
"Baiklah-baiklah, aku minta maaf! Dan aku tak akan memanggilmu dengan sebutan itu lagi!" ucap Kagami Jiro dengan begitu terpaksa.
Selama ini Kagami Jiro tak pernah meminta maaf kepada seorang gadis manapun! Bahkan kata-kata itu sangat langka dan hari ini Kagami Jiro menurunkan egonya untuk meminta maaf kepada Yuna.
Yuna masih terdiam saja dan menatap Kagami Jiro dengan begitu waspada.
"Aku tidak akan mencelakaimu. Dan aku tulus minta maaf kepadamu! Ayo ... naiklah, Yuna!" ucap Kagami Jiro berusaha untuk membujuk Yuna.
Setelah terdiam dan berpikir selama beberapa saat, akhirnya Yuna mulai mengulurkan tangan kanannya untuk meraih tangan Kagami Jiro yang masih menahan tangan kirinya. Dia berusaha untuk naik kembali, sementara Kagami Jiro juga berusaha menariknya dari atas.
Terpaan angin malam yang begitu dingin tak menggoyahkan keduanya untuk mematahkan semangat mereka, hingga akhirnya Kagami Jiro.bisa sepenuhnya mengangkat tubuh Yuna.
Setelah melewati pagar pembatas balkon itu entah dengan sengaja ataupun tidak sengaja, tiba-tiba saja tubuh Yuna ambruk dan menimpa tubuh Kagami Jiro.
Dan posisi itu begitu menguntungkan seorang casanova sejati itu, karena tanpa sengaja sebuah ciuman kecelakaan terjadi begitu saja. Yeap, bibir keduanya kini saling bertaut. Keduanya saling membulatkan mata karena begitu terkejut, terlebih Yuna.
Lembut dan manis sekali ... aku jadi ingin melakukannya lebih ...
Batin Kagami Jiro yang tiba-tiba saja sedikit menggerakkan bibirnya untuk mengecup bibir Yuna. Yuna yang menyadarinya, dengan cepat segera melepaskan dirinya dan bangkit dari atas tubuh pria dewasa itu lalu segera berdiri karena salah tingkah.
Mengapa aku begitu sial sekali hari ini! Bahkan ciuman pertamaku direnggut oleh pria busuk ini!Apa dia sengaja melakukan semua ini dan membuatnya agar terlihat seperti sebuah kecelakaan? Ciihh ... sial!!
Batin Yuna mengepalkan kedua tangannya dan menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di hadapannya.
Kagami Jiro segera bangkit dan berdiri kembali lalu mengibaskan pakaiannya yang sedikit kusut.
"Ayo, masuklah ... udara malam sudah begitu dingin. Nanti kamu bisa sakit." ucap Kagami Jiro sudah semakin menurunkan intonasinya.
Kagami Jiro mulai melenggang kembali memasuki appartemennya, dan Yuna juga sudah mengekorinya.
__ADS_1
Kagami Jiro kembali duduk di sofa panjang itu, dan kembali memanggil Yuna, karena Yuna hanya terdiam dan berdiri di samping sofa.
"Duduklah, Yuna. Aku belum selesai mengobati semua lukamu." ucap Kagami Jiro yang terdengar sedikit lebih lembut.
Yuna menghembuskan napas kasarnya ke udara lalu duduk kembali di samping Kagami Jiro. Kini Kagami Jiro mulai membersihkan sudut bibir Yuna yang berdarah, lalu mulai memberikan sedikit obat merah.
Bibir ini ... mengapa rasanya begitu manis dan lembut sekali ... jujur saja, aku ingin menikmatinya lagi ...
Batin Kagami Jiro yang sudah semakin mendekati Yuna. Yuna yang menyadarinya sedikit mundur dan begitu waspada kembali.
"Tuan ... kau mau apa kali ini?"
Ucapan Yuna seketika menyadarkan Kagami Jiro kembali, dan dia segera berhenti. Pandangan yang sedari tadi hanya fokus menatap bibir Yuna, kini beralih menatap mata beningnya.
"Aku hanya ingin melihat lukanya dari dekat." ucap Kagami Jiro mencari alasan. "Apa rasanya begitu sakit?" imbuhnya begitu ngilu.
"Tidak kok. Ini tidak seberapa sakitnya ..."
"Aku tidak lap-" ucap Yuna belum menyelesaikan ucapannya dengan sempurna karena tiba-tiba saja terdengar bunyi sesuatu yang cukup membuat wajahnya merah kembali.
KKRRRUUKK ...
Kagami Jiro yang mendengarnya terlihat menahan tawa, bahkan dia segera menutup mulutnya dengan punggung telapak tangannya.
"Tunggulah disini, aku akan memasak sesuatu untukmu. Dan jangan kamu berusaha untuk melarikan diri dari sini, karena pintu itu hanya akan terbuka dengan sidik jariku." ucap Kagami Jiro dengan seulas senyum lalu mulai melenggang untuk pergi ke dapur.
Setelah beberapa saat menunggu, tiba-tiba saja Yuna teringat dengan sesuatu. Sebuah kalung milik kakaknya Siena yang ditemukan di kamar Kagami Jiro. Yuna berusaha untuk mencarinya di saku kemeja yang sedang dia kenakan saat ini, namun dia tidak menemukannya.
Kemudian dia berusaha untuk mengingatnya kembali, dan akhirnya dia teringat jika dia meletakkan kalung itu di saku kantong coat hitam yang dipinjamkan oleh Kagami Jiro.
__ADS_1
Setelah mengintai dan memastikan jika Kagami Jiro masih berada di dapur, akhirnya Yuna mulai mengendap-endap untuk memasuki kamar Kagami Jiro lagi.
Bahkan Yuna juga lupa dimana dia meninggalkan coat itu. Akhirnya dengan cepat Yuna segera mencari coat itu kembali, hingga akhirnya dia menemukan coat itu tergeletak di kursi samping meja rias. Dengan cepat Yuna segera mencari kalung itu di saku coat itu.
"Ah ... ketemu!" ucapnya dengan seulas senyum lalu segera menyimpan kalung itu di dalam saku kemeja yang sedang dia kenakan saat ini.
Dengan cepat Yuna segera berbalik, dan disaat mau melangkah tiba-tiba saja dia menabrak sesuatu yang begitu keras.
DUUAAKK ...
"Akhh ... aduh ..." rintihnya sambil memegangi keningnya.
Ternyata Kagami Jiro sudah berdiri di hadapannya, dan Yuna baru saja menabrak dada bidang Kagami Jiro.
Sejak kapan dia berada disini? Apa dia melihatku mengambil kalung itu? Dan mengapa dadanya begitu keras sekali, sampai keningku terasa sakit ...
Batin Yuna yang masih memegangi keningnya, dan mengkerutkan keningnya mendongak menatap pria dewasa itu.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" celutuk Yuna tanpa sadar.
"Apa yang sedang aku lakukan di sini?" Kagami Jiro mengulangi pertanyaan Yuna dan mengkerutkan keningnya menatap gadis itu. "Yuna, ini adalah kamarku. Apa kau lupa itu? Kau sendiri apa yang sedang kau lakukan di kamarku?" selidik Kagami Jiro masih dengan kening yang berkerut dan menunduk menatap Yuna curiga.
"Ak-aku ... aku sedikit kedinginan. Dan coat yang tuan pinjamkan padaku tadi tertinggal di kamar ini. Jadi aku memutuskan untuk mengambilnya kembali." sahut Yuna mencari alasan dan memperlihatkan coat hitam yang masih dia tenteng.
"Oh ... jika memang kedinginan, maka aku bisa membantumu untuk membuatmu menjadi sedikit hangat. Kau tinggal katakan saja padaku." sahut Kagami Jiro yang tentu saja membuat pikiran Yuna travelling hingga kemana, dan gadis yang memiliki kecantikan yang begitu alami ini kini sedikit membulatkan matanya kembali.
"Menghangatkanku? Ap-apa maksud ucapan, Tuan?"
"Maksudku, aku bisa menaikkan suhu AC di appartemenku. Jadi kau tidak akan kedinginan lagi."
__ADS_1
"Ah ... oh ... begitu ya ... uhm ... baiklah ..." sahut Yuna menjadi kaku kembali karena sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"Ya sudah. Ayo keluar! Aku sudah memasak ramen instan untukmu!" Kagami Jiro berbalik dan mulai melenggang dan diikuti oleh Yuna.