
BRAAKK ...
"Dasar menyebalkan!! Mengapa mereka malah semakin dekat dan berpacaran saat ini?!" seorang gadis cantik berambut blonde yang saat ini sedang diikatnya cepol, mulai menyapu bersih meja riasnya dengan kedua tangannya dalam sekali sapuan.
"Aku tidak boleh diam saja! Jiro hanya akan menjadi milikku! Dan mereka tidak boleh sampai menikah! Mereka tidak boleh! Hanya aku yang bisa mendampinginya dan menjadi menantu pertama keluarga Kagami!!" geramnya menatap lurus-lurus dirinya melalui cermin rias di hadapannya.
"Aku akan membuatmu menikahiku, Jiro!! Kita lihat saja, Jiro!! Kamu tak akan bisa menikahi gadis bernama Yuna itu!" geramnya dengan sebuah seringai yang penuh dengan aura kelam.
Gadis itu mulai meraih sebuah tas berwarna hitam yang mengkilap dan segera meninggalkan apartemenya.
Gadis itu mendatangi sebuah rumah sakit besar di Tokyo untuk melakukan sebuah pemeriksaan. Setelah melakukan pemeriksaan bersama seorang dokter, akhirnya Jessy mulai mendapatkan hasil laporan itu.
Wajah cantiknya terlihat tak sabaran untuk mendengarkan hasil pemeriksaan itu dari sang dokter.
"Bagaimana, Dokter? Sudah berapa usia kehamilanku saat ini?" tanya Jessy penuh binar.
Dokter wanita itu tersenyum ramah dan mulai menjawab pertanyaan dari Jessy, "Maaf, Nona Jessy. Tapi nona tidak sedang hamil."
Jawaban dari sang doker seketika membuat Jessy membelalak dan tak percaya.
"Tidak mungkin, Dokter!" ucap Jessy menyangkal sang dokter. "Tidak mungkin! Aku pasti hamil. Karena akhir-akhir ini aku sering mual dan merasa lelah tidak seperti biasanya!"
"Apa nona memiliki riwayat asam lambung? Karena menurut hasil pemeriksaan, saat ini tak ada apapun di dalam perut nona Jessy. Nona hanya masuk angin." ucap dokter itu lagi.
"Baik, Dok. Terima kasih!" dengan penuh kekecawaan dan kekesalan akhirnya Jessy mulai meninggalkan ruangan dokter spesialis kandungan itu
Di sepanjang lorong rumah sakit Jessy masih terlihat begitu kesal karena mengetahui kenyataan itu, bahwa sebenarnya Jessy sedang tidak hamil. Padahal beberapa hari ini gadis cantik ini sudah terlalu bahagia dan percaya diri, jika dia sedang mengandung anak Kagami Jiro.
__ADS_1
Karena Jessy memang mengalami tanda-tanda seperti orang yang sedang hamil, seperti yang sudah dia katakan kepada sang dokter spesialis kandungan itu.
Sial! Bagaimana ini bisa terjadi?!Apakah ini karena aku yang sudah terlalu bersemangat malam itu hingga akulah yang lebih dulu mencapai titik klimaaks? Argghh!! Sial!! Aku kehilangan sebuah kesempatan emas!! Menyebalkan!!
Gerutu Jessy sangat kesal hingga akhirnya gadis ini menendang sebuah gulungan kertas yang kebetulan sedang berada di hadapannya.
...⚜⚜⚜...
Setelah pulang dari kelas kuliah, Yuna memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan menjenguk Kagami Jiro lagi. Hari ini Yuna tidak akan pergi ke butiknya, karena sedang tidak ada tugas yang menumpuk di butiknya. Dan beberapa pekerjaan juga sudah dia serahkan kepada asistennya.
Ternyata Kagami Jiro sudah dipindahkan ke ruangan rawat tipe president suite. Yuna mengetuk pintu kamar itu lalu mulai masuk begitu saja. Dan ternyata di dalam ruangan sudah ada seorang wanita paruh baya dan seorang gadis yang sangat manis.
Karena merasa canggung dan tak enak khawatir akan mengganggu mereka, Yuna kembali meminta ijin untuk meninggalkan ruangan itu.
"Hhm ... maaf ... aku tidak tau jika sedang ada yang berkunjung. Aku akan datang lagi nanti. Permisi ..." ucap Yuna dengan sopan dan berniat untuk meninggalkan ruangan rawat super mewah itu.
"Yuna, tunggu! Jangan pergi!" ucap Kagami Jiro dengan cepat. "Kemarilah. Ada yang ingin bertemu denganmu ..." imbuhnya dengan nada bersahabat.
Tak ada pilihan lain, akhirnya Yuna mulai berbalik kembali dan mulai melenggang untuk bergabung bersama mereka.
Kedua wanita itu tersenyum menatap Yuna dengan hangat dan penuh dengan rasa keingintahuan. Yuna membalasnya dengan senyuman yang terlihat begitu kaku dan menganggukkan kepalanya sedikit, hingga akhirnya Yuna mulai beralih menatap Kagami Jiro yang sudah duduk bersandar dengan bantal di belakangnya.
Pria itu juga sedari tadi tersenyum hangat menatap Yuna, membuat Yuna semakin salah tingkah dan merasa semakin kikuk.
Sebenarnya siapa mereka berdua? Penampilan yang begitu rapi dan berkelas. Pakaian branded, sepatu branded, tas branded, aksesoris branded, make up yang tentu saja sangat mahal. Apakah mereka adalah ibu dari tuan Kagami Jiro dan adik perempuannya? Aduh ... seharusnya aku tidak langsung masuk saja tadi. Cerobohnya aku, dan sekarang malah bertemu dengan anggota keluarganya seperti ini dan merasa kikuk sendiri seperti ini.
Batin Yuna yang menyesali kehadirannya saat ini.
__ADS_1
"Yuna, kenalkan. Ini adalah ibuku dan adik bungsuku, Christal." ucap Kagami Jiro yang akhirnya mulai mengenalkannya kepada Yuna.
Nah ... benar seperti dugaanku bukan? Aduh ... bagaimana ini? Padahal aku belum siap untuk diperkenalkan dengan keluarga pria ini begitu cepat.
Batin Yuna mulai risau, namun segera membungkukkan badannya untuk memberikan salam kepada kedua wanita bergengsi itu.
"Hallo, salam kenal. Saya Yuna." ucap Yuna dengan ramah.
"Ternyata kak Yuna memang benar-benar cantik. Dan cantiknya sangat berbeda!" sahut gadia berwajah mungil yang tak lain adalah Christal. "Hallo, Kak. Aku Christal!" dengan senyum lebar Christal mulai mengulurkan tangan kanannya.
Yuna segera membalas uluran tangan dari Christal, "Salam kenal, Christal."
"Yuna ya ... selama ini putraku selalu memiliki seribu alasan untuk memperkenalkanmu kepada kami. Dan tak disangka sekarang kita malah bertemu disini." ucap Aiko dengan hangat dan ucapannya terdengar sangat bersahabat.
Tapi keramahan dari Aiko tak mengubah sedikitpun kegugupan Yuna saat ini, karena Yuna sudah tau jika Aiko adalah owner dari Ruby Shine, sebuah perusahaan perhiasan terbesar kedua di Asia dan merupakan tempat dimana sang ayah bekerja.
Yuna merasa begitu kecil bagaikan hanya seekor lalat di hadapan mereka semua. Dan membuatnya mengkerut dan tidak percaya diri.
"Iya, Nyonya Aiko. Salam kenal!" lagi-lagi Yuna membungkukkan badannya kembali dengan senyumannya.
"Jangan memanggilku nyonya, Yuna. Panggil saja bibi. Sepertinya kali ini putraku begitu menyukaimu." Aiko mulai beralih melirik Kagami Jiro dan kembali menatap Yuna dengan sebuah senyuman.
Kagami Jiro yang mendengarkan ucapan dari sang ibu tersayang mengusap tengkuknya dan tersenyum sedikit malu, karena ini adalah pertama kalinya Kagami Jiro mengenalkan seorang gadia dengan keluarganya, meskipun pertemuan mereka adalah tidak direncanakan sebelumnya.
"Baik, Bibi Aiko." Yuna menyauti dengan sopan dan masih begitu hormat.
"Setelah kamu sembuh, segera urus surat-surat dan segera lamar Yuna! Ibu tak ingin menunggu lebih lama lagi!" ucap Aiko tiba-tiba dan untaian katanya sukses membuat Yuna membelalak karena sangat terkejut.
__ADS_1
Berbeda dengan Kagami Jiro, tentu saja Kagami Jiro sangat merasa senang jika harus segera melamar dan menikahi Yuna.