi membuat Yuna tersipu malu hingga tak bisa berkata-kata lagi.


Pria ini sungguh pandai sekali berkata-kata manis dan membuat seorang gadis merasa malu. Apakah dia selalu begitu kepada setiap gadis? Selama ini aku merasa begitu biasa mendapatkan pujian darinya. Namun mengapa kini aku merasa sangat malu ketika dia mengatakan hal-hal manis seperti itu kepadaku? Apakah aku sudah benar-benar membuka hatiku dan mulai menyukainya? Aku tidak menginginkan dia berada di sel jeruji saat ini. Namun aku juga belum siap saat kelak harus bertemu dengannya ... di rumah yang sama ... di kamar yang sama ... sebagai pasangan suami istri. Ahhh ... aku tidak bisa membayangkan semua itu.


Batin Yuna mulai gelisah sendiri.


"Yuna, kamu tidur dan istirahatlah. Ini sudah sangat malam. Jangan terlalu sering tidur terlambat." ucap Kagami Jiro membuyarkan angan Yuna.


"Oh ... baiklah. Kamu juga istirahatlah."


"Okay. Bye ..."


"Bye ..."


Yuna mulai mengakhiri panggilan itu dan segera meletakkan benda pipih itu di atas nakas. Yuna mulai membaringkan dirinya di atas pembaringan berukuran king itu dan mulai menarik sebuah selimut putih yang tebal dan lembut.


Tak butuh waktu yang cukup lama, akhirnya Yuna mulai tertidur begitu saja. Perbincangan dengan Kagami Jiro meskipun hanya melalui sebuah panggilan telpon rupanya sudah cukup menenangkan hati Yuna.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2