Casanova In Love

Casanova In Love
Kembali Bad Mood


__ADS_3

"Terima kasih, Tuan ..." Yuna mengucapkan juga kalimat itu dengan tulus namun tetap tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya sedikitpun. "Setelah mencucinya aku akan segera mengembalikan coat ini kepada tuan Kagami Jiro."


"Hhm. Sama-sama, dan santai saja. Baiklah. Ayo aku antar kamu untuk pulang. Namun kamu harus berjanji terlebih dahulu padaku, setelah pulang kamu harus segera beristirahat dan tidak boleh pergi kemana-mana!" Kagami Jiro menatap Yuna dengan mengangkat salah satu alisnya dan masih menunggu jawaban dari Yuna.


"Hmm. Tentu saja. Seluruh badanku masih terasa begitu lelah dan sakit, aku akan di rumah saja dan mulai bekerja kembali esok." jawab Yuna seadanya dan tentu saja jawaban dari gadis berwajah cantik nan tegas ini begitu membuat Kagami Jiro merasa lega dan membuatnya tersenyum tipis.


"Baiklah! Ayo!"


Kini mereka berdua mulai melenggang bersama dan mulai meninggalkan pantai Odaiba lalu mulai memasuki mobil Kagami Jiro yang yang terparkir tak jauh dari pantai.


Kagami Jiro mulai mengemudikan Buggati Divo kesayangannya menuju ke apartemen Azabu. Dengan sengaja dia mengemudikannya dengan kecepatan laju mobil itu dengan begitu pelan agar memiliki waktu lebih lama untuk sampai ke tempat tujuan.


"Aku akan segera menyelesaikan kemeja dan jas pesanan tuan. Dan akan aku usahakan semuanya selesai di pekan depan." ucap Yuna sambil membuka ponselnya untuk melihat list pekerjaannya dalam waktu ini.


"Tidak usah terburu-buru. Lalukan saja disaat kamu sedang tidak sibuk." jawab Kagami Jiro yang sesekali melirik Yuna.


"Oh. Baiklah kalau seperti itu. Aku akan menyesaikan semua pesanan sebelum punya tuan dulu. Setelah itu aku akan mengerjakan milik tuan Kagami Jiro. Akan aku kabari lagi setelah semuanya sudah selesai."


"Hhm. Okay!" senyuman manis dan tipis mulai menghiasi wajah tampan itu ketika mendengar ucapan bahwa Yuna akan menghubunginya kelak.


"Oh iya, darimana tuan Kagami Jiro mengetahui jika teh peppermint akan bisa membantu mengurangi nyeri haid?"


"Petugas kasir itu yang merekomendasikan padaku. Aku tidak mengerti akan hal seperti itu ... yang aku pahami hanyalah dunia digital, persenjataan, semua jenis peluru, negara, dan ... banyak hal lainnya kecuali hal-hal seperti itu." kedua tangannya masih memegang kemudi, dan sesekali Kagami Jiro juga melihat ponselnya untuk mengecek sesuatu.


Dia sedang menunggu pesan dari Igor untuk mengatur kembali jadwal malam ini untuk pertemuan khusus dengan salah satu partner bisnisnya sebagai perwakilan dari perusahaan perhiasan Ruby Shine milik ibunya.

__ADS_1


"Ahaha ... iya. Aku mengerti, Tuan." Yuna tertawa kecil dan membenarkan posisi duduknya agar darah segar itu tidak kembali tembus dan memberikan noda pada kursi yang sedang dia duduki saat ini. "Pasti begitu banyak jenis senjata dan juga peluru ya yang kalian miliki."


"Tentu saja sangat banyak jenisnya. Jika kau mau aku akan memperlihatkan semua itu. Kita bisa pergi ke markas utama Doradonshadou dan melihatnya."


"Selama ini aku hanya melihat hal semacam itu di dalam film sih. Pasti aslinya sungguh keren!"


"Tentu saja! Berbagai macam senjata api dengan memiliki spesifikasi yang berbeda-beda di setiap jenisnya. Ada juga katana, maupun senjata rahasia lainnya juga."


"Kalian juga memiliki senjata rahasia?" tanya Yuna yang terlihat begitu tertarik.


"Yeap. Ada kami memiliki beberapa senjata rahasia." Kagami Jiro terlihat bersemangat saat Yuna terlihat sedikit tertarik dengan salah satu hal yang sangat bersangkutan dengan kehidupan Kagami Jiro. "Namun aku tak akan memberitahumu senjata apa itu. Karena memang sangat rahasia!" pria tampan itu tersenyum tipis dan sedikit melirik Yuna kembali.


"Hhm. Aku paham soal itu. Tenang saja, Tuan." Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia paham.


"Mengapa tidak diangkat? Angkat saja, Tuan! Aku tidak merasa keberatan kok." ucap Yuna menatap sisi samping wajah Kagami Jiro.


"Biarkan saja! Bukan sesuatu yang penting kok." jawab Kagami Jiro asal.


Namun tiba-tiba ponsel itu kembali berdering. Ponsel itu kembali diraihnya kembali. Dan lagi-lagi Nana Fukada yang menghubungi Kagami Jiro. Ponsel itu masih digenggamnya tanpa mengangkatnya.


"Mungkin ada sesuatu yang penting, Tuan." celutuk Yuna.


Akhirnya Kagami Jiro mulai mengangkat panggilan itu dengan menggeser tombol hijau dan mengaktifkan ear pieces-nya.


"Hallo ..." sapanya tanpa mengurangi tingkat konsentrasinya disaat mengemudi.

__ADS_1


"Jiro. Kau ada dimana? Aku mencari di tempat kerjamu tapi kamu tidak ada. Ponselmu juga sulit untuk dihubungi." terdengar suara seorang gadis dengan karakter lembut dan suaranya begitu indah.


"Aku sedang di luar! Ada apa?"


"Bukankah di akhir pekan kita akan bertemu. Bahkan kita akan mengajak Christal juga!" ujar Nana.


"Oh! Aku lupa! Lain kali saja. Lagian Christal masih ada les hari ini. Dan aku juga akan ada rapat setelah ini." ucap Kagami Jiro seadanya.


"Pekan depan tunganganku, Miura akan segera kembali ke Tokyo. Kita tak akan bisa bertemu lagi, Jiro." sahut Nana yang terdengar begitu tak bersemangat.


"Bagus dong jika Miura sudah kembali ke Jepang! Maka akan ada seseorang yang akan selalu menemanimu. Okay! Aku sedang menyetir, nanti aku akan menghubungimu lagi."


Kagami Jiro segera mengakhiri panggilan itu dan menyimpan kembali ponselnya pada saku pakaiannya.


"Miura? Tanaka Miura? Seorang photographer terkenal lulusan dari Columbia College Chicago (CCC) di Amerika Serikat yang berasal dari Jepang yang saat ini hampir menyelesaikan S2 nya dalam 3 bulan ini? Dan sebentar lagi dia akan mendapat gelar master?" ucap Yuna dengan begitu bersemangat.


Dan tentu saja sikap Yuna yang terlihat begitu antusias akan Tanaka Miura membuat Kagami Jiro menjadi sedikit kesal kembali karena bad mood.


"Memang apa hebatnya pria itu?!" celutuk Kagami Jiro mulai berubah nada bicaranya.


"Dia sangat terkenal di dunia photographer! Aku pernah bertemu dengan dia sekali saat aku mengikuti salah satu seminar di New York. Dan hasil foto dia memang sungguh keren sekali! Dan dia juga sangat ramah." ucap Yuna masih begitu antusias.


"Ciih ... hanya memotret memang apa sulitnya? Anak kecil saja bisa melakukan hal itu dengan begutu mudah bukan?" ketus Kagami Jiro.


"Hhm? Semua orang memang bisa memotret. Namun ada beberapa hal yang pastinya harus diperhatikan, Tuan. Misalnya dengan memahami jenis-jenis angle, memperhatikan fokus objek, mempelajari penggunaan cahaya, melakukan eksperimen dengan setting pada kamera, dan tentu saja harus melatihnya setiap hari. Dan itu semua tidak mudah, Tuan." ucap Yuna mengutarakan pendapatnya.

__ADS_1


__ADS_2