
Ratusan orang terlihat datang berpasangan maupun berkelompok dan mulai mengisi ruang-ruang yang ada di bawah kerlap-kerlip lampu dan dentum musik yang begitu memekakkan telinga oleh seorang penghela cakram alias disjoki ( DJ ).
Seorang pengunjung pria tampan yang terus mengangguk-anggukkan kepala dan menggerakkan tangannya ke atas dan bawah di satu sudut meja bar bersama seorang gadis cantik. Sesekali pria itu mengisap rokok dalam-dalam lalu mengepulkan asapnya melalui hidungnya, dia juga terlihat begitu menikmati musik elektronik dari sang DJ.
"Bagaimana keadaan ayahmu, Nana? Apa dia juga sudah kembali ke Jepang?" tanya pria tampan yang tak lain adalah Kagami Jiro saat berada di sebuah cafe club bersama Nana Fukada. Dia juga terlihat mulai mematikan puntung rokoknya.
Mereka terlihat datang bersama di cafe bar ini tanpa mengawal, dan tanpa manager. Karena Nana sudah sangat merasa aman meski hanya bersama dengan Kagami Jiro saja.
Dan tentu saja Nana begitu mengetahui kemampuan bertarung Kagami Jiro, seorang pemimpin dari Doragonshadou yang tentunya begitu kuat, menakjubkan dan tak terkalahkan. Bahkan sampai saat ini, belum ada seorangpun yang mampu untuk menandinginya.
"Hhm. Kami semua kembali ke Jepang bersama, Jiro. Penyakit alzheimer ayah kini menjadi semakin parah. Daya ingatnya juga semakin menurun dan terkadang ayah sering tidak mengenali kami. Bahkan dia juga sudah mulai jarang berbicara. Ayahku hanya menghabiskan hari-harinya di atas kursi roda dengan tatapan yang selalu kosong dan linglung." ucap Nana Fukada memperlihatkan raut wajahnya yang begitu sedih.
"Penyakit progresif ini sungguh sudah menghancurkan memori dan fungsi mental penting dari ayahku. Koneksi sel otak dan sel-sel semakin merosot dan mati dari hari ke hari. Huft ..." Nana menghembuskan napas kasarnya ke udara dan mulai meneguk segelas red wine miliknya. "Akhirnya saat ini tubuh ayahku hanya bergantung pada obat-obatan seperti rivastigmine yang bisa memperlambat perburukan gejala yang dialami saat ini. Dokter juga dapat menganjurkan psikoterapi, antara lain dengan terapi stimulasi kognitif." imbuhnya gadis berwajah cantik itu sambil menatap gelas yang masih berada digenggamannya dan masih terisi dengan red wine.
"Jadi pengobatan selanjutnya akan dilakukan di Jepang?" tanya Kagami Jiro bertopang dagu menatap gadis bermata hazel yang kini sedang duduk di sampingnya.
"Yeap. Dokter menyarankan seperti itu, Jiro. Karena kita juga tidak bisa untuk selalu stay di Amerika. Aku dan kakak juga harus segera kembali ke Jepang karena pekerjaan, sedangkan kami juga tidak akan tega membiarkan ibu menjaga ayah seorang diri di Amerika. Jadi keputusannya adalah melanjutkan pengobatan di Jepang." jelas Nana yang baru kali ini memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan orang lain.
Yeap, selama ini sosok seorang Nana Fukada adalah seorang gadis cantik yang terlihat memiliki kehidupan yang begitu sempurna tanpa ada cacat dan kekurangan di dalam hidupnya. Hidupnya terlihat seperti seorang putri dan penuh kehangatan serta kebahagiaan. Dia cantik, kaya, memiliki keluarga yang hangat dan masih utuh, memiliki seorang kakak yang tampan dan cerdas yang berprofesi sebagai jaksa.
"Aku harap ayahmu bisa segera pulih kembali dan kalian bisa berkumpul bersama." ucap Kagami Jiro dengan tulus dan berharap gadis itu juga tetap bersemangat untuk merawat dan berjuang untuk kesembuhan ayahnya.
"Hhm. Terima kasih, Jiro. Kau sendiri bagaimana dengan keluargamu? Sudah lama aku tidak bertemu dengan Christal." Nana mulai bertopang dagu dan sedikit menghadap Kagami Jiro dengan tersenyum tipis.
"Christal pasti akan sangat senang jika bertemu denganmu. Dia begitu mengidolakanmu, Nana." Kagami Jiro menyauti dengan datar dan kembali menuangkan red wine dari sebuah botol ke dalam gelasnya dan juga gelas Nana sekaligus.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita ajak Christal bermain di taman bermain di akhir pekan?" usul Nana dengan begitu bersemangat.
"Akhir pekan?" ucap Kagami Jiro sambil memutar bola matanya dan berusaha untuk mengingat jadwalnya di akhir pekan. "Sepertinya akhir pekan aku tidak bisa, Nana. Aku sudah ada janji."
"Huft ... padahal hanya itu waktuku yang tersisa. Pekan depan aku sudah akan mulai disibukkan dengan jadwal-jadwalku yang begitu padat, Jiro!" sungut Nana yang mulai memasang wajah cemberut.
"Baiklah, aku akan usahakan deh. Tapi aku tidak janji ya ..." sahut Kagami Jiro dengan senyum lebar dan menggoda gadis cantik itu. "Uhm ... Nana ..."
"Hhm?"
"Apa kau tidak takut jika ada paparazi yang mengambil beberapa gambarmu saat sedang bersama denganku? Bukankah itu akan menyulitkanmu?"
"Memang iya sih. Tapi tenang saja, cafe bar ini tidak akan mudah didatangi oleh wartawan."
Kagami Jiro hanya mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali lalu kembali meneguk red wine miliknya kembali.
BRRUUKK ...
PRRAANNGG ...
TAR ...
Tiba-tiba mulai terdengar sebuah kericuhan yang berasal dari ruangan sebelah dan mengakibatkan para pengunjung berlarian dan berteriak histeris.
"Jiro ... ada apa ini?" ucap Nana yang terlihat begitu ketakutan dan segera memeluk lengan Kagami Jiro.
__ADS_1
"Tenanglah, Nana. Jangan takut ... aku akan melihatnya sebentar, kamu tetaplah disini." ucap Kagami berusaha menenangkan gadis bermata hazel itu.
"Jangan lama-lama, Jiro! Aku takut sekali! Kamu tau kan aku hanya pergi bersamamu dan sudah menyuruh para pengawalku untuk pulang duluan." ucap Nana semakin memperkuat memeluk lengan Kagami Jiro.
"Hhm. Saat bersamaku, maka kau tidak perlu merasa khawatir. Aku akan mengatasi semua ini dengan cepat." Kagami mengusap jemari Nana yang masih memeluk lengannya lalu segera bangkit dari duduknya. "Tetap disini dan jangan pergi kemana-mana. Apa kau paham, Nana?"
Gadis itu menatap lekat sepasang manik-manik kecoklatan dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu khawatir, namun akhirnya Nana mengangguk pelan, "Aku paham, Jiro. Kamu berhati-hatilah!"
Kagami Jiro mulai menarik sudut-sudut bibirnya dan menyembulkan senyuman khasnya yang begitu mempesona, "Saat aku kembali, kau harus siapkan hadiah terbaik untukku."
Gadis itu seketika melongo dan tertawa sebentar, "Baiklah, cepat selesaikan dan segera kembali. Maka aku akan memberikan sesuatu untukmu."
"Aku pegang ucapanmu, Nana." ucap Kagami Jiro dengan nada menggoda dan mengedipkan satu matanya kapada Nana.
Sementara Nana hanya tersenyum lebar dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol dari Kagami Jiro. Tentu saja sangat konyol, di saat genting seperti ini pun dia masih sempat-sempatnya menggodanya dan bertingkah begitu santai.
Kagami Jiro mulai melenggang meninggalkan Nana dan mulai memasuki ruangan sebelah yang merupakan ruangan saat pertama kali memasuki cafe club itu.
Terlihat beberapa preman sedang menodongkan senjata api dan juga pisau kepada para pengunjung cafe club ini.
"Semuanya angkat tangan!!" perintah seorang pria dengan gaya rambut model mowhak dan bertubuh besar dan gempal dengan suara yang begitu menggelegar.
Semua pengunjung segera mengangkat kedua tangannya, sementara preman-preman yang lainnya mulai memeriksa dan mengambil benda-benda berharga milik pengunjung dari cafe bar malam ini.
Yeap, yeap, yeap! Semua pengunjung mengangkat tangannya kecuali Kagami Jiro yang sedang berdiri dengan tegap di dekat sebuah meja bartender dengan sepasang mata elangnya yang selalu siaga dan mengawasi setiap pergerakan dari ke-8 preman yang sedang melakukan aksi perampokan itu.
__ADS_1
Seorang perampok dengan salah satu mata ditutup dan hampir menyerupai seorang bajak laut, kini menyadari sosok Kagami Jiro yang memberontak dan tidak mengangkat kedua tangannya.
"Hei! Siapa kau, Cecunguk sialan?! Cepat angkat tanganmu!" hardik preman itu menatap tajam Kagami Jiro yang hanya berjarak kira-kira 5 meter darinya.