
Setelah beberapa saat mereka bertiga berbincang bersama, dengan obrolan ringan namun terasa begitu canggung, akhirnya Yuna mulai berpamitan karena harus mencari hadiah pertunangan untuk adik dari senior Sky.
"Wilson, sepertinya aku harus segera pulang. Aku harus mencari sebuah hadiah untuk adik senior Sky." ucap Yuna yang mulai bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk segera pergi.
"Oh iya ... terima kasih hari ini kau sudah banyak membantuku, Yuna." ucap Wilson dengan tulus dan juga mulai berdiri.
"Hhm. Sama-sama, Wilson." sahut Yuna lagi.
"Apa kamu sudah memesan taxi online?" tanya Wilson yang sebenarnya sedikit tak tega untuk melihat Yuna pulang seorang diri.
Ingin rasanya Wilson mengantar Yuna pulang, namun saat ini sedang ada bos besarnya yang sedang berkunjung ke apartemennya. Jadi tidak mungkin Wilson meninggalkan Kagami Jiro hanya untuk mengantar Yuna..
"Aku yang akan mengantar Yuna pulang!" ucap Kagami Jiro tiba-tiba yang membuat Wilson dan Yuna segera menoleh ke arah Kagami Jiro dan seketika terdiam karena terkejut.
"Kebetulan aku juga ingin menemui seseorang di apartemen Azabu. Jadi mari kita pergi bersama-sama." ucap Kagami Jiro lagi dan juga mulai bangkit dari tempat duduknya lalu dengan otomatis menyematkan kedua jemarinya pada saku celana yang berbahan super drill itu.
"Pergilah bersama tuan Kagami Jiro, Yuna. Maaf aku tidak bisa mengantarmu karena masih harus membersihkan dan merapikan apartemen baru ini." ucap Wilson yang terlihat begitu menyesal.
"Oh iya ... tidak masalah kok. Maaf juga aku tak bisa membantumu lagi. Kapan-kapan aku akan mampir lagi deh ..." ucal Yuna dengan penuh binar.
Tak seperti Kagami Jiro yang seketika sedikit membelalak ketika mendengar ucapan yang menyatakan jika Yuna akan mampir ke apartemen Wilson lagi.
"Okay, Yuna." sahut Wilson dengan senyum lebar.
"Ayo, Yuna! Kita pergi!" Kagami Jiro mulai melenggang meninggalkan mereka. "Wilson, kita pergi dulu!"
"Baik, Tuan Kagami Jiro." sahut Wilson yang mulai mengantar Kagami Jiro dan Yuna hingga sampai ke pintu apartemen itu.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Lagi-lagi suasana di dalam mobil menjadi begitu hening. Tak ada percakapan di antara keduanya selama beberapa saat. Dan sebenarnya Yuna masih cukup malu dan kikuk karena mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian yang sungguh memalukan dan menjadi hal paling memalukan di sepanjang hidupnya.
"Yuna ... kamu bilang mau mencari sebuah kado?" ucap Kagami Jiro memecahkan keheningan saat berada di dalam Buggati Divo miliknya itu.
"Iya, Tuan. Tapi aku akan pulang dulu untuk mengambil uang dan berganti pakaian." sahut Yuna.
"Bagaimana kalau aku antar saja? Setelah aku menemui seseorang, kita bisa pergi bersama ke sebuah tempat pembelanjaan?" ucap Kagami Jiro mengusulkan.
"Terima kasih, Tuan. Tapi aku tidak mau merepotkan tuan. Dan sepertinya aku hanya akan pergi sebentar saja kok lalu segera pulang kembali."
Kagami Jiro mulai menepikan Buggati Divo-nya dan segera melakukan parkir di tempat yang sudah disediakan. Lalu mereka berdua segera turun dari mocil mewah itu dan segera memasuki apartemen Azabu bersama.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Tuan." Yuna sedikit membungkukkan badannya dan berkata dengan tulus.
"Hhm." sahutan pendek dan terdengar begitu cuek itu terdengar seakan pria itu mengatakannya dengan setengah hati dan malas. Sangat bertolak belakang dengan isi hatinya!
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang. Permisi." ucap Yuna lalu berbalik dan mulai melenggang untuk meninggalkan Kagami Jiro.
Kagami Jiro tersenyum tipis menatap kepergian Yuna dan masih dengan kedua jemarinya yang masih dia sematkan pada kantong celananya. Lalu pria bergengsi itu mulai melenggang begitu saja. Dan anehnya dia seakan sedang mengikuti Yuna.
Namun Yuna masih mencoba untuk berpikir positif, bahkan saat Kagami Jiro ikut masuk ke dalam sebuah elevator bersama dengan Yuna. Yuna hanya menatapnya sekilas dan mengangguk pelan dengan senyum tipisnya. Sedangkan Kagami Jiro masih terlihat begitu santai dan selalu memasang senyumnya.
__ADS_1
TRINNGG ...
Pintu elevator itu kini mulai terbuka ketika mereka sudah sampai di lantai 7. Yuna mulai melenggang kembali setelah melakukan salam perpisahan dengan Kagami Jiro. Namun Kagami Jiro juga mulai melenggang keluar dari elevator di lantai 7.
Mengapa tuan Kagami Jiro juga keluar dari elevator di lantai ini? Siapa sebenarnya yang mau dia temui saat ini? Di lantai ini yang aku kenal dan sekaligus sering berurusan dengan pria ini adalah Wilson. Tapi kini Wilson sudah pindah. Lalu siapa yang akan dia temui kali ini di lantai 7 juga?
Batin Yuna yang sesekali sedikit melirik ke rah belakangnya, karena di belakangnya Kagami Jiro masih melenggang dengan langkahnya yang begitu santai.
Apa pria ini sedang menguntitku saat ini? Mengapa dia masih saja di belakangku seakan memang sedang mengikutiku?
Batin Yuna yang masih mencurigai Kagami Jiro hingga akhirnya Yuna mulai berhenti mendadak dan segera berbalik. Dilihatnya Kagami Jiro yang juga menghentikkan langkahnya. Dan kali ini mereka berdua sudah berada di depan apartemen Yuna.
"Apa tuan memang sengaja mengikutiku?" ucap Yuna blak-blakkan dan terdengar begitu tegas.
Namun Kagami Jiro malah tersenyum menatap Yuna dengam gaya khasnya, setelah itu mulai melenggang dan melewati Yuna begitu saja.
"Tuan muda Kagami Jiro, tuan sudah datang rupanya. Silakan masuk, Tuan muda Kagami Jiro!" suara wanita paruh baya mulai terdengar setelah pintu apartemen keluarga Yuna sudah terbuka.
Nah loh ... kini rasanya Yuna menjadi begitu malu karena sudah menuduh Kagami Jiro telah mengikutinya.
Haish ... sial ... jadi orang yang ingin ditemuinya saat ini adalah kedua orang tuaku ya? Tapi mengapa dia tidak memberitahuku sebelumnya? Jika dia memberitahuku sebelumnya, maka aku tak akan menuduhnya sudah menguntitku seperti ini. Huft ...
Batin Yuna yang merasa menjadi begitu pusing dan sedikit merasa malu.
"Yuna. Ayo masuk! Sampai kapan kamu mau berada di luar seperti itu?!" ucapan dari sang ibu kini sukses membuyarkan angan dari Yuna.
Gadis berwajah cantik nan tegas ini kini mulai berbalik dan menyusul ibunya dan Kagami Jiro yang rupanya mereka sudah mulai memasuki apartemen keluarganya.
Mengapa kedua orang tuaku memiliki janji bertemu dengan tuan Kagami Jiro? Dan mengapa ibuku bahkan tak memberitahuku sebelumnya?
__ADS_1
Batin Yuna yang pura-pura tak menyadari jika di dalam rumahnya sedang ada tamu dan malah langsung mau ngeloyor pergi ke dalam kamarnya saja.
"Yuna! Tolong buatkan minuman dulu, Sayang!" perintah dari sang ayah tercinta kini menghentikkan langkah kaki Yuna yang sudah bersiap untuk segera pergi ke kamarnya.