
Namun tiba-tiba senyuman Yuna mulai memudar setelah menemukan sesuatu yang sangat tidak asing di atas nakas itu. Dengan begitu hati-hati Yuna mulai memungut benda itu
Sebuah kalung berwarna silver, berliontin dan membentuk sebuah nama, "Siena?" gumam Yuna begitu pelan.
"Mengapa kalung kak Siena bisa berada pada tuan Kagami Jiro? Bukankah kalung ini sudah hilang 3 tahun yang lalu? Atau jangan-jangan kak Siena dan tuan Kagami Jiro memang saling mengenal? Atau jangan-jangan tuan Kagami Jiro adalah seorang pria yang pernah diceritakan oleh kak Siena waktu itu? Seorang pria yang selalu saja mengejar kak Siena saat dia di Jepang, namun kak Siena malah menolaknya. Dan kini tuan Kagami Jiro sengaja mendekatiku untuk balas dendam?? Apakah ... memang seperti itu? Lebih baik aku harus lebih berwaspada pada pria bernama Kagami Jiro ini! Karena dia bukan pria biasa! Dia adalah pemimpin dari Doragonshadou! Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Dia begitu menyeramkan! Bahkan dia hampir saja menebas kepala Aoki di hadapanku, dan dia juga hampir saja membunuh Amicitia! Benar-benar membuatku merinding ..." gumam Yuna mulai berargumen sendiri dan sedikit mengangkat kedua bahunya karena merasa ngeri sendiri.
"Yuna? Apa kau sudah selesai berganti pakaian?" tiba-tiba terdengar panggilan dari luar kamar yang membuyarkan angan Yuna.
Dengan cepat Yuna segera menyimpan kalung itu di dalam saku coat dan segera menjawab Kagami Jiro, "Iya, Tuan. Sebentar lagi aku akan keluar!" ucapnya setengah berteriak.
Tak terdengar lagi sahutan dari Kagami Jiro, dan mungkin saja Kagami Jiro sudah berlalu. Kini Yuna mulai melepas coat hitam itu dan mulai melepas dress malamnya yang sudah koyak karena perbuatan Amicitia.
Kemudian Yuna mulai memakai kemeja putih lengan panjang itu yang memiliki panjang sejengkal dari atas lututnya. Kemeja itu memiliki aroma yang begitu khas dari seorang Kagami Jiro. Aromanya begitu lembut namun tetap tajam.
"Pakaian ini lebih baik!" gumam Yuna sambil mengancingkan beberapa kancing yang tersisa.
Yuna segera membuang dress malamnya di tempat sampah di dalam kamar itu. Lalu dia mulai melenggang meninggalkan kamar itu bahkan melupakan coat hitam yang berisi kalung milik kakaknya, Siena.
"Maaf jika sedikit lama." ucap Yuna yang mulai menghampiri Kagami Jiro yang sudah duduk di atas sebuah sofa cream yang panjang.
Kagami Jiro yang sedari tadi menyibukkan diri dengan ponselnya, kini mulai mendongak menatap Yuna.
__ADS_1
Seakan begitu tersihir, Kagami Jiro terdiam terkesima menatap Yuna yang menurutnya terlihat begitu cantik dan menawan setelah memakai kemeja putih miliknya.
"Cantik sekali ..." gumamnya tanpa sadar.
Cantiknya begitu alami dan tidak membuatku bosan untuk terus menatapnya. Padahal dia hanya berganti pakaian dan mengenakan kemejaku saja, namun mengapa begitu menawan sekali?!
Batin Kagami Jiro yang masih terus menatap Yuna. Yuna yang masih berdiri, terlihat semakin kaku karena terus ditatap oleh Kagami Jiro. Kedua tangannya saling ditautkan ke depan dan dia sedikit menunduk karena malu.
"Apa tidak ada celana santai tuan yang bisa aku pakai?" celutuk Yuna sedikit tersipu, karena saat ini dia hanya mengenakan pakaian dalamnya lalu dibalut dengan kemeja putih lengan panjang milik Kagami Jiro.
"Apa kamu sedang tidak memakai celana?" ucap Kagami Jiro begitu kacau dan berantakan.
Pertanyaan macam apa ini?! Dasar otak mesum menyebalkan!!
"Uhm. Sorry. Maksudku adalah aku tidak punya celana santai dengan size kecil. Jika kamu memakai celana santaiku, maka akan percuma saja. Karena size-ku akan terlalu besar untukmu. Besok pagi akan kuminta asistenku mengantarkan pakaian untukmu. Sekarang kemarilah!" Kagami Jiro yang sedang duduk dengan posisi yang begitu santai, kini sedikit bergeser dan menepuk tempat duduk di sebelahnya.
Yuna mulai melangkah dan menuruti perintah Kagami Jiro lalu dudukdi sebelahnya dan menunduk.
"Ikat rambutmu!" Kagami Jiro memberikan sebuah ikat rambut untuk Yuna, dan sebenarnya itu adalah ikat rambut Christal yang tertinggal di appartemen Kagami Jiro.
Tanpa membantah, Yuna segera mengambil ikat rambut itu dan segera mengikat rambutnya. Yuna juga masih sedikit menunduk tanpa menatap Kagami Jiro yang saat ini sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Melihat Yuna dengan rambut yang terikat, lagi-lagi hal itu membuat Kagami Jiro begitu terpana oleh kecantikan yang begitu alami yang terpancarkan oleh Yuna yang sedang duduk di sebelahnya saat ini.
Setelah puas menatap sisi samping wajah Yuna, Kagami Jiro mulai tersadar dan segera meraih sebuah kotak P3K putih berukuran sedang dari meja di hadapannya.
"Aku bisa melakukannya sendiri. Aku bisa mengobati lukaku sendiri, Tuan." Yuna berusaha untuk mengambil kotak P3K itu dari Kagami Jiro, namun dengan cepat Kagami Jiro segera menjauhkan kotak itu.
"Aku akan mengobatimu!" ucap Kagami Jiro dengan kekeh.
"Tapi ..."
"Sedikit menghadaplah kesini ... aku akan mengobati luka pada wajahmu." ucap Kagami Jiro dengan lembut.
Akhirnya Yuna mematuhi ucapan Kagami Jiro dan sedikit merubah posisi duduknya untuk menghadap pria dewasa itu. Melihat pipi kiri Yuna yang masih terlihat begitu merah, kini Kagami Jiro mulai meletakkan kotak P3K itu kembali lalu dia mulai meraih sebuah handuk kecil dan mulai mencelupkan handuk kecil itu ke dalam sebuah baskom yang sudah berisi dengan air hangat.
Setelah itu Kagami Jiro mulai memeras handuk kecil itu dan mulai mengkompres pipi kiri Yuna yang masih terlihat begitu merah dan memar dengan begitu hati-hati.
"Apakah Aoki yang melakukan semua ini padamu?" rasanya begitu ngilu saat Kagami Jiro mulai mengompres luka itu.
"Hhm. Dia yang melakukannya." jawab Yuna dengan jujur dan sepasang mata beningnya menunduk, tak menatap Kagami Jiro.
Kagami Jiro menghembuskan napas kasarnya le udara dan terlihat begitu kesal, "Sudah seperti ini, namun kamu malah menyelamatkan bedebah sialan itu! Bahkan kau menahanku untuk melenyapkan seseorang yang sudah hampir memp*rkosamu! Kau ini bodoh apa atau idiot?!"
__ADS_1
Yuna segera mengalihkan manik-manik indahnya dan mulai menatap Kagami Jiro dengan wajahnya yang sulit untuk diartikan, "Ya, Tuan! Aku adalah seorang gadis bodoh! Dan salah satu kebodohanku adalah aku yang telah menuruti kemauanmu untuk datang ke tempat ini! Aku akan pulang!" tandas Yuna lalu bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk meninggalkan appartemen ini.
Namun dengan begitu cepat Kagami Jiro segera meraih lengan Yuna dan menahannya, "Gadis bodoh! Ini sudah tengah malam! Kau mau pergi kemana?! Tidak puaskah kau memancing para pria hidung belang di luar sana untuk menikmati tubuhmu?! Untung saja aku datang tepat waktu dan segera melepaskanmu dari Amicitia!"