
Kagami Jiro hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Yuna. Kini mereka sudah berada di depan sebuah elevator. Tak lama kemudian pintu elevator itu mulai terbuka.
Seorang pria dengan setelan jas yang begitu rapi membunggkukkan badannya ketika melihat Kagami Jiro lalu mulai keluar dari elevator itu.
"Selamat siang, Tuan Kagami Jiro!" sapa Igor.
"Halo, Tuan Igor!" sapa Yuna dengan sangat ramah menyapa pria itu.
"Selamat siang, Nona Yuna." Igor juga sedikit membungkukkan badannya kembali. "Apa yang nona Yuna lakukan disini?"
"Aku hanya mampir, Tuan Igor. Dan sekarang akan segera kembali ke kampus." sahut Yuna dengan ramah seperti biasanya.
"Oh. Tuan Kagami Jiro mau pergi kemana? Bukankah kita akan segera pergi ke Osaka, Tuan?" Igor menatap bingung Kagami Jiro, karena sebenarnya ada ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan Kagami Jiro dan Igor untuk pergi ke Osaka sore hari ini.
"Osaka? Bukankah tuan Kagami Jiro akan ada rapat di dekat kampusku?" ucap Yuna tak mengerti lalu menatap Kagami Jiro dengan sangat bingung.
Beberapa saat Kagami Jiro hanya menatap tajam Igor, seakan ingin menerkamnya saja. "Siapa bilang aku akan ke Osaka hari ini?! Kamulah yang akan pergi ke Osaka hari ini dan menggantikanku, Igor! Karena aku masih ada pekerjaan lainnya lagi." ucap Kagami Jiro menandaskan dengan penuh penekanan. "Ayo, Yuna kita pergi!"
Kagami Jiro mulai memasuki elevator itu, dan diikuti oleh Yuna setelah Yuna berpamitan dengan Igor.
Tak beberapa lama kemudian pintu elevator mulai tertutup. Kagami Jiro mulai menekan sebuah tombol yang menunjukkan lantai dasar.
"Sepertinya tuan Kagami Jiro benar-benar menyukai nona Yuna hingga berbuat sampai sejauh ini. Dia dengan mudah membatalkan beberapa rapat penting, bahkan selalu saja memintaku untuk menggantikan dirinya di dalam rapat-rapat penting itu. Tidak pernah terjadi hal seperti ini sebelumnya ... hhm ..." gumam Igor yang masih terdiam di depan elevator yang masih tertutup itu.
Sementara itu di dalam elevator ...
"Tuan Kagami Jiro ..." ucap Yuna memecah keheningan di dalam elevator itu.
"Hhm? Ada apa?" sahut Kagami Jiro dengan santai dan masih berdiri dengan tegap dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Seperti biasa, gaya santai seorang Kagami Jiro!
"Jika tuan memang sibuk, aku bisa pergi sendiri. Kasihan tuan Igor menggantikan tuan Kagami Jiro." ucap Yuna sedikit melirik dan mendongak menatap pria di sebelahnya itu.
"Igor sudah terbiasa melakukannya kok. Jangan khawatir. Lagipula aku memang ada sebuah meeting di sekitar kampusmu." jawab Kagami Jiro dengan santai.
Tak bisa berkata-kata lagi. Yuna akhirnya hanya diam dan tak mau berdebat lagi dengan pria itu. Karena mau menolak seperti apapun, Kagami Jiro akan selalu memenangkannya!
__ADS_1
SSRRTT ...
KKRRIIEETT ...
KKLLAAPP ...
Tiba-tiba lampu elevator mulai padam setelah beberapa kali lampu itu berkelip-kelip. Lalu disusul juga dengan seuara yang terdengar begitu keras. Yeap, elevator itu tiba-tiba berhenti dan tidak berfungsi.
BBRRAAKK ...
Suasana sangat gelap karena tak ada lampu penerangan sama sekali. Bahkan lampu darurat juga padam begitu saja. Dengen reflek Yuna segera meraih dan mencengkeram lengan kuat Kagami Jiro.
Bayangkan saja ini adalah di lantai 13, tentunya Yuna akan sangat ketakutan jika membayangkan sesuatu yang terburuk terjadi begitu saja. Seperti, tiba-tiba saja elevator itu terjatuh ke dasar. Oh my!
"Apa yang terjadi? Mengapa elevator ini tiba-tiba mati?" ucap Yuna yang sangat terlihat begitu ketakutanm
"Apa kau takut?" ucapan begitu lembut sengaja Kagami Jiro lontarkan di dekat telinga Yuna.
"Tentu saja!" Yuna semakin kuat mencengkeram lengan Kagami Jiro dalam keadaan yang sangat gelap.
Kagami Jiro sedikit memutar tubuhnya lalu mengalungkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Yuna.
"Itu sangat berbeda. Kali ini kita sedang berada di lantai 13. Bagaimana jika tiba-tiba saja elevator ini jatuh ke dasar dan ..." Yuna tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya karena tubuhnya sudah sedikit bergetar jika membayangkan hal buruk itu tiba-tiba saja terjadi.
Gadis cantik itu semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Kagami Jiro dan masih belum bisa mengatasi ketakutannya sama sekali.
"Mengapa perusahaan besar seperti Doragonshadou bisa mengalami hal seperti ini? Apa kalian tak melakukan pemeriksaan untuk elevator secara berkala?!" ucap Yuna.
"Selama 5 tahun terakhir elevator ini sangat bagus dan tidak pernah mengalami kerusakan semacam ini. Mengapa saat kau datang hari ini tiba-tiba saja elevator ini malah rusak?!" ucap Kagami Jiro yang sebenarnya hanya sedang menggoda Yuna.
"Ciih ... apa maksudmu?! Dasar menyebalkan!" Yuna memukul pelan dada bidang Kagami Jiro karena sedikit kesal.
Kagami Jiro hanya tertawa renyah saja. Dan tiba-tiba saja elevator itu sedikit terasa bergerak kembali ke bawah dengan cukup keras seakan mau terjatuh begitu saja.
GGRREEKKK ...
__ADS_1
"Aargghh ..." pekik Yuna semakin ketakutan hingga gadis cantik itu kembali membenamkan dirinya pada pelukan Kagami Jiro.
"Tenang saja. Elevator ini tak akan bisa jatuh ke bawah. Karena kami juga memberikan safety untuk antisipasi jika hal semacam ini tiba-tiba saja terjadi." ucap Kagami Jiro berusaha untuk menenangkan Yuna.
Namun tetap saja ucapan itu tak cukup untuk membuat Yuna merasa tenang.
"Dalam waktu 10 menit, mereka akan datang untuk menolong kita. Jangan takut." ucap Kagani Jiro lagi.
"Tolong nyalakan lighter dengan ponselmu, Tuan." pinta Yuna. "Ini gelap sekali."
Kagami Jiro berusaha untuk mencari ponselnya di setiap saku pakaiannya, namun dia sama sekali tak menemukannya.
"Sepertinya ponselku tertinggal di ruangan kerjaku. Bagaimana jika ponselmu saja, Yuna?"
"Terserah tuan saja. Tapi tolong ambilkan ... aku sangat takut untuk bergerak. Meskipun hanya sedikit saja ..." ucap Yuna yang tak pernah melepas pegangannya pada lengan Kagami Jiro.
"Hhm. Baiklah ..." sahut pria tampan itu kembali tersenyum.
Meskipun suasana di dalam elevator saat ini sangat gelap. Namun sebenarnya Kagami Jiro salu saja tersenyum, karena situasi sebuah kecelakaan kecil ini membuat Yuna menjadi sangat dekat bahkan selalu menempel padanya.
Kecelakaan yang membawa berkah.
Batinnya dengan suasana hati yang begitu berbahagia.
Kini Kagami Jiro mulai meraba-raba saku celana jeans Yuna. Diawali dengan saku bagian depan lalu mulai merayapi saku celana bagian belakang. Gerakan jemarinya sungguh terasa begitu aneh. Begitu pelan, seakan memang sedang merayapi bagian pangkal paha Yuna bagian belakang.
"Apa yang tuan pegang?!" ucap Yuna sedikit risih.
"Aku hanya sedang mencari ponselmu. Dimana kau meletakkannya?" ucap Kagami Jiro begitu santai, dan sebenarnya jika saja lampu saat ini sedang menyala, maka wajahnya yang kini sedikit menjadi merah akan sangat terlihat.
"Aku lupa meletakkannya dimana. Tuan cari saja."
"Hhm ... baiklah. Tapi diamlah agar aku tak salah pegang lagi."
"Bahkan daritadi aku hanya diam saja ..." protes Yuna.
__ADS_1
"Ya ... ya ... ya ... aku akan mencarinya lagi." jemari Kagami Jiro kini mulai menggerayangi kembali bagian pangkal paha Yuna bagian belakang, namun dia tetap tak menemukan benda pipih itu.
"Aku tak menemukanya, Yuna. Coba ingat-ingat kembali dimana kamu menyimpannya."