
Setelah beberapa saat akhirnya Igor sudah kembali lagi dengan membawakan sebuah baskom berukuran sedang yang berisi dengan air hangat. Igor segera meletakkan baskom itu di atas nakas, dan mengambil baskom lainnya yang sudah tidak dipakai dan menyimpannya kembali.
Setelah beberapa saat, bel apartemen mulai berbunyi. Dengan cepat Igor segera membukakannya.
Seorang pria berpakaian rapi yang kira-kira berusia 38 tahun kini mulai memasuki apartemen dengan menjinjing sebuah tas pipih berwarna hitam. Pria itu mulai menghampiri Kagami Jiro yang masih berada di kamarnya menemani Yuna.
"Selamat malam, Tuan muda Kagami Jiro." sapa pria itu dengan ramah.
"Dokter Han, tolong periksa gadis ini. Aku sudah mengkompresnya, namum demamnya cukup tinggi dan belum berkurang." perintah Kagami Jiro lalu berdiri untuk memberikan ruang dokter Han untuk memeriksa Yuna.
"Baik, Tuan Muda." sahut dokter Han lalu mulai membuka tas pipihnya dan mulai memeriksa Yuna.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya dokter Han mulai bangkit dan bercakap dengan Kagami Jiro kembali.
"Bagaimana, Dokter Han? Apakah harus dibawa ke rumah sakit?" tanya Kagami Jiro yang terlihat sedikit panik.
Dokter Han tersenyum ramah dan gemas melihat seorang Kagami Jiro yang terlihat begitu mengkhawatirkan seorang gadis. Karena ini adalah sesuatu yang cukup langka dan sangat tak terduga. Dan tentu saja hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.
"Nona ini akan baik-baik saja, Tuan muda Kagami Jiro. Saya sudah memberinya obat penurun panas dengan suntikan. Biarkan nona ini beristirahat dulu. Setelah bangun nanti berikan makanan lembut dan berikan obat yang sudah saya siapkan di atas nakas." ucap dokter Han yang merupakan dokter pribadi keluarga besar Kagami.
"Baik, Dokter Han. Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
"Baik. Igor, tolong antar dokter Han! Setelah itu kau boleh pulang. Datanglah kembali dini hari dan bawakan bubur untuk Yuna!" titah Kagami Jiro.
__ADS_1
"Baik, Tuan Jiro." sahut Igor dengan patuh dan segera meninhgalkan apartemen Kagami Jiro bersama dokter Han.
Kagami Jiro mulai menarik dan membenarkan selimut untuk Yuna, dan tentu saja Kagami Jiro tak melewatkan sebuah kesempatan ini untuk memandangi wajah gadis yang saat ini sudah begitu meracuni hati dan fikirannya.
Sebuah racun yang tak mematikan namun juga cukup berbahaya, dan hanya Yuna-lah yang bisa menjadi penawar untuknya. Terkesan berlebihan, namun beginilah yang sedang dialami oleh Kagami Jiro saat ini.
"Apa aku langsung melamarnya saja dan menemui kedua orang tuanya ya? Tidak ... tidak ... bagaimana jika dia menolak lamaranku? Itu akan sangat memalukan dan menjadi sebuah tamparan untukku! Hhm ... sebaiknya dapatkan hatinya saja dulu baru melamarnya! Tapi bagaimana lagi? Aku sungguh sudah kehabisan cara untuk meraihnya. Haishhh ... mengapa gadis ini selalu saja membuatku pusing?!" celutuk Kagami Jiro yang terlihat begitu frustasi dan masih duduk di ranjang di samping tubuh Yuna.
Kagami Jiro mulai menatap lekat kembali wajah ayu Yuna yang masih tak sadarkan diri, mengamatinya setiap detail dan susunan pada wajahnya.
"Cantik ... aku ingin sekali menciumnya ... sudah lama sekali aku tidak berciuman dengan seorang gadis." gumam Kagami Jiro pelan dan tak sadar sudah semakin mencondongkan tubuhnya, dan wajahnya sudah semakin mendekati wajah Yuna.
Bahkan kini hanya tinggal beberapa inchi saja jarak di antara keduanya. Namun dengan cepat Kagami Jiro segera mundur kembali dan mengurungkan niatnya.
BRRUUGGHH ...
"Lebih baik aku tidur saja!" gumamnya sambil berusaha untuk memejamkan matanya.
Namun cukup lama Kagami Jiro berusaha untuk segera mengistirahatkan otak dan pikirannya, bahkan sudah berulang kali mencari posisi tidur yang nyaman namun dia tak bisa juga segera tertidur. Hingga akhirnya jam 3 AM pria itu baru saja tertidur dan sudah kembali terbangun saat jam 6 AM.
"Hoamm ..." Kagami Jiro menguap panjang den membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Mengapa malah tidak bisa tidur dengan nyenyak saat berada di dalam satu kamar bersama Yuna?! Masih mending kalau tidak bisa tidur tapi melakukan sesuatu bersama. Nah ini, aku sendirian yang tidak bisa tidur! Sebaiknya aku mandi saja deh!" gerutu Kagami Jiro lalu mulai bangkit dan melenggang memasuki kamar mandi di dalam kamarnya.
Sementara itu ...
Yuna mulai membuka sedikit matanya dan mulai mengamati sedikit sekitarnya.
__ADS_1
"Gara-gara demam aku sampai bermimpi sedang berada di dalam apartemen tuan Kagami Jiro. Hhm ... kepalaku masih sedikit pusing. Sebaiknya aku melanjutkan tidurku saja." gumam Yuna yang mulai memejamkan sepasang matanya kembali.
"Tapi ... mengapa aroma ini juga tercium olehku? Aroma khas dari tuan Kagami Jiro, bahkan sampai terbawa ke dalam mimpiku." gumam Yuna pelan. "Mimpi ini benar-benar seperti nyata. Atau jangan-jangan ... aku tidak sedang bermimpi?"
Dengan cepat Yuna membuka kembali sepasang matanya lebar-lebar dan mulai mengamati sekitarnya. Alangkah terkejutnya dia saat menyadari jika saat ini Yuna memang sedang tidak bermimpi, dan saat ini dia memang sedang berada di dalam kamar apartemen Kagami Jiro.
"Oh tidak! Jadi aku memang tidak sedang bermimpi ya?" gumamnya pelan dan berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu saat ini. "Tadi malam ... aku sedang bersama tuan Kagami Jiro dan sudah berada di bawah bersama. Dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Dan mengapa aku malah berada di dalam apartemen ini lagi? Apa aku pingsan?"
Dengan cepat Yuna segera menatap tubuhnya untuk memastikan sesuatu. Dan betapa merasa leganya dia saat menyadari pakaiannya masih lengkap dan masih membalut tubuhnya dengan rapi.
"Syukurlah pria itu tak melakukan hal burul saat aku tak sadarkan diri ..." gumamnya pelan lalu mulai menuruni ranjang itu.
Yuna mulai melenggang menuju pintu dan mulai menarik handle pintu kamar itu. Saat pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Yuna saat melihat seorang pria yang sedang bertelanjang dada sudah berdiri di balik pintu itu dan hanya menatap santai Yuna.
Pria yang tak lain adalah Kagami Jiro rupanya baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan kini hanya memakai handuk saja untuk membalut tubuh bagian bawahnya.
Tubuhnya yang telihat memiliki banyak sekatan nyata, kekar dan besar terlihat begitu saja oleh Yuna dan sukses membuat wajah Yuna seketika menjadi merah padam karena malu.
Karena di dalam hidupnya, ini adalah pertama kalinya Yuna melihat hal semacam ini secara langsung.
"Kau sudah bangun?" tanya Kagami Jiro dengan santai dan biasa tanpa rasa canggung sedikitpun, sangat berbeda dengan Yuna.
Dan tentu saja momen ini sungguh membuat Yuna menjadi salah tingkah dan merasa kikuk. Dengan cepat Yuna berusaha untuk berbalik agar tak menyaksikan pemandangan eksotis itu.
Namun Yuna malah sedikit terpeleset dan hampir saja terjatuh dan tanpa sengaja dia berpegangan pada handuk Kagami Jiro hingga handuk itu mulai terlepas begitu saja.
__ADS_1