
JLEEBB ...
Sepasang mata hazel Nana yang begitu indah kini mulai membelalak, seakan jantungnya juga berhenti berdetak seketika. Dan dia terlihat begitu shock ketika melihat darah segar mulai mengucur tepat di hadapannya.
Bahkan pisau itu mendarat dengan manis, tepat di depan wajah cantik Nana dan menancap tepat pada punggung telapak tangan kanan preman itu yang sedang menodongkan pisau di depan wajah Nana.
Bagaimana shock-nya Nana saat ini yang pasti dia shock sampai tak bisa berkata-kata dan bertindak untuk sesaat. Dia hanya mematung dan terdiam untuk beberapa saat.
"Aarghhh ..." erang preman itu kesakitan dan mulai melepaskan Nana. "Beraninya kalian menipuku!!"
Setelah tersadar, Nana segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dan berlari ke arah Kagami Jiro, namun tiba-tiba saja seorang preman sudah bersiap untuk mengejar dan menangkap Nana kembali dari arah belakangnya.
"Nana, menunduk!" perintah Kagami Jiro sembari berteriak. "Sekarang!" tandasnya lagi dengan suara yang begitu tegas dan menggelegar.
Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, Nana segera menuruti perintah dari Kagami Jiro untuk segera menunduk. Di saat itulah Kagami Jiro mengeluarkan sebuah gantungan kunci.berukuran kecil dari saku pakaiannya dan dengan cepat Kagami Jiro mengaktifkan sebuah tombol kecil lalu mengarahkan pada preman yang sedang mengejar Nana.
Sebuah pelatuk berukuran minimalis mulai Kagami Jiro tarik tingga terdengar sebuah suara tembakan.
TAR ...
Sebuah peluru meluncur dari sebuah gantungan kunci minimalis berbentuk replika Tokyo Tower. Peluru itu mengenai bagian dada kanan preman itu, hingga akhirnya preman itu terjatuh di dasar lantai.
Sementara pria yang tertusuk pada telapak tangannya kini sedang berusaha untuk melepaskan pisau yang bahkan kini mash menancap pada punggung telapak kanannya.
Dengan menahan rasa sakitnya untuk sesaat, akhirnya pisau itu mampu dia cabut.
SSRREETT ...
"Arrgghh ... " erang preman itu menahan rasa sakit.
Bocah itu ... hebat sekai! Bahkan perhitungannya sangat akurat dan luar biasa. Dia menghempaskan pisau ini dengan penuh percaya diri dan penuh keberanian. Padahal jika meleset sedikit saja, pisau ini akan melukai wajah darivgadis cantik itu. Cara dia bertarung dan bela dirinya juga sungguh menakjubkan. Dia juga memiliki senjata rahasia yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Siapa sebenarnya dia?
__ADS_1
Batin preman itu yang masih mengawasi Kagami Jiro dari kejauhan.
Sementara kini Kagami Jiro mulai mengarahkan pistol rahasianya ke arah preman itu, lalu menarik pelatuknya dan mulai terdengar sesuatu.
TAR ...
BRRUUGGHH ...
Peluru itu mengenai kaki kiri preman itu dan membuatnya ambruk seketika. Yeap, senjata api rahasia ini akan memberikan pengaruh lumpuh dalam waktu beberapa saat untuk korbannya.
Tak lama kemudian beberapa anak buah dari salah satu klan Doragonshadou mulai berdatangan dan membawa para preman itu. Sebenarnya Kagami Jiro sudah menghubungi salah satu anak buahnya untuk menyusulnya dan membereskan dan menutup aksinya.
Kagami Jiro mulai melenggang mendekati Nana yang sudah terduduk lemas dan terlihat masih begitu shock, bahkan gadis bermata hazel itu juga terlihat sedikit lebih pucat.
"Nana, apa kau baik-baik saja?" ucap Kagami Jiro yang ikut terduduk di hadapan Nana.
"Hhm. Aku masih sedikit shock saja." jawabnya pelan. Namun kini gadis bermata hazel itu mulai menatap lekat Kagami Jiro dan terlihat begitu khawatir.
"Keningmu dan bibirmu berdarah, Jiro."
"Ahh ... yang benar? Mereka bahkan tak bisa menyentuhku sama sekali! Pasti ada yang salah." Kagami Jiro menyauti dan seakan tidak percaya jika dirinya sampai terluka. "Ini pasti darah dari para berandalan itu!"
"Tidak! Aku akan memeriksa dan mengobatinya!" ucap Nana yang masih terlihat begitu khawatir.
"Sudahlah, aku baik-baik saja, Nana. Ayo sekarang aku antar kamu pulang. Dimana kau tinggal sekarang? Atau apa kamu akan kembali ke rumah besar Fukada?" Kagami Jiro bangkit dan segera berdiri, dan diikuti juga oleh Nana.
"Antar aku ke appartemenku saja. Aku tidak mungkin pulang selarut ini ke rumah. Dan biasanya aku hanya akan kembali ke rumah di saat akhir pekan atau disaat jadwalku kosong."
"Baiklah, Nona Nana Fukada. Mari aku antar pulang." ucap Kagami Jiro dengan nada jenaka san tersenyum begitu menawan sambil membuka sedikit tangannya untuk Nana.
Dengan cepat Nana segera memasuki ruang itu dan menggandeng lengan Kagami Jiro dengan senyum lebar.
__ADS_1
Keduanya mulai melenggang dan meninggalkan cafe bar itu dan segera memasuki Buggati Divo yang sudah terparkir di depan cafe bar itu.
Buggati Divo itu mulai membelah jalanan kota Yokohama yang begitu dingin dan masih cukup ramai. Kagami Jiro mengemudikan dengan begitu santai menuju ke sebuah appartemen di daerah Shinjuku.
"Pulanglah, Nana. Aku juga akan segera pulang." ucap Kagami Jiro yang sudah menepikan mobilnya di depan sebuah appartemen.
"Mampirlah dulu, Jiro. Aku akan mengobati luka-luka itu dulu." sahut Nana dengan menunjukkan ekspresi seperti anak kucing.
"Sudah aku bilang ini bukan darahku, Nana. Aku tidak terluka." sahut Kagami Jiro tak mau kalah.
"Aku tidak percaya! Pokoknya kamu harus ikut aku!" ucap Nana masih kekeh.
Akhirnya dengan terpaksa Kagami Jiro menuruti permintaan dari gadis itu untuk ikut ke appartemennya. Setelah beberapa saat berjalan dan sebuah menaiki lift, kini mereka menuju lantai paling atas dari appartemant itu.
Keduanya mulai keluar dari lift dan memasuki salah satu appartemen yang berada tepat sebelah lift.
Kamar yang begitu rapi, harum, furniture mewah yang tertata dengan apik dan dipenuhi oleh nuansa putih dan dusty pink. Dan tentu saja itu adalah warna-warna kesukaan Nana.
"Nana, bagaimana mungkin kamu memilih lantai 100 untuk kamu tinggali? Jika aku, maaka aku akan lebih memilih lantai bawah. Atau paling tidak dibawah lantai 10." ucap Kagami Jiro keheranan sambil menyibak sebuah gorden putih berkilau dan mulai menatap keindahan kota Shinjuku di malam hari dari ketinggian 100 lantai.
"Aku suka saja sih, Jiro. Juga akan terasa lebih tenang disini. Dari sini aku juga bisa menatap keindahan kota Shinjuku." kini Nana sudah berdiri di samping Kagami Jiro menatap panorama malam yang begitu memukau, dengan kerlap-kerlip lampu kekuningan dan berwarna-warni yang menghiasi gedung-gedung pencakar langit itu.
"Ya, tapi aku tidak suka terlalu lama di dalam lift. Itu akan sedikit menghabiskan waktuku. Apalagi disaat aku sedang terburu-buru. Makanya aku biasanya mengambil lantai bawah."
"Baiklah, Tuan muda pertama Kagami pasti akan begitu sibuk." ucap Nana mulai menggoda Kagami Jiro.
"Tidak juga sih. Kau bahkan orang yang lebih sibuk dariku." sahut Kagami Jiro seadanya.
Nana tersenyum manis mendengar ucapan dari Kagami Jiro, "Baiklah, suduk di sofa dan aku akan segera mengobati lukamu." ucapnya lalu berbalik dan melenggang untuk mengambil kotak P3K.
"Haishh ... dasar Nana. Padahal sudah aku bilang ini bukan darahku." celutuk Kagami Jiro yang mau tidak mau kini dia juga berbalik dan menuruti ucapan Nana.
__ADS_1