Casanova In Love

Casanova In Love
Perjuangan Yuna


__ADS_3

3 bulan kemudian ...


Malam ini Yuna mulai merasakan sakit luar biasa pada perutnya. Berulang kali Yuna pergi ke kamar mandi karena merasa mules dan sakit perut. Namun setelah berada di kamar mandi terkadang rasa sakit itu hilang begitu saja.


Begitulah terus terjadi, bahkan Yuna juga mulai mengeluarkan keringat dingin daj sudah menjadi begitu pucat.


Malam itu seluruh anggota keluarga besar Kagami sudah beristirahat semua. Karena saat ini adalah sudah menunjukkan pukul 11.58 PM, hampir tengah malam.


Namun Kagami Jiro masih saja terbangun dan menemani Yuna yang sama sekali tidak bisa tidur karena perutnya yang mengalami kontraksi itu.


"Argghh ... ini sungguh sakit sekali." rintih Yuna merasakan sakit luar biasa itu kembali dan memegangi perutnya yang sudah besar.


"Bagian mananya yang sakit. Katakan padaku ..." ucap Kagami Jiro mengelus-elus perut Yuna berharap bisa mengurangi rasa sakit pada perut Yuna.


"Sayang, ini sakit sekali. Rasanya nyeri dan ingin selalu buang air besar. Tapi tidak ada yang keluar. Hiks ..." rintih Yuna yang sedang menahan rasa sakit luar biasa itu kembali.


Sebenarnya Kagami Jiro cukup kebingungan saat menghadapi Yuna saat ini. Satu-satunya orang yang selalu mengerti dan mempedulikan semua ini adalah Aiko. Namun saat ini nyonya Aiko juga sudah mulai berirtirahat.


"Baiklah kita ke rumah sakit sekarang ya! Mungkin saja ini sudah waktunya." ucap Kagami Jiro lalu bulai mengambil pakaian hangat untuk Yuna dan untuk dirinya sendiri.


"Arrgggh ... sakit sekali, Sayang. Sakit ..." rintih Yuna kembali dan masih beruraian air mata.


Bukannya menjawab Kagami Jiro, namun Yuna malah semakin merintih kesakitan karena Yuna merasakan sakit itu kembali dan tekanannya lebih besar dari sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


Sebenarnya Kagami Jiro merasa sangat tidak tega saat melihat Yuna yang seperti itu. Ditambah lagi bagian paha Yuna mulai terlihat ada darah segar yang mengalir dari pangkal pahanya. Dan tentu saja itu semakin membuat Kagami Jiro merasa khawatir.


Setelah itu, Kagami Jiro mulai menggendong depan Yuna. Dengan sangat berhati-hati Kagami Jiro mulai membawanya untuk segera turun ke lantai dasar menuju garasi.


Di sepanjang perjalanan, Yuna selalu saja mengaduh kesakitan dan memegangi perutnya. Nafasnya terlihat naik turun dan wajahnya sudah terlihat sedikit pucat. Peluh sudah membasahi wajah dan juga seluruh tubuhnya.


Kagami Jiro mulai mempercepat laju Buggati Divonya dan segera menuju ke sebuah rumah sakit. Saat di rumah sakit mereka berdua sudah disambut oleh seorang dokter ahli kandungan, karena Kagami Jiro sudah menghubunginya terlebih dahulu.


Tak lupa Kagami Jiro juga menghubungi Igor dan juga Yosuke untuk datang ke rumah sakit dan sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu Kagami Jiro kerepotan. Karena saat ini hanya dia dan Yuna saja yang sedang berada di rumah sakit.


"Dokter, bolehkah aku masuk dan menemani istriku?" tanya Kagami Jiro memohon.


Padahal semua permohonannya itu adalah suatu hal yang sangat wajar. Dan tentu saja hal itu akan sangat diijinkan oleh tenaga medis jika Yuna memang melahirkan secara normal. Dan ditemani sang suami saat mempertaruhkan nyawanya ketika berjuang melahirkan kedua putranya, tentu itu akan membuat Yuna semakin memiliki semangat untuk berjuang.


Bayangkan saja, seorang Kagami Jiro, seorang petinggi utama Doragonshadou akan berada di sebuah ruangan dan menemani istrinya melahirkan anak-anakknya. Sungguh begitu manis dan membuat iri kaum hawa lainnya.


"Tentu saja, Tuan. Tuan Kagami Jiro diperbolehkan untuk menemani nyonya Yuna." sahut dokter spesialis kandungan itu dengan sangat ramah.


Kagami Jiro langsung saja memasuki ruangan itu bersama sang dokter. Terlihat Yuna yang sudah terbaring di atas brankar dengan wajahnya yang sudah pucat dan dipenuhi peluh.


Rasanya semakin sakit dan tak tega melihat Yuna yang sudah menjadi semakin lelah dan kehabisa tenaga. Beberapa tenaga medis dan dokter kandungan itu dengan sabar selalu memberikan instruksi untuk Yuna. Setika harus mengatur nafasnya, dan saat harus mengejan. Beberapa kali Yuna juga terlihat sudah mulai mengejan.


Kagami Jiro mulai mendekati brankar dan meraih salah satu jemari Yuna berharap bisa sedikit membantu dan memberi kekuatan untuk sang istri tercinta, yang saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kedua buah hatinya.

__ADS_1


Berulang kali Yuna masih saja berteriak mengaduh kesakitan. Dan genggaman tangannya saat digenggam oleh Kagami Jiro juga semakin kuat. Namun Yuna juga sudah terlihat mulai kehabisa tenaga kembali dan begitu tak berdaya.


"Sayang. Aku disini menemanimu untuk menyambut kedua putra kita. Tetap semangat dan jangan menyerah. Mereka sedang membutuhkanmu untuk untuk berjuang." ucap Kagami Jiro begitu lirih dan sesekali menyeka peluh Yuna yang sudah membasahi wajah dan seluruh anggota tubuhnya.


"Sayang, sakit sekali. Aku tidak tahan lagi ..." rintih Yuna begitu tak berdaya.


"Nyonya jangan menyerah. Sebentar lagi semua sudah akan berakhir. Pembukaan sudah sempurna, dan kepala jabang bayi juga sudah mulai terlihat. Nyonya ikuti instruksi lagi ya ..." ucap sang dokter kandungan mulai membenarkan posisinya kembali.


"Ambil nafas panjang, lalu keluarkan perlahan. Mengejanlah sekuat mungkin. Dan jangan mengejan bada bagian perut ya." ucap dokter itu lagi mulai memberikan instruksi lagi.


"Sayang, semangatlah ..." ucap Kagami Jiro yang masih menggenggam salah satu jemari Yuna dan mengusap lembut rambut Yuna.


Yuna mulai melakukan semua itu sesuai yang diinstrukan oleh sang dokter. Ketika Yuna mengejan, dia semakin kuat mencengkeram jemari Kagami Jiro dan salah satu tangannya juga semakin kuat mencengkeram tangan seorang perawat yang saat ini berada di sisi lainnya.


Sungguh perjuangan yang sangat luar biasa dan tak akan pernah terlupakan di sepanjang hidup Yuna. Demi untu kedua buah hatinya agar bisa menatap dunia ini, akhirnya Yuna mulai bertekad kembali dan sebisa mungkin mulai mengumpulkan tenaganya kembali untuk bisa melakukan yang terbaik.


Hingga pada akhirnya mulai terdengar suara tangisan bayi yang saling bersahutan memecah keheningan malam di dalam ruangan ini.


Perasaan lega, plong, disertai kebahagiaan mulai menyelimuti hati semua orang yang sedang berada di dalam ruangan ini. Terutama Yuna yang saat ini sudah menyandang status barunya sebagai seorang ibu. Dan Kagami Jiro yang juga sudah menyandang status sebagai seorang ayah.


Tak kuasa menahan tangis haru, air mata hangat itu kini mulai membasahi pipi putih Yuna ketika mendengar tangisan dari kedua putranya. Kagami Jiro masih mengusap-usap kening Yuna dan mulai mengecupnya penuh haru.


Sementara kedua bayi itu masih bersama dengan kedua perawat untuk dibersihkan dan dipakaikan pakaian sebelum bertemu dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2