
Seorang gadis mulai meletakkan beberapa makanan dan minuman di atas meja dengan pelan dan hati-hati lalu segera undur diri kembali. Setelah itu Yuna dan Kagami Jiro mulai menikmati makan malam mereka berdua dengan menu sederhana dan juga di tempat yang sederhana.
"Bagaimana? Apa ini enak?" tanya Kagami Jiro yang terlihat begitu ingin tau tentang pendapat Yuna dengan masakan di restoran ini.
"Ini enak sekali! Dagingnya begitu lembut dan bumbunya meresap hingga sampai di dalam. Rasa gurih dan manisnya juga sangat pas. Aku sangat menyukainya!" jawab Yuna dengan jujur dan bersemangat menyantap makanan itu.
"Aku sangat sependapat denganmu, Yuna. Saat aku pertama datang ke tempat ini, aku juga langsung berpendapat seperti itu. Hingga akhirnya aku langsung menetapkan tempat ini akan aku jadikan sebagai salah satu temoat makan faforitku sejak saat itu. Dan aku sangat merasa senang kini aku bisa mengunjunginya kembali bersama denganmu. Karena sebenarnya sudah lama aku tak datang ke tempat ini. Terima kasih ya sudah menemaniku malam ini untuk makan malam disini." ucap Kagami Jiro dengan tulus.
"Sama-sama. Aku juga suka kok makan malam disini. Terima kasih juga karena sudah mengajakku bersamamu untuk datang ke restoran ini." sahut Yuna mulai memasukkan sepotong daging wagyu yang sudah dipotong kecil-kecil menjadi beberapa potongan.
"Yuna ... aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."
"Hhm? Ya ... katakan saja apa itu? Asal aku masih bisa menjawabnya, maka aku akan menjawabnya. Asalkan jangan bertanya kepadaku tentang senjata, bom nuklir atau ranjau darat ... aku tidak akan paham dengan hal-hal seperti itu." Yuna berkata dengan nada jenaka dan mulai tertawa terlepas.
Dan hal itu cukup menghibur Kagami Jiro dan juga membuat Kagami Jiro tersenyum lebar begitu saja.
"Aku akan mengatakannya setelah kita selesai makan." sahut Kagami Jiro mulai menikmati makan malam kembali.
"Huft ... kenapa tidak sekarang saja?" protes Yuna menggerutu.
"Cepat habiskan makan malammu dan kita akan segera berbincang kembali." kali ini Kagami Jiro menyudahi makannya dan mulai menikmati salah satu minuman faforitnya selama ini, Americano Coffe.
"Hhm ... baiklah!" sahut Yuna tak mau berdebat.
Tiba-tiba ponsel Kagami Jiro mulai berdering. Kagami Jiro mulai mengambil ponsel itu dari saku pakaiannya lalu mulai mengangkatnya setelah melihat nama sang pemanggil ternyata adalah ibunya
__ADS_1
"Hallo, Ibu. Ada apa?" tanya Kagami Jiro setelah meletakkan benda pipih itu di dekat telinganya.
"Jiro, kamu sedang dimana, Sayang?" tanya Aiko dari seberang.
"Aku sedang makan malam bersama calon menantu ibu." sahut Kagami Jiro sambil tersenyum melirik Yuna.
Namun ucapan dari Kagami Jiro sukses membuat Yuna begitu terkejut hingga membuat Yuna yang sedang mekan seketika tersedak begitu saja. Dengan cepat Kagami Jiro mulai memberikan minuman untuk Yuna dan Yuna segera meminumnya.
"Ada apa, Sayang? Apa yang sedang terjadi dengan Yuna? Apa calon menantu ibu baik-baik saja?" tanya Aiko dari seberang line yang terdengar begitu khawatir ketika mendengar Yuna sedang tersedak.
"Ah ... oh ... Yuna baik-baik saja kok, Ibu. Oh iya. Ibu ada apa menelponku? Apa ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah atau di Rubby Shine? " tanya Kagami Jiro mulai mengkawatirkan ibunya.
"Sebenarnya tidak ada masalah sih, Sayang. Hanya saja ..." ucap Aiko yangbterdengar mulai ragu untuk menceritakan sesuatu kepada Kagami Jiro.
"Lebih baik baik kalian lanjutkan makan malam bersama kalian dulu saja, Sayang. Saat kamu pulang nanti saja ibu akan memberitahumu." ucap Aiko yang terdengar begitu hangat, dan sudah bisa dibayangkan Aiko mengatakannya sambil tersenyum dengan hangat.
"Baiklah. Setelah mengantar Yuna pulang, aku juga akan segera pulang ke rumah besar, Ibu. Jika ibu mengantuk dan merasa lelah ibu boleh tidur dulu. Jangan menunguku hingga aku pulang. Kita bisa berbincang besok pagi." ucap Kagami Jiro yang terlihat sangat menyayangi sang ibu.
"Baiklah, Sayang. Jangan terburu-buru. Makan malamlah dengan tenang. Kita bisa berbincang besok kok." sahut Aiko dengan tenang. "Ya sudah, kalian lanjutkan saja dulu. Ibu akan membuatkan susu hangat untuk papamu."
"Baik, Ibu."
Panggilan itu mulai berakhir, dan Kagami Jiro mulai menyimpan ponselnya kembali. Sebenarnya Kagami Jiro masih begitu penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh sang ibu. Namun Kagami Jiro juga masih ingin bersama dengan Yuna saat ini.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Yuna yang juga mulai ingin tau.
__ADS_1
"Masalah pekerjaan kok. Dan aku juga masih belum tau pastinya." jawab Kagami Jiro seadanya.
"Apakah begitu darurat? Kita bisa pulang sekarang kalau kamu mau. Kasihan ibumu, sebaiknya kamu menemani ibumu dulu." ucap Yuna mulai menyudahi makannya dan mengambil sebuah tisu untuk membersihkan sisa makanan pada mulutnya.
"Tapi, Yuna ..." sela Kagami Jiro yang terlihat sedikit ragu-ragu.
"Tidak apa-apa kok. Lagipula makan malam kita juga sudah selesai. Yuk!!" ajak Yuna dengan senyum lebar yang membuatnya terlihat begitu cantik.
Tak bisa menolaknya, akhirnya Kagami Jiro menuruti Yuna dengan tersenyum hangat menatap Yuna, lalu mengangguk pelan. Setelah itu Kagami Jiro mulai memanggil seorang pelayan restoran untuk membayar tagihan makannya.
"Bawakan bill untukku!" perintah Kagami Jiro kepada seorang pelayan wanita itu lagi.
"Baik, Tuan. Silakan tunggu sebentar." ucap pelayan wanita itu lalu mulai berlalu
Setelah beberapa saat seorang pelayan wanita mulai datang kembali dengan membawakan sebuah bill dan segera memberikan untuk Kagami Jiro. Kagami Jiro menerima bill itu lalu mulai mengeluarkan dompet hitamnya dan mulai mengeluarkan sebuah black card.
"Maaf tuan, tapi semua mesin pembayaran kami saat ini sedang mengalami kerusakan. Jadi silakan membayar dengan uang cash saja." ucap pelayan wanita itu dengan ramah.
"Apa? Semua mesin rusak?" tanya Kagami Jiro hampir saja tak percaya.
"Iya, Tuan. Benar sekali. Kami sungguh mohon maaf atas ketidaknyamanannya." ucap pelayan wanita itu kembali dengan raut wajahnya yang merasa tidak enak karena sudah membuat seorang pengunjung merasa tidak nyaman.
Kini Kagami Jiro mulai mencari uang cash di dalam dompetnya. Bahkan Kagami Jiro sampai mencari hingga sampai ke titik-titik kecilnya, namun Kagami Jiro sa sekali tidak menemukan uang cash di dalam dompetnya.
Dompet itu hanya berisikan dengan beberapa kartu kredit dan ID card miliknya yang selalu Kagami Jiro bawa kemanapun dia pergi. Kini Kagami Jiro mulai kebingungan karena tak berhasil menemukan uang cash itu di dalam dompetnya.
__ADS_1