Casanova In Love

Casanova In Love
Yuna Menghilang?


__ADS_3

Yuna terlihat masih berkutat di hadapan sebuah mesin jahit dan terlihat begitu fokus dan berkonsentrasi penuh untuk mengerjakan sesuatu. Semuanya dilakukan dengan pelan dan sabar untuk menciptakan sebuah seni yang indah melalui tangannya.


Rambutnya diikat ke belakang, sementara pergerakakan tangannya terlihat begitu lincah. Manik-manik indah itu juga selalu mengikuti pergerakan tangannya.


Sesekali Yuna terlihat menyeka keringatnya yang mulai membasahi pelipisnya. Tak ada hal lain yang sempat dilakukan oleh gadis berwajah cantik nan tegas ini. Bahkan beberapa kali ponselnya berbunyi, namun benda pipih itu tak sempat disentuhnya sekalipun.


Hari ini sudah menunjukkan pukul 8 PM, beberapa karyawannya sudah mulai meninggalkan butik dan ruang produksi ini. Hingga akhirnya kini para penjahit profesional yang bekerja untuk Yuna juga sudah pulang semua.


Mayu kembali mendatangi Yuna karena masih begitu mengkhawatirkan Yuna, yang sejak siang tadi terus saja menyibukkan dirinya di depan sebuah mesin jahit itu. Bahkan Yuna tak sempat untuk makan dan minum apapun sejak siang. Dan Yuna juga tak beristirahat sama sekali.


"Nona Yuna. Apakah aku bantu saja? Butik sudah tutup. Aku bisa membantumu menjahit sisanya. Nona Yuna pulang dan beristirahatlah. Bahkan Nona Yuna belum makan apapun sejak siang tadi." ucap Mayu yang terlihat begitu mengkhawatirkan Yuna.


"Tidak, Mayu. Aku akan berada disini sebentar lagi untuk menyelesaikan beberapa gaun dulu. Kamu pulang dan istirahat saja, jam bekerjamu sudah habis kok." Yuna menyauti dengan seulas senyum menatap Mayu meski hanya beberapa detik saja, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Kalau begitu biarkan aku membantu pekerjaan menjahit ini. Nona Yuna sudah bekerja terlalu keras. Bahkan kemarin juga pulang begitu larut." ucap Mayu masih ingin membantu Yuna karena tidak tega melihat Yuna bekerja sekeras itu sendirian.


"Terima kasih, Mayu. Tapi ..." ucap Yuna merasa tidak enak.


"Tidak ada tapi-tapi. Maaf, Nona Yuna ... tapi kali ini aku membangkang, dan aku akan tetap membantumu." ucap Mayu kekeh dan mulai mengambil beberapa kain berbahan satin ekslkusif yang begitu berkilau berwarna peach lalu mulai membawanya duduk bersama dengan ya di depan sebuah mesin jahit.


Yuna tersenyum penuh haru karena melihat asistennya yang sangat mengkhawatirkan dirinya dan rela membantunya bekerja hingga selarut ini.


"Terima kasih, Mayu." ucap Yuna dengan begitu tulus.

__ADS_1


"Sama-sama, Nona Yuna." sahut Mayu yang mulai mengerjakan proses penjahitan itu.


"Sudahlah, Mayu. Sudahh lama aku memintamu untuk memanggil namaku saja. Panggil saja aku Yuna. Kamu sudah seperti seorang teman untukku." ucap Yuna tanpa mengurangi konsentrasinya saat menjahit pakaian itu.


"Ehh? Tap-tapi ..." ucap Mayu yang masih saja merasa keberatan.


"Pokoknya aku tak mau mendengar ada embel-embel lain saat kamu memanggilku!" tandas Yuna terdengar cukup tegas, namun juga diiringi sebuah senyuman manis.


"Uhm. Baiklah, Yuna ..." ucap Mayu yang masih terdengar sedikit canggung.


Yuna tersenyum dan masih melanjutkan pekerjaannya dengan pelan dan hati-hati, agar tidak melakukan kesalahan sekecil apapun.


Sementara itu ...


Kagami Jiro yang sedang berada di dalam Buggati Divo hitam metaliknya terlihat cukup kesal namun juga mengkhawatirkan Yuna, karena Kagami Jiro baru saja menerima panggilan dari salah satu pengawal yang sudah dia tugaskanuntuk selalu mengawal Yuna melaporkan jika Yuna masih berada di butiknya hingga selarut malam ini.


Setelah beberapa saat akhirnya Kagami Jiro mulai menepikan mobilnya dan mulai melakukan parkir. Kagami Jiro mulai turun dari mobilnya dan mulai memasuki butik itu. Masih ada di lantai atas yang lampu ruangannya masih menyala. Dan Kagami Jiro segera mendatangi ruangan itu karena Kagami Jiro sangat yakin jika Yuna masih ada di dalam ruangan itu.


Dan ternyata benar seperti yang diperkirakan oleh Kagami Jiro. Saat Kagami Jiro memasuki ruangan produksi itu, memang Yuna berada di dalam ruangan itu.


Namun Mayu sudah tidak ada. Dan Kagami Jiro malah melihat seorang pria yang berusaha untuk melakukan hal buruk terhadap Yuna. Pria itu berusaha untuk menindih tubuh Yuna dan berusaha untuk memp* rkosa Yuna.


"Pergi kamu, bajingan gila!!" Yuna berusaha melepaskan dirinya dan berhasil menendang pria itu hingga menabrak sebuah mesih jahit.

__ADS_1


BRRAKK ...


Yuna dengan cepat mengambil sebuah patung manekin setengah badan dan digunakan untuk menyerang prua yang memakai penutup wajah itu.


Sementara Kagami Jiri malah hanya menyaksikan semua itu dari ambang pintu ruang produksi dengan berdiri bersandar pada dinding dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya. Senyuman indah dan terlihat begitu takjub mulai menghiasi wajah tampan itu.


"Calon istriku rupanya lumayan juga. Hanya berada disisiku selama beberapa waktu saja, dia sudah berubah menjadi kuat dan hebat seperti ini . Oh tidak ... sebenarnya dia sudah hebat sejak awal . Bahkan dia pernah berbuat kasar terhadapku dan menyerang aset berhargaku saat itu. Cck ... tidak ada gadis lain yang seperti ini." gumam Kagami Jiro tersenyum lebar penuh kepuasan.


Karena tak tega melihat Yuna lebih membuang-buang tenaganya lagi, apalagi sepertinya Yuna sudah terlihat begitu kelelahan, kini Kagami Jiro mulai melenggang dengan langkah lebarnya yang begitu santai memasuki ruangan produksi dan mulai menghampiri mereka berdua.


"Kamu ... sejak kapan datang?" ucap Yuna terkejut melihat Kagami Jiro yang kini sudah berada di sampingnya.


"Baru saja datang kok." ucap Kagami Jiro lalu membuka penutup kepala pria itu lalu mulai meraih dan menarik kerah pakaian pria itu dengan tangan kirinya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk mencelakai calon istriku?!" kali ini Kagami Jiro berkata dengan pelan namun penuh dengan penekanan, sepasang mata kecoklatan itu juga menatap tajam pemuda itu. "Berani menyentuh Yuna, itu berarti kamu sudah berani menjemput ajalmu sendiri!!"


"Ampun ... ampuni aku, Tuan ..." ucap pria itu terlihat begitu ketakutan. "Aku hanya melakukan perintah saja ..."


"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini?! Bicara yang jelas!!" tandas Kagami Jiro dengan suara yang menggelegar.


"Aku ... aku disuruh oleh nyo ... nyonya ..." ucap pria itu terbata dan terlihat mulai ragu kembali.


"Jika kamu tidak mau mengatakannya kepadaku tidak masalah. Namun jangan harap kamu masih bisa menyambut hari esokmu lagi!" sahut Kagamj Jiro dengan seringai yang terlihat begitu mencekam. "Yuna tutup matamu!" perintah Kagami Jiro.

__ADS_1


"Ba-baik ..." sahut Yuna tak kalah ragu, namun akhirnya Yuna mulai menutup sepasang manik-manik itu dengan kedua jemarinya.


"Tak pernah ada sebelumnya yang bisa untuk tetap bertahan hidup setelah mendapatkan super punch milikku dengan full power. Rasakan ini!!" Kagami Jiro mulai mengepalkan tangan kanannya dan mulai mengangkatnya ke udah dan sudah bersiap untuk mengayunkannya dengan target wajah pria itu.


__ADS_2