Casanova In Love

Casanova In Love
Sebuah Tipu Muslihat


__ADS_3

"Gyahaha ... ternyata seorang petinggi utama dari Doragonshadou kali ini rela menyerahkan hidupnya hanya untuk seorang gadis??!! Dasar tidak keren sama sekali! Ternyata kau sungguh lemah terhadap wanita!!" kicau preman yang sedang menodongkan senjata api di kepala Yuna dengan tawa renyah yang terdengar begitu menjengkelkan.


"Habisi dia!" imbuh pria itu mulai menginstruksi beberapa anak buahnya yang masih tersisa.


Tiga orang pria mulai melenggang mendekati Kagami Jiro. Salah satu dari mereka membawa sebuah pemukul baseball. Sementara dua pria lainnya hanya menggunakan tangan kosong.


Toh Kagami Jiro tak akan melawan mereka kali ini, jadi dengan memakai tangan kosong maupun peralatan bertarung yang ringan seperti itu akan terasa lebih menyenangkan untuk mereka. Karena tujuan utama mereka kali ini adalah untuk menyiksa Kagami Jiro dengan pelan-pelan.


Seorang pria mulai mengayun-ayunkan pemukul baseball itu ke udara dengan sebuah seringai, dan berakhir dengan memukul lengan kiri Kagami Jiro dengan sepenuh tenaganya.


BUUGGHH ...


Pukulan itu tak menggerakkan atauoun menggetarkan sedikitpun tubuh Kagami Jiro, karena untuk seorang Kagami Jiro itu bukanlah apa-apa. Lalu preman itu mulai mengayunkan pemukul baseball itu kembali, dan kali ini pukulan itu mengenai pangkal paha bagian kiri Kagami Jiro.


BBUUGGHH ...


Seorang preman lainnya mulai mengayunkan tinjunya dan berhasil menghantam bagian wajah Kagami Jiro. Kagami Jiro masih saja terdiam menerima serangan-serangan itu dan tak melakukan perlawanan sama sekali, dengan rahangnya yang sudah mengeras dan kedua tangan yang mengepal kuat menahan amarahnya.


Baku hantam yang terjadi dengan tidak fair ini terjadi cukup lama, hingga akhirnya seorang pria menghantamkan sebuah kursi kayu tua kepada tubuh Kagami Jiro yang sudah terduduk hingga kursi kayu itu remuk menjadi beberapa bagian.


Pelipis Kagami Jiro kini mulai berdarah karena kepalanya terkena pukulan dengan kursi kayu itu dengan cukup keras, sementara sudut bibirnya juga terlihat sudah berdarah.


"Tidak!! Hentikkan semua ini!! Aku mohon hentikkan semua ini!!" Yuna yang tak sanggup lagi menyaksikan semua ini, kini mulai berteriak, bahkan menangis untuk memohon para preman yang sudah berusaha untuk menyakiti Kagami Jiro sedari tadi.

__ADS_1


Sementara para preman itu itu malah terkekeh seperti merasa tak memiliki dosa. Sungguh terdengar begitu menyebalkan sekali!


"Tuan Kagami Jiro!! Bangunlah dan berikan pelajaran untuk mereka semua! Mengapa tuan diam saja dan tidak melawan seperti ini! Dimana tuan Kagami Jiro yang selama ini kuat dan tak terkalahkan? Mengapa hari ini tuan malah seperti ini?" ucap Yuna di dalam isak tangisnya dan sudah tak tega saat melihat Kagami Jiro yang sudah terluka cukup parah karena serangan-serangan brutal dan bertubi dari mereka.


Andai saja Kagami Jiro tidak diam saja dan segera melawan mereka, pasti dalam sekejap saja para berandalan itu sudah bisa disingkirkannya dengan begitu baik. Namun kali ini tidak bisa seperti itu.


Yuna ... jika aku melawan mereka, maka mereka akan melukaimu. Percuma saja aku menang tapi aku harus kehilangan dirimu! Aku tak bisa ... aku sudah benar-benar menyukaimu ... aku akan melindungimu sampai titik darah penghabisanku! Dan bersabarlah sedikit lagi, aku sudah menyiapkan sesuatu. Semoga mereka datang tepat waktu.


Batin Kagami Jiro yang menatap nanar Yuna dari kejauhan. Namun tiba-tiba seorang preman mulai memukul Kagami Jiro dengan sebuah kursi kayu lagi, hingga kursi kayu tua itu remuk menjadi beberapa potongan.


BBRRUUKK ...


Tubuh Kagami Jiro yang sedari tadi terduduk, kini mulai ambruk di atas lantai dengan posisi sedikit miring.


Sedangkan para berandalan itu kembali tertawa terbahak-bahak dan mulai melepaskan Yuna begitu saja. Yuna segera mulai berlari menghampiri Kagami Jiro yang sudah tak sadarkan diri dan sudah tidak berdaya lalu meraih tubuh itu dan membaringkannya pada pangkuannya.


Tangisnya semakin pecah saat melihat beberapa bagian pada wajah dan bagian tubuh Kagami Jiro memiliki banyak lebam dan darah. Meskipun Kagami Jiro selama ini sangat menyebalkan untuknya, namun tentu saja Yuna tak akan tega jika melihat Kagami Jiro harus mengalami semua hal ini hanya untuk melindungi Yuna.


"Tuan Kagami Jiro, bangunlah ... hiks ..." Yuna meraih dan mengusap pelan sisi kanan wajah Kagami Jiro lalu memeluk tubu besar itu.


Ada rasa sesal yang menyelimuti diri Yuna saat ini, karena selama ini Yuna selalu saja memperlakukan Kagami Jiro dengan tidak baik, dan selalu berburuk sangka kepadanya. Namun hari ini, Kagami Jiro malah mengorbankan dirinya hanya untuk menyelamatkan Yuna.


"Aku mohon bangunlah ..." ucap Yuna masih dalam isak tangisnya dan memeluk tubuh Kagami Jiro.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja Yuna mendengar sebuah bisikan yang begitu pelan dan berasal dari Kagami Jiro. Bisikan itu terdengar begitu jelas, karena saat ini Yuna sedang mendaratkan kepalanya di atas dada Kagami Jiro.


"Yuna, dengarkan aku baik-baik! Aku akan mulai berhitung. Dalam hitungan ketiga, cepatlah berlari dan bersembunyi di balik ruangan! Aku akan membereskan mereka terlebih dulu! Apa kau mengerti?" bisik Kagami Jiro mulai memberikan instruksi untuk Yuna.


Yuna begitu terkejut, namun ada rasa begitu lega saat mengetahui jika Kagami Jiro rupanya masih hidup dan baik-baik saja. Ada senyum tipis yang mulai menghiasi wajah ayu nan tegas itu, namun gadis itu segera menjawan dengan berbisik juga.


"Baiklah. Aku mengerti, Tuan Kagami Jiro."


"Baiklah. Cukup lari dan bersembunyi saja! Jangan melihat kemana-mana!" ucap Kagami Jiro masih dengan berbisik dan mata teepejam.


"Hhm. Aku paham!" jawab Yuna pelan.


"Okay! Aku akan mulai menghitung sekarang. Satu ... dua ... tiga ... sekarang!" bisik Kagami Jiro.


Dengan cepat Yuna segera menjalankan sesuai dengan yang sudah diperintahkan oleh Kagamk Jiro kepadanya. Yeap, Yuna segera bangkit dan bersiri lalu mulai berlari untuk segera bersembunyi di ruangan sebelah.


Sementara Kagami Jiro mulai berguling dengan cepat dan meraih kaki salah satu preman yang membawa sebuah tongkat baseball, hingga membuat preman itu terjatuh. Lalu Kagami Jiro melai merebut tongkat baseball itu.


Dengan cepat Kagami Jiro mulai menghempaskan tongkat baseball itu hingga mengenai seorang preman yang sudah bersiap untuk membidiknya dengan senjata api laras pendeknya.


Serangan Kagami Jiro berhasil mengenai sasaran dengan baik hingga membuat senjata api dari preman itu terjatuh di lantai. Kagami Jiro mulai memijak tubuh preman yang masih tejatuh di sebelahnya dan mulai menaiki sebuah meja.


Sebuah lompatan tinggi mulai dilakukan oleh Kagami Jiro dan sudah bersiap untuk mendarat di atas tubuh seorang preman yang baru saja kehilangan senjata apinya itu.

__ADS_1


Kagami Jiro mendarat dengan telapak kaki kanannya yang masih mengenakan sepatu loafer berwarna caramel yang dijejakkan pada wajah preman itu dengan cukup keras.


__ADS_2