
Kagami Jiro mulai memasuki salah satu kamar paling ujung di lantai dua. Keadaan masih begitu remang-remang dan hanya sebuah lampu tidur kekuningan yang menyala menerangi ruangan kamar yang cukup luas ini.
Aroma bunga kenanga/Ylang-ylang mulai menyeruak melalui indra penciuman pemuda tampan itu. Aroma ylang-ylang atau kenanga memiliki senyawa afrodisiak yang bisa meningkatkan energi dan gairah seksual.
Mencium wangi bunga ini yang begitu lembut dipercaya bisa membawa pada mood romantis dan meningkatkan ketertarikan antar pasangan. Tidak heran bila bunga kenanga sering melengkapi penampilan pengantin tradisional, karena aromanya memang punya tujuan erotis.
"Aroma ini ..." ucap Kagami Jiro yang mulai merasa dirinya kegerahan dan terbawa suasana.
Tiba-tiba saja aja seseorang yang memeluk tubuh pemuda tampan itu dari belakang. Kagami Jiro sedikit terkejut melihat sudah ada jemari-jemari indah yang melingkar dan sudah mendarat cantik pada dada bidangnya.
"Sayang ..." terdengar bisikan seorang gadis dengan suaranya yang terdengar begitu menggoda.
Kagami Jiro meraih jemari-jemari lentik itu sesaat, lalu berbalik untuk melihat siapa gadis itu. Di suasana yang begitu remang-remang saat ini, terlihat seorang gadis cantik dengan rambut panjangnya yang sedikit bergelombang sedikit dia ikat, dan hanya menyisakan beberapa helai yang tidak terikat di masing-masing sisinya.
Gadis itu sudah mengenakan sebuah pakaian tidur yang sangat terbuka dan tentu saja begitu menggoda. Bahkan dia sengaja menggantungkan salah satu tali penggantung dress malam bagian kiri.
Dan mungkin saja karena pengaruh dari obat dupa pembangkit gairah dan hasrat yang sudah gadis itu siapkan sebelum Kagami Jiro memasuki kamar itu, kini ekspresi bahkan tingkah Kagami Jiro sedikit melunak, bahkan dia mulai tergoda dengan gadis cantik yang sedang berdiri di hadapannya itu.
Gadis cantik itu tersenyum manis menatap pemuda tampan itu dan akhirnya melempar dirinya pada pelukan Kagami Jiro. Senyum gadis cantik itu terlihat begitu mengembang.
"Jessy ... mengapa kau ada disini?" ucap Kagami Jiro yang terdengar sedikit lebih lembut.
"Ehm. Aku ingin bertemu denganmu ... dan aku dengar malam ini kau menghadiri pesta ulang tahun presdir Kamiko Hyu di villa ini. Jadi aku memutukan untuk menyusulmu. Maafkan aku, Sayang ..." ucap gadis itu semakin kuat memeluk Kagami Jiro dan sengaja sedikit menggesek-gesekkan tubuhnya hingga terasa ada yang mengganjal pada beberapa bagiannya.
Dan tentu saja itu membuat Kagami Jiro semakin berhasrat untuk segera melakukannya dan menuntaskannya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh dupa itu sangat luar biasa! Bahkan Kagami Jiro sudah memperlihatkan ekspresi bak anak kucing yang sedang ingin disayang oleh majikannya.
__ADS_1
Kini Jessy mulai melepaskan pelukannya dan menatap hangat Kagami Jiro. Keduanya saling bertatapan beberapa saat dengan begitu hangatnya. Suasana yang begitu mendukung seakan mulai menghasut keduanya untuk melakukan sesuatu yang lebih dari itu.
"Kau pasti sangat kepanasan kan saat ini, Sayang? Biarkan aku bantu untuk melepaskannya ..." jemari indah itu kini mulai mengusap lembut bagian depan badan Kagami Jiro, sebelum dia mulai melepaskan beberapa kancing dari pakaiannya.
Sedangkan Kagami Jiro terlihat begitu pasrah dengan apa yang sudah Jessy lakukan padanya. Setelah beberapa kancing atas terbuka, Jessy mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher kuat Kagami Jiro.
"Sayang. Maafkan aku ... tapi aku sangat merindukanmu. Aku begitu gila melewati hari-hariku tanpamu ..." ucap gadis cantik itu setengah berbisik. Dan tentu saja Jessy mengucapkannya dengan suara yang mendayu-dayu dan memancing Kagami Jiro.
Kini Jessy sedikit berjinjit, begitu juga dengan Kagami Jiro yang sedikit menunduk dan mulai meraih pinggang ramping itu. Hingga ahirnya sebuah ciuman dasyat itu terjadi dengan begitu menggairahkan selama beberapa saat.
Keduanya seakan sudah terbakar oleh api asmara, dan dibutakan oleh aroma dupa pembangkit gairah itu.
Namun tiba-tiba saja Kagami Jiro mulai sedikit mendorong tubuh Jessy dan membuat ciuman itu berhenti. Meskipun saat ini Kagami Jiro sedang dipenuhi dengan hasrat yang begitu menggebu karena pengaruh obat itu, namun dia berusaha untuk melawannya.
"Aku sudah memperingatkanmu agar tidak muncul di hadapanku sebelum aku sendiri yang memintamu, Jessy!" ucapnya begitu pelan dan masih terlihat seperti orang yang sedang mabuk. "Aku akan pergi ke kamar lain ..."
"Tapi, Jiro ... bukankah saat ini kau sedang sangat membutuhkannya?" sergah Jessy yang masih berusaha untuk meraih lengan Kagami Jiro.
"Enyahlah dari hadapanku!" Kagami Jiro menghempaskan tangan Jessy dengan cukup kasar dan mulai berjalan sempoyongan kembali, hingga akhirnya dia benar-benar meninggalkan kamar itu.
"Ugghh ... Jessy benar-benar berani sekali melakukan semua itu padaku! Sial!" ucapnya pelan sekali dan kini pandangannya mulai berkunang-kunang.
Kini Kagami Jiro mulai berjalan sempoyongan kembali dan berniat untuk pergi ke kamar lainnya. Pakaiannya belum dirapikan kembali, bahkan saat ini kancing pakaiannya sudah hampir terbuka semuanya.
CEKKLLEEKK ...
__ADS_1
Kagami Jiro mulai membuka pintu sebuah kamar dan mulai memasukinya. Kamar kali ini terlihat begitu terang benderang, karena keadaan lampu yang masih menyala dengan sempurna.
"Aku akan tidur disini saja malam ini!" gumam Kagami Jiro yang mulai berjalan memasuki kamar besar itu dan berniat untuk membersihkan dirinya dengan berendam dengan air dingin. "Sialan! Panas sekali! Aku sangat membutuhkan obat penawar! Namun aku baru saja menolak Jessy ... haishh ... sekarang tak ada pilihan lain, selain berendam dengan air dingin di cuaca yang begitu dingin ini. Sialan ..." gumamnya lagi sambil meraih handle pintu kamar mandi.
Namun betapa terkejutnya pemuda tampan yang kini wajahnya sudah semakin merona karena pengaruh obat itu yang melihat seorang gadis cantik dengan hanya memakai handuk baju putih yang membalut tubuh indahnya di balik pintu itu.
Gadis cantik dengan mata bak green shapphire diamond itu masih terlihat begitu cantik alami meskipun tanpa memakai polesan make up saat ini. Dia juga terlihat begitu terkejut saat ini menatap pemuda di hadapannya yang sedang terlihat sedikit tidak sehat.
"Jiro. Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya gadis itu tak mengerti dan mengkerutkan keningnya. "Apakah aku lupa mengatakan jika aku mengambil kamar ini?"
"Oh, Amane ... maafkan aku. Sepertinya aku salah kamar lagi ..." sahut Kagami Jiro yang sudah mulai teler lalu berbalik dan berniat meninggalkan kamar ini.
Namun dia malah tersandung sesuatu dan hampir saja terjatuh. Dengan cepat Amane meraih lengan kuat Kagami Jiro untuk menolongnya.
"Hati-hati, Jiro." ucap Amane begitu lembut. "Apa kau sedang sakit? Padahal tadi masih terlihat begitu baik-baik saja." ucapnya sambil memapahnya berjalan ke arah pembaringan.
"Jika sakit istirahat saja disini. Aku akan panggilkan dokter. Dan aku akan pindah ke kamar sebelah saja ..." ucap Amane sambil membaringkan tubuh Kagami Jiro di atas pembaringan berukuran King itu.
"Amane ... jangan panggil dokter!" gumam Kagami Jiro sambil meraih lengan Amane dengan cepat karena Amane berniat untuk menelpon seseorang. "Aku tidak sakit seperti pada umumnya ..." ucap Kagami Jiro begitu kebingungan untuk menjelaskannya kepada Amane.
"Apa maksudmu, Jiro? Kau terlihat sedang tidak sehat."
"Amane ..." kini dalam beberapa detik saja dunia seakan berputar dengan begitu cepat.
Posisi mereka sekarang menjadi berubah dalam hitungan detik. Kagami Jiro mencengkeram kedua lengan Amane dan membaringkannya di atas ranjang. Sementara Kagami Jiro kini berada di atasnya.
__ADS_1
"Amane, maukah kamu menjadi penawar untukku?"