
Yuna dan Kagami Jiro terlihat masih duduk dan menantikan acara pelelangan ini dengan cukup sabar untuk menantikan barang yang sedang dicari oleh Kagami Jiro.
Barang demi barang mulai dikeluarkan oleh sang pemimpin acara untuk segera dilakukan pelelangan untuk menemukan sang tuan barunya.
Hingga tiba-tiba seorang wanita mulai dituntun oleh seorang pria untuk menaiki podium. Wanita yang terlihat begitu cantik, muda dan masih sangat polos itu mengenakan dress putih selutut.
"Wanita ini masih perawan dan masih sangat polos. Dibuka dengan harga 1.000.000 yuan." ucap pria itu melalui microphone.
"Bukankah ini namanya perdangangan manusia?!" ucap Yuna dengan nada sedikit tidak terima dan memandang tak suka lurus ke depan.
"Tenang, Sayang. Jangan marah-marah seperti ini ... polisi saja tidak bisa campur tangan dalam perdagangan gelap seperti ini." sahut Kagami Jiro seadanya. "Wanita ini tidak melawan. Itu artinya, apapun alasannya ... dia sendiri yang bersedia untuk tetap berdiri di panggung lelang." imbuhnya dengan tenang.
Kagami Jiro menatap dan menjelaskan dengan lembut kepada gadis yang baru saja dinikahinya belum ada satu tahun itu.
"Begitukah?" ucap Yuna masih dengan kening yang berkerut.
"Iya, Sayang!" Jiro itu mengelus lembut kepala Yuna dengan senyum tipis.
"Dua juta yuan!" ucap seorang pria yang kira-kira berusia 35 tahun mencoba memberikan harga tawarannya untuk membeli gadis muda yang masih berdiri di atas panggung itu.
"Tiga juta yuan!" timpal seorang pria lainnya lagi memberikan harga yang lebih tinggi.
"Lima juta yuan!" ucap seorang pria yang lainnya lagi tak mau kalah.
"Sepuluh juta yuan!" ucap seorang pria tua dengan setelan pakaiannya yang cukup mewah.
Begitulah mereka saling bersahutan untuk memperebutkan gadis yang sedang berdiri di depan panggung lelang itu.
__ADS_1
"Sepuluh juta yuan sekali. Sepuluh juta yuan dua kali. Sepuluh juta yuan 3 kali. Baiklah! Terjual! Gadis ini terjual untuk tuan Ruya." ucap si pembawa acara akhirnya memutuskan.
"Astaga ..." Yuna merasa kesal sendiri dan menepuk jidatnya sendiri.
Sangat terlihat dengan jelas melalui raut wajah ayu nan tegas itu jika Yuna memang sudah merasa kesal luar biasa karena melihat seorang gadis yang masih sangat belia rela untuk dilelang hingga menjual dirinya untuk seorang pria tua.
"Sepertinya mood-mu sedang buruk, Sayang. Apa lebih baik kita pergi saja?" ucap Jiro yang mulai khawatir terhadap istrinya. "Aku akan meminta Igor untuk mendapatkan cincin kuno itu bagaimanapun caranya!" imbuh Kagami Jiro yang tentu saja lebih mementingkan sang istri dibandingkan dengan apapun.
"Tapi apakah benar tidak masalah jika kita pergi sekarang? Bagaimana jika seseorang berhasil mendapatkan cincin kuno itu?" tanya Yuna sedikit khawatir.
"Tidak kok, Sayang. Igor akan mendapatkannya. Jika tidak habislah dia di tanganku!!" jawab Kagami Jiro menggeram karena mulai membayangkan Igor yang gagal mendapatkan cincin kuno itu.
"Kalau begitu kita tunggu saja. Kasihan Igor sendirian." jawab Yuna dengan cepat karena khawatir Igor akan mendapatkan pelampiasan amarah dari Kagami Jiro jika sampai gagal untuk mendapatkan cincin kuno itu.
"Cincin kuno itu adalah papa yang menginginkannya, jadi aku harus mendapatkannya! Dan berapapun harganya, itu tidak masalah. Tenang saja, Sayang. Igor akan mendapatkannya. Ayo kita pergi saja dari tempat ini. Mood-mu sedang kurang baik saat ini." ucap Kagami Jiro lagi membujuk Yuna.
"Baiklah. Ya sudah kita pergi saja!" sahut Yuna cepat dan penuh dengan keyakinan.
Yeap, kini mereka berdua bangkit dan mulai meninggalkan tempat pelelalangan ini. Mereka mulai menuju ke tempat parkiran dan segera memasuki sebuah mobil mewah untuk menuju ke tempat berikutnya.
Jiro mulai memakai sabuk pengaman untuk dirinya sendiri, kemudian Kagami Jiro juga mulai mencodongkan tubuhnya ke arah Yuna untuk memakaikan sabuk pengaman untuk sang istri.
Namun karena Kagami Jiro yang sedikit usil, tiba-tiba saja Kagami Jiro malah mengecup singkat bibir kemerahan Yuna saat sedang memakaikan sabuk pengaman itu.
"Ih ... kebiasaan deh!" sungut Yuna dengan wajah yang sudah sedikit merona karena malu.
Kagami Jiro hanya menanggapinya dengan tawa kecilnya yang begitu renyah, "Kita kembali saja ke hotel yuk! Bukankah kita harus melanjutkan keturunan dan menghadirkan Jiro junior kembali?"
__ADS_1
"Apa?! Bahkan putra kembar kita saja belum berusia satu tahun, Sayang!" Yuna menyauti sedikit syok, namun wajahnya mulai merona kembali. Bahkan kali ini lebih merah padam.
Yeap. Seketika wajah Yuna semakin memerah setelah mendengar ucapan dari suaminya. Namun Yuna hanya terdiam dan tidak menjawabnya sama sekali.
"Karena tidak ada jawaban, maka aku anggap kau setuju!" celutuk Jiro dengan tawa kecil dan mulai menghidupkan mobilnya dan segera mengemudikannya.
...⚜⚜⚜...
Kagami Jiro dan Yuna mulai memasuki sebuah kamar hotel mewah kelas president suites. Yuna mulai meletakkan sling bag berwarna putih itu di atas sebuah nakas.
Belum sempat mempreteli aksesoris-aksesoris lainnya lagi satu per satu, tiba-tiba saja Kagami Jiro sudah memeluk tubuh ramping Yuna dari arah belakang. Kagami Jiro juga mulai menyandarkan dagu indahnya di atas bahu kiri Yuna.
"Sayang, bagaimana? Apa masih merasa kesal?" tanya Kagami Jiro dengan hangat.
"Hhm? Tidak kok. Ya sudah. Aku akan mandi dulu ya. Beberapa jam berada di aula pelelangan membuatku sedikit gerah." celutuk Yuna yang sudah mendaratkan kedua tangannya di atas tumpukan kedua tangan Kagami Jiro yang masih memeluknya.
"Hm? Mandi? Mandi bersama yuk!" ucap Kagami Jiro tiba-tiba yang rentu saja sukses membuat Yuna tersipu malu kembali.
Seketika wajahnya mulai merona karena suaminya sangat pintar sekali menggodanya dan membuatnya merasa malu.
"Apaan sih? Kalau begitu kamu duluan saja deh yang mandi. Aku nanti saja." sahut Yuna lebih memilih untuk mengalah saja.
"Nggak mau! Aku maunya kita mandi bersama!" Kagami Jiro menyauti dengan kekeh disertai tawa kecil yang begitu menggelitiki telinga Yuna.
"Apaan sih ..." sahut Yuna sedikit mengangkat kedua bahunya karena merasa geli.
"Ya sudah kita mandinya nanti saja. Sebaiknya kita melakukan olaraga yang kamu suka sebentar dulu" ucap Kagami Jiro mulai memutar tubuh Yuna dan menghadapkannya padanya dan sedikit mendorong Yuna hingga Yuna terduduk di tepian pembaringan.
__ADS_1
"Olahraga yang aku suka? Itu kan olahraga yang kamu suka!" celutuk Yuna sedikit tak terima.
"Jadi kamu tidak menyukainya ya, Sayang? Coba katakan padaku ... bagian mana yang tidak kamu suka? Bagian mana yang tidak membuatmu merasa puas? Apa aku begitu buruk dan tidak membuatmu merasa senang dan puas? Ayo ... Katakan padaku, Sayang ..." ucap Kagami Jiro yang sudah semakin mendorong tubuh Yuna dan menguncinya dengan kedua tangannya.