
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Kagami Jiro mulai datang kembali dengan membawa sebuah baskom berukuran sedang yang sudah berisi dengan air hangat.
Kagami Jiro mulai meletakkan baskom itu di dekat kaki Yuna, "Rendam dulu kakimu yang sedang terkilir ..."
Yuna segera mengangkat kaki kirinya dan mulai memasukkan kakinya ke dalam baskom itu.
"Mengapa kamu begitu ceroboh hingga terpeleset seperti ini? Padahal lantai di kamar mandiku sudah didesain khusus untuk meminimalisir tingkat terjadinya kecelakaan seperti ini." gumam Kagami Jiro lalu mulai bangkit dan duduk di sofa sebelah Yuna.
Huft, ini kan karena dia yang datang secara tiba-tiba dan membuatku sangat terkejut hingga akhirnya aku malah terjatuh dan terpeleset.
Sungut Yuna di dalam hati sedikit kesal.
"Lain kali lebih berhati-hatilah. Terjatuh di dalam kamar mandi itu sangat berbahaya." ucap Kagami Jiro lagi menurunkan intonasinya satu oktaf.
"Hhm. Ya ..." sahut Yuna seadanya karena malas untuk berdebat.
Setelah beberapa saat akhirnya Kagami Jiro mulai duduk bersimpuh di hadapan Yuna dan mulai meraih kaki kirinya, "Rileks ... jangan tegang." sesekali Kagami Jiro sedikit mendongak dan menatap Yuna yang kali ini memperlihatkan ekspresi begitu tenang, tak seperti saat pertama kali mereka bertemu dan saling bertegur sapa saat di pameran itu.
"Hhm. Iya." sahut Yuna pendek.
Kagami Jiro mulai memijit pelan pergelangan kaki kiri Yuna yang terlihat sedikit merah dan sedikit bengkak, lalu perlahan Kagami Jiro mulai menarik sedikit dengan pelan dan hati-hati untuk membenarkan saraf pada kaki Yuna yang sedang terkilir.
Situasi saat ini sungguh seperti dejavu untuk mereka berdua saat ini. Dan hal itu membuat sedikit Kagami Jiro tertawa kecil.
__ADS_1
"Ada apa?" selidik Yuna yang masih duduk di atas sofa dan sedikit menunduk menatap pria dewasa yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya saat ini.
"Bukankah kau merasa ini sedikit lucu? Ini seperti saat itu ... malam itu ... saat di perayaan pameran Tatsuya, kakimu juga sedang terkilir. Dan aku yang mengobatimu juga." ucap Kagami Jiro dengan seulas senyum dan masih memijit kaki kiri Yuna.
"Uhm ... iya ... terima kasih, Tuan."
"Hhm. Jangan berlebihan. Aku tidak melakukan sesuatu yang istimewa untukmu." kini Kagami Jiri mulai menyingkirkan baskom itu dan mendongak menatap Yuna.
Kagami Jiro mulai meraih jemari Yuna yang saat ini saling bertaut di atas paha Yuna.
"Yuna ... aku ingin mengatakannya sekali padamu." ucap Kagami Jiro dengan tiba-tiba.
Yuna menatap waspada pria di hadapannya itu, dan mulai memasang telinganya dengan baik untuk mendengarkan ucapan yang akan disampaikan oleh Kagami Jiro. Yuna juga sedikit bingung menatap jemarinya yang mulai digenggam oleh pria dewasa yang mendapatkan gelar seorang casanova dingin itu.
"Jadilah milikku sepenuhnya ..." ucap Kagami Jiro menatap lekat gadis itu.
Tentu saja itu sangat membuat Yuna begitu ragu. Terlebih Yuna adalah termasuk gadis yang masih begitu polos, dan tak pernah memiliki sebuah ikatan bersama pria manapun.
"Aku akan memberikan semua yang kamu mau. Asal kamu mau menjadi wanitaku." ucap Kagami Jiro masih menatap Yuna dengan begitu hangat.
Dan sebenarnya itu semua adalah tulus diucapkan oleh Kagami Jiro. Tak seperti saat sedang bersama dengan wanita-wanita lain, hanya dengan berkata sayang dan cinta yang asal diucapkannya dengan begitu mudah, maka bisa membuat para wanita tergila-gila padanya hingga mereka saling berlomba-lomba untuk tidur bersama dengan Kagami Jiro.
"Maaf. Aku tidak bisa ..." ucap Yuna dengan begitu pelan namun tegas.
__ADS_1
Jawaban Yuna sungguh membuat seorang Kagami Jiro merasa begitu frustasi, karena menurutnya ini adalah sebuah tamparan keras pada wajahnya. Tawa sekilas dan hembusan nafas kasarnya dikeluarkannya.
"Yuna, mengapa kau menolakku seperti ini? Apa yang kurang dari diriku? Aku kaya, tampan, mapan, memiliki beberapa perusahaan, harkat, martabat tinggi, dan selalu dihormati oleh semua orang! Apa yang membuatmu merasa kurang? Katakan padaku ..."
Yuna menelan ludahnya sendiri sebelum menjawab pertanyaan itu karena merasa sedikit khawatir jika Kagami Jiro akan melakukan sesuatu yang buruk untuknya disaat Yuna sedang tak berdaya saat ini.
"Tuan tidak memiliki kekurangan apapun. Namun ... masalahnya adalah ada padaku. Aku belum siap menjalin ikatan dengan siapapun." jawab Yuna dengan asal.
"Baiklah. Mungkin kamu masih cukup bingung dan terkejut saat ini. Aku paham akan hal itu." ucap Kagami Jiro masih dengan nada suaranya yang begitu rendah dan tersenyum hangat menatap Yuna. "Kamu tak harus menjawabnya sekarang. Aku akan memberimu waktu selama satu minggu. Setelah kamu pulih, aku ingin menemuimu kembali untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaanku ini. Aku mohon pikirkanlah baik-baik. Karena aku tak pernah memohon seperti ini sebelumnya kepada gadis manapun." ucap Kagami Jiro dengan jujur.
Sepasang manik-manik Yuna bergetar menatap Kagami Jiro yang masih menatapnya dengan posisi duduk bersimpuh di hadapannya.
"Hhm ... baiklah ..." sahut Yuna akhirnya.
"Hhm. Aku akan mandi sebentar. Setelah itu akan mengantarmu pulang." ucap Kagami Jiro mulai bangkit kembali dan mengambil sebuah bingkisan di atas meja. "Aku membawakanmu red velved cake. Makanlah ... kau sangat menyukainya bukan?" Kagami Jiro mulai menyodorkan bingkisan itu untuk Yuna.
Yuna menerimanya dan tersenyum samar, "Hhm. Terima kasih ..."
Kagami Jiro mulai melenggang dan mengambil jubah mandinya lalu segera bergegas untuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Huft ... mengapa pria itu tiba-tiba saja berkata seperti itu? Hampir saja aku mempercayainya begitu saja. Aktingnya sungguh bagus sekali. Luar biasa! Namun dia adalah seorang casanova sejati. Aku harus tetap berhati-hati. Selama ini dia selalu bergonta-ganti pasangan." gumam Yuna pelan lalu mulai mengendus aroma yang begitu manis dan menggelitiki indra penciumannya.
Dengan bersemangat Yuna segera membuka bingkisan itu dan melihat sebuah red velvet cake yang begitu manis dan menggiurkan saliva, sehingga membuatnya segera mengambil satu potong dan menikmatinya begitu saja.
__ADS_1
"Uhhmm ... ini sungguh enak sekali! Sudah lama juga aku tidak makan red velvet cake." gumam Yuna lalu mulai mengambil sepotong lagi dan mulai menikmatinya lagi. "Tapi, darimana tuan Kagami Jiro mengetahui jika aku menyukai makanan manis ya? Hhm ... kemampuannya mencari informasi sungguh sangat menakutkan!"
Yuna mulai mengambil sepotong lagi kue berwarna kemerahan itu dan menikmatinya kembali. Hingga tak sadar kue itu sudah habis begitu saja. Dan itu membuatnya cukup malu, karena tidak menyisakan sepotong kue pun untuk Kagami Jiro.