
Tatsuya masih terkekeh menertawakan Kagami Jiro begitu puas, karena baru pertama kali ini dia melihat ada pasangan pengantin yang begitu berbeda dengan pasangan pengantin lainnya.
Jika kebanyakan pasangan pengantin baru akan segera menyalurkan haasratnya bahkan akan seperti 2 magnet yang berbeda dan akan saling tarik menarik dengan begitu kuat, namun tidak dengan pasangan pengantin Kagami Jiro dan Yuna yang malah tidak melakukan hal apapun.
Bahkan Kagami Jiro malah meninggalkan Yuna dan menghabiskan waktunya bersama dengan Tatsuya malam ini dengan minum bersama di sebuah klub malam.
"Sabarlah kamu, Jiro! Bukankah besok kalian akan melakukan bulan madu cukup lama. Gunakan kesempatan itu dengan baik." celutuk Tatsuya yang mulai meneguk segelas wine miliknya. "Kali ini kalian akan bulan madu kemana?"
"Aku tidak tau, Tatsuya. Ibuku yang sudah mempersiapkan semuanya. Aku dan Yuna hanya tinggal berangkat saja besok." sahut Kagami Jiro yang rupanya masih mendengarkan ucapan dari Tatsuya.
"Hhm. Semoga bulan madu kalian lancar aman jaya deh. Hehe ... Yuna memang belum pernah menjalin ikatan dengan seorang pria manapun. Jadi makhlumilah dia. Dan aku sungguh tidak menyangka lo, jika Yuna-lah yang akan menjadi istrimu. Dunia ini terkadang memang sulit untuk diterka-terka. Padahal selama ini semua wanitamu adalah sangat luar biasa! Tidak aku sangka Yuna yang polos dan tak tau cinta malah bisa menakhlukkan seorang casanova sejati seperti dirimu, Jiro. Gyahaha ..." Tatsuya yang sudah semakin teler, terus saja berkicau ria.
"Apa kamu tau, Tatsuya? Kamu sudah sangat menyerupai seekor burung beo saja lo. Berisik sekali!!" gumam Kagami Jiro yang sesekali membuka matanya dan kini sudah mulai meraih ponselnya untuk menghubungi asisten pribadinya.
Namun belum sempat Kagami Jiro menghubungi asisten pribadinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan layar dari ponsel itu menampilkan nama Yuna. Namun belum sempat Kagami Jiro mengangkat panggilan itu, rupanya panggilan itu sudah berakhir begitu saja.
Ada apa Yuna menghubungiku? Mengapa dia belum tidur? Apakah dia berubah pikiran dan sedang menungguku di rumah? Ahh ... itu sangat tidak mungkin. Yuna bukan gadis yang akan berubah pikiran seperti itu dengan cepat. Terutama menyangkut hal seperti itu. Jadi pasti bukan itu. Lalu apa? Ahh ... seharusnya aku juga segera pulang. Lagi pula ini sudah lewat tengah malam. Sebaiknya aku meminta Igor untuk menjemputku.
__ADS_1
Batin Kagami Jiro yang mulai mencari kontak nomor Igor lalu segera menghubunginya. Setelah beberapa saat akhirnya panggilan itu mulai diangkat oleh asisten pribadinya yang sebenarnya sudah di luar jam kerja.
"Halo, Tuan Kagami Jiro." sahut Igor dari seberang line.
"Igor, jemput aku sekarang juga di Matsu Club and Cafe. Cepatlah dan jangan membuat aku menunggu terlalu lama!!" setelah memberikan sebuah perintah yang seenak jidatnya sendiri itu, kini Kagami Jiro mulai mengakhiri panggilan itu begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari Igor.
"Jadi kamu akan segera pulang? Ah tidak seru ... kita baru saja bertemu kembali tapi kamu malah kamu mau meninggalkanku lagi." celutuk Tatsuya menyayangkan Kagami Jiro yang malah memutuskan untuk segera pulang.
"Hhm. Sepertinya Yuna belum tidur dan sedang menungguku." sahut Kagami Jiro yang sudah merem melek dan masij saja meneguk kembali red wine itu.
Ponsel Kagamu Jiro berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk. Kagami Jiro melihat kembali ponselnya untuk memeriksa pesan itu. Dan rupanya pesan itu berasal dari Yuna.
Kamu sedang dimana? Mengapa tidak mengangkat panggilan dariku? Jika tidak pulang seharusnya kamu memberiku kabar bukan? Yuna.
Begitulah isi pesan dari Yuna yang sudah sedikit samar-samar saat Kagami Jiro membacanya. Karena kepalanya sudah menjadi sedikit berat dan pusing karena terlalu banyak mengkonsumsi red wine itu.
Pesan itu tak dibalas oleh Kagami Jiro, bqhkan ponsel itu terjatuh begitu saja dari tangannya saking sudah tidak memiliki kesadaran yang cukup baik lagi.
__ADS_1
"****!! Sudah berapa botol yang kamu habiskan, Jiro?!" celutuk Tatsuya mulai melihat dan mengamati semua botol-botol kosong yang sudah sangat banyak itu dan masih berdiri di atas meja. "Astaga Jiro ... banyak sekali kamu minum malam ini."
Sementara itu ...
Yuna masih berjalan mondar-mandir dan terlihat begitu gelisah dengan ponsel yang selalu digenggamnya. Di setiap beberapa menit sekali Yuna terlihat memeriksa ponselnya untuk melihat apakah ada sebuah pesan balasan ataukah panggilan balik dari Kagami Jiro.
Namun semua itu sia-sia. Tak ada satupun pesan maupun panggilan masuk dari Kagami Jiro. Dan tentu saja ini sangat membuat Yuna merasa khawatir dan juga merasa bersalah. Karena saat ini sudah menunjukkan pukul 2 AM, dan Kagami Jiro juga belum pulang.
"Kamu sedang dimana? Panggilanku tidak kamu angkat, pesanku juga tidak kamu balas sama sekali. Dan sekarang ponselmu tidak bisa dihubungi. Apa sesuatu sudah terjadi padamu? Apa kamu baik-baik saja? Ahh ... ini semua gara-gara aku!! Andai saja tadi aku tidak menolaknya, pasti dia akan baik-baik saja saat ini dan dia juga masih akan berada disini. Bagaimana ini?" Yuna terlihat begitu khawatir dan menggigit ibu jarinya sendiri.
"Tidak ... tidak ... itu tidak benar!! Aku tidak sepenuhnya bersalah kok! Seharusnya dia kan memahamiku, aku tak pernah memiliki ikatan bersama seorang pria manapun sebelumnya. Dan tiba-tiba saja aku malah tunangam dan langsung menikah dengan seorang pria. Tentu saja aku masih harus pelan-pelan beradaptasi bukan?" gumam Yuna mulai menyalahkan Kagami Jiro atas semua ini.
"Tapi ... aku juga merasa bersalah karena saat ini statusku adalah sebagai istrinya. Dan seharusnya aku bisa melayaninya dengan baik." gumam Yuna semakin kebingungan sendiri. "Arghh ... lagipula dia adalah seorang pria dewasa yang sangat kuat! Dia pasti baik-baik saja bukan saat ini di luar sana!! Tak akan ada orang yang bisa menyakiti dan melukai dia!! Yeap!! Kau benar sekali, Yuna! Sebaiknya kamu segera beristirahat dan tidur saja! Jangan memikirkan dia lagi, karena pasti saat ini Kagami Jiro sedang bersenang-senang di luar sana!! Ya ... mari tidur dan istirahatkan otakmu, Yuna!!" ucap Yuna memantapkan hatinya sendiri dan akhirnya mulai melenggang mendekati pembaringan berukuran king dengan sprei putih menjuntai itu.
Yuna segera menaiki pembaringan itu dan mulai membaringkan tubuh rampingnya di atasnya. Sebuah selimut yang juga berwarna putih yang begitu lembut dan tebal mulai ditariknya hingga menutupi sampai batas lehernya.
Namun baru saja memejamkan sepasang matanya, tiba-tiba saja mulai terdengar seperti suara pintu kamar yang mulai terbuka. Tak lama setelah itu juga mulai terdengar derap langkah kaki yang mulai memasuki kamar itu. Langkah kakinya terdengar sedikit pelan namun tidak memiliki ritme yang teratur.
__ADS_1