
BRAKK ...
Tiba-tiba saja ada suara seperti benda terjatuh dari luar ruangan Yuna dan membuat Yuna senam jantung saat ini, karena saat ini tak ada siapapun di butik ini, kecuali Yuna. Semua karyawannya sudah pulang. Bahkan Mayu juga baru saja pulang beberapa saat yang lalu.
Yuna memberanikan diri untuk segera bangkit mendekati dan melihat asal suara dengan hanya mengandalkan penerangan yang berasal dari lighter ponselnya.
Namun belum sempat Yuna keluar dari ruangannya, tiba-tiba saja terdengar bunyi pintu yang terbuka dan mulai terdengar derap langkah seseorang dengan langkah yang begitu tegas namun melangkah dengan pelan.
Yeap, seseorang mulai memasuki ruangan Yuna dan kini dia semakin mendekati Yuna. Yuna begitu terkejut dan tak sengaja menjatuhkan ponselnya saking terkejutnya. Lighter yang berasal dari ponsel Yuna tepat menghadap ke atas, sehingga akan memperlihatkan beberapa bayangan besar pada benda-benda di sekelilingnya.
Sosok bayangan pria itu terlihat semakin mendekat, namun tak terlihat dengan begitu jelas. Semua terlihat gelap dan menjadi sedikit remang-remang. Yuna mulai melangkah mundur beberapa langkah dan terlihat begitu ketakutan.
"Siapa disana?! Jangan bermain-main seperti ini!!" ucap Yuna memberanikan diri dan terlihat begitu berani dengan melemparkan beberapa benda di sekelilingnya ke arah pria itu atau mungkin hantu.
Tak ada jawaban, pria itu masih terus melangkah dan melangkah hingga semakin mendekati Yuna. Sementara Yuna masih saja mundur beberapa langkah, hingga akhirnya Yuna sudah terjebak karena dibelakangnya sudah mentok dan menabrak meja kerjanya.
"Siapa disana?!!" teriak Yuna lagi yang kini sudah meraih sebuah vas bunga kecil yang berada di atas meja Yuna. "Aku akan membunuhmu jika kamu diam saja seperti itu!!"
Tetap tak ada jawaban, hingga akhirnya pria yang terlihat seperti sebuah siluet hitam itu semakin mendekati Yuna dan hanya berjarak kira-kira satu meter saja. Kini Yuna mulai mengangkat tangan kanannya ke udara dan bersiap untuk menyerang pria itu dengan vas bunga kecil yang sudah berada dalam genggaman tangan Yuna.
"Dasar hantu sialan!" teriak Yuna yang sebenarnya sangat ketakutan dan sudah memejamkan sepasang matanya. Namun tangan kanannya sudah melayang ke udara dan sudah bersiap untuk menyerang pria atau hantu itu.
GREPP ....
Pria atau hantu itu mulai menangkap tangan kanan Yuna dan menahan serangan dari Yuna begitu saja dengan mudahnya.
__ADS_1
"Apa kamu tak bisa membedakan antara hantu dan calon suamimu sendiri, Yuna?" tiba-tiba mulai terdengar suara seorang pria yang sangat familiar untuk Yuna.
Ada sedikit rasa lega, namun juga ada sedikit rasa kesal kepada sang pemilik suara itu.
CEKLEKK ...
Pria itu mulai menyalakan sebuah lighter darurat yang sudah dia bawa sebelumnya. Ternyata pria itu adalah Kagami Jiro.
"Mengapa suka sekali mempermainkanku?! Mengapa tidak menjawab pertanyaanku daritadi?" Yuna mendengus kesal dan meninju dada bidang Kagami Jiro.
"Bagaimana aku menjawabnya sementara kamu saja tidak memberikan kesempatan padaku untuk menjawab, Yuna?" jawab Kagami Jiro dengan santai.
"Apa?! Jelas-jelas aku sudah berulang kali bertanya padamu, namun kamu tidak menjawabnya." sahut Yuna masih sangat kesal.
"Benarkah itu, Sayang? Oh maaf, berarti itu semua salahku karena kurang fokus. Ya sudah. Semua pekerjaanmu sudah selesai bukan? Mari aku antar pulang." ucap Kagami Jiro mulai memungut ponsel Yuna yang tadi terjatuh lalu mulai memberikannya untuk Yuna.
"Ayo, pelan-pelan dan hati-hati saja." Kagami Jiro mulai meggandeng tangan kanan Yuna dan mereka mulai melenggang pelan meninggalkan ruangan Yuna bersama lalu mulai turun ke lantai satu.
Saat di lantai satu, tak sengaja Yuna menyenggol sebuah patung manekin dan membuat patung manekin itu sedikit bergoyang hingga akhirnya patung manekin itu terhuyung dan hampir saja terjatuh menimpa tubuh Yuna.
Namun dengan cepat Kagami Jiro sedikit memutar tubuhnya lalu memeluk Yuna dan menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Yuna agar Yuna tidak terluka, hingga akhirnya ...
BRRUUGGHH ...
Patung manekin yang memiliki berat hampir 20 kg itu terjatuh dan menimpa punggung Kagami Jiro, sementara Yuna aman karena berada dalam pelukan Kagami Jiro.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja, Yuna?" tanya Kagami Jiro menatap lekat Yuna yang masih berada dalam dekapannya.
Meskipun suasana begitu remang-remang, namun mereka masih bisa menatap satu sama lain saat ini.
"Aku baik-baik saja. Tapi kamu yang tertimpa patung manekin itu. Apa ada yang terluka?" ucap Yuna balik bertanya.
"Apa kali ini kamu sedang mengkhawatirkan aku, Yuna? Uh ... manis sekali ..." ucap Kagami Jiro tersenyum tipis dan tak tahan untuk tidak mencium Yuna pada jarak yang sudah sedekat ini, meskipun hanya sekadar mencium pipi saja itu sudah membuat Kagami Jiro bahagia.
"Bagaimana aku tidak mengkhawatirkan kamu? Bagaimana jika kamu terluka? Dan semua itu terjadi karena kamu yang sedang berusaha untuk menyelamatkanku." sungut Yuna.
"Aku baik-baik saja kok. Hanya patung manekin tak akan bisa membuatku terluka. Yang bisa membuatku terluka hanya kamu, karena luka karenamu adalah seperti racun yang sangat mematikan untukku, dan hanya kamulah penawar dari racun itu sendiri, Yuna." ucap Kagami Jiro mulai ngelantur.
Untaian kata yang terdengar begitu manis itu hanya membuat Yuna meringis dan merasa sedikit canggung.
Pria ini benar-benar sangat handal saat meluluhkan hati para gadis dengan kata-kata manis ataupun dengan hartanya. Namun ... yang aku sukai darinya bukan itu semua ... aku suka saat dia berbuat sesuatu dengan tulus, seperti saat itu ... saat penculikan terhadapku ... bahkan saat itu dia bisa saja melawan para berandalan itu tanpa harus terluka sedikitpun. Bahkan tak akan membutuhkan waktu yang lama hanya untuk menyelesaikan mereka semua. Namun saat itu dia malah rela untuk mendapatkan serangan demi serangan, pukulan demi pukulan hanya untuk melindungiku.
Batin Yuna yang masih saja terdiam dalam pelukan Kagami Jiro dengan angannya saat itu.
"Yuna ... kau sedang memikirkan apa saat ini?" ucap Kagami Jiro membuyarkan angan dari Yuna.
"Oh ... aku ... aku sedang tidak memikirkan apapun kok. Hehe ..." Yuna tertawa kecil dan berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Kagami Jiro, namun Kagami Jiro malah semakin memeluknya dengan erat.
"Yuna, tunggu sebentar. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."
"Hhm? Soal apa? Tapi tolong lepaskan ini dulu ..." Yuna masih berusaha untuk melepaskan pelukan dari Kagami Jiro, namun percuma saja. Pelukan itu sangat kuat dan tak bisa dilepaskan oleh Yuna begitu saja.
__ADS_1
"Sebentar saja ... biarkan sebentar saja seperti ini dulu, Yuna." pinta Kagami Jiro. "Jadi begini ... aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Dan aku harap kamu menjawabnya dengan jujur." imbuh Kagami Jiro masih menunduk dan menatap Yuna yang masih berada di dalam pelukannya.