Casanova In Love

Casanova In Love
Ruang Teater Spesial


__ADS_3

"Tuan Kagami Jiro!" ucap Yuna dengan begitu tegas dan melangkah cepat untuk segera mengejar Kagami Jiro.


Tapi diluar dugaan, tiba-tiba saja Kagami Jiro menghentikkan langkah kakinya dengan tiba-tiba hingga membuat Yuna menabrak sisi tubuh belakang Kagami Jiro dengan cukup keras.


DUAKKK ...


"Arghh ..." rintih Yuna sambil memegangi keningnya yang sedikit terasa sakit karena menabrak punggung Kagami Jiro yang cukup keras seperti batu.


Kagami Jiro mulai berbalik dan menghadap Yuna dengan kening berkerut, "Ada apa?" ucapnya dengam polos tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Mengapa tiba-tiba berhenti mendadak seperti itu?! Ini sakit sekali!" sungut Yuna yang masih memegangi keningnya.


"Bukankah tadi kau memanggilku?" ucap Kagami Jiro dengan memasang senyum tipis dan mengerutkan keningngnya.


"Ya. Itu memang benar. Tapi setidaknya jangan berhenti mendadak seperti itu, Tuan." ucap Yuna masih dengan sabar.


"Ah ... baiklah. Lain kali aku akan lebih berhati-hati. Namun kau juga harus harus berhati-hati. Sekarang aku akan pergi ke kasir untuk membayar beberapa barang dulu. Kau tunggulah sebentar disini!" ucap Kagami lalu mulai melenggang meninggalkan Yuna.


"Sungguh menyebalkan!" sungut Yuna masih saja tak terima.


Setelah beberapa saat, kini Kagami Jiro mulai datang kembali dengan membawa beberapa bingkisan yang sudah ditentengnya dengan manis.


"Ayo!" ajaknya kembali dan mulai melenggang meninggalkan toko aksesoris itu dan mulai menaiki eskalator untuk menuju lantai 5.

__ADS_1


Kini Kagami Jiro mulai memasuki sebuah gedung teater, dan ini sungguh membuat Yuna begitu kebingungan.


"Tuan. Apa yang akan kita lakukan disini? Ini kan teater film? Kita tidak sedang akan menonton sebuah film bukan?" ucap Yuna mengkerutkan keningnya menatap Kagami Jiro dari sisi samping dengan sedikit mendongak.


"Benar sekali! Kita tidak akan menonton sebuah film! Tapi kita akan menonton beberapa film hari ini!" ucapnya begitu santai.


"Apa??! Tapi ... tapi bukankah perjanjiannya kita hanya akan makan bersama saja?" protes Yuna yang terlihat begitu keberatan.


"Yeap. Tapi sebelum makan bersama, aku sedang ingin menonton dulu." jawab Kagami Jiro dengan santai. "Kau mau minum apa? Aku akan membelinya dulu. Americano coffe? Hot capuccino? Capuccino iced blend? Pinky berry yoggurt? Iced blend green tea? Hot green tea? iced cream? Iced blend chocholate? Hot chocholate? Katakan saja kau mau apa!" ucapnya hampir lengkap menyebutkan jenis minuman yang disediakan oleh bioskop ini. Bahkan sudah mirip seperti petugas penjaga bioskop saja. Oops!


"Capucino iced blend!" jawab Yuna dengan cepat dan sebenarnya dia hanya menjawab dengan asal.


"Hhm. Okay. Kau suka pop corn rasa apa? Chese? Chasew nut caramel? Spicy caramel? Original? Salt? Sweet glaze? Srawberry?" Kagami Jiro terus saja menyebutkan beberapa menu dan varian rasa dari yang disajikan dalam bioskop ini.


"Spicy caramel popcorn!" jawab Yuna dengan seulas senyuman yang terlihat begitu manis tapi tegas, yang sengaja dia lakukan agar membuat Kagami Jiro segera diam.


Yuna mendatangi sebuah kursi panjang yang cukup empuk dan duduk disana. Netranya ditebarkannya menyisiri segala penjuru ruangan depan bioskop ini, menikmati ketenangan di dalam tempat bioskop ini yang terlihat cukup sepi.


Bahkan dia tak melihat pengunjung lain yang sedang berada di teater ini sejak dia datang. Bukan hanya satu teater saja! Namun semua teater juga tidak memiliki pengunjung sama sekali! Ini aneh sekali!


"Ini aneh sekali! Mengapa di akhir pekan seperti ini, bioskop di mall sebesar ini bisa sampai tidak memiliki pengunjung sama sekali?" gumam Yuna yang mulai curiga. "Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah di akhir pekan semua orang tiba-tiba saja harus pergi bekerja kembali?"


"Ayo masuk!" tiba-tiba saja sudah ada seorang pria yang sudah berdiri dengan tegap di hadapan Yuna dengan membawa 2 gelas minuman dan sekantong popcorn ukuran jumbo.

__ADS_1


"Oh. Biar aku bantu membawankannya ..." ucap Yuna reflek karena melihat Kagami Jiro yang terlihat sedikit kesulitan untuk membawakan semua makanan itu.


Yuna mulai meraih popcorn jumbo itu dengan santai dan tulus memang hanya ingin membantu Kagami Jiro saja. Sementara Kagami Jiro malah terdiam menatap Yuna saja karena terpana dan berpikiran yang lain, seperti Yuna yang berubah menjadi lebih perhatian terhadap dirinya. Padahal itu dilakukan Yuna karena Yuna memang peka dan baik kepada siapapun.


"Film apa yang akan kita tonton, Tuan?" tanya Yuna mulai melenggang menyusuri sebuah lorong remang yang tidak terlalu panjang bersama Kagami Jiro di sampingnya.


"Katakan saja kau mau menonton film apa! Maka film itu akan segera kita tonton." sahut Kagami Jiro dengan santai.


Tentu saja jawaban Kagami Jiro sukses membuat Yuna melongo kembali dan begitu kebingungan menatap pria yang masih berjalan di sampingnya itu. Bagaimana mungkin bisa dia melakukan permintaan pemutaran film di bioskop umum seperti ini? Sedangkan semua teater sudah memiliki jadwal untuk pemutaran film masing-masing.


"Bagaimana? Kamu mau menonton film apa? Horor? Aksi? Petualangan? Romantis? Sejarah? Fantasi? Kartun? Atau ..."


"Aku lebih suka film aksi sih. Tapi terserah tuan Kagami Jiro saja. Karena aku hanya menemani tuan menonton saja." jawab Yuna dengan datar.


"Aku juga suka film aksi! Tapi akan lebih seru jika melakukannya secara langsung sih." sahut Kagami Jiro dengan senyum tipis. "Baiklah, kita akan menonton beberapa film action hari ini." imbuhnya lagi.


"Hhm. Baiklah."


Mereka terus melenggang bersama dan mulai berbelok ke arah sebuah teater. Dan lagi-lagi tempat ini memang sepi dan tidak ada pengunjung lainnya. Hanya ada dua orang pegawai yang berjaga di depan teater itu.


"Selamat datang, Tuan. Silakan masuk." sambut kedua pegawai wanita itu dengan ramah dan membungkukkan badannya.


Kagami Jiro hanya membalasnya dengan seulas senyum karena suasana hatinya sedang cukup baik saat ini. Biasanya dia tak akan menggubris dan menanggapi sambutan dan sapaan hangat seperti itu dan dia hanya akan melenggang dan berlalu begitu saja.

__ADS_1


Mereka berdua terus melenggang dan mulai memasuki sebuah teater yang lampunya masih menyala dengan sedikit remang-remang. Aroma khas teater yang memiliki harum khas, perpaduan antara wangi yang lembut dan juga aroma manis dari beberapa makanan seperti pop corn dan beberapa minuman lainnya mulai menyeruak memasuki indra penciuman mereka berdua.


Mereka berdua mulai berjalan di tengah-tengah ruangan teater menapaki jalan yang sedikit bertangga dengan berhiaskan kelap-kelip lampu kecil yang menghiasi di pinggiran jalannya. Begitu indah dan memberikan nuansa yang begitu romantis. Terlebih mereka sedang berdua di dalam ruang teater ini. Yeap, mereka hanya berdua saja!!


__ADS_2