
Yuna terlihat sudah begitu cantik dan harum setelah beberapa saat yang lalu menyelesaikan ritual mandinya dan mengrnakan gaun malamnya. Gadis cantik itu kini menatap balkon dari dalam kamarnya. Sesekali Yuna juga terlihat melihat jam dinding di dalam kamarnya seolah sedang menantikan sesuatu.
"Bukankah seharusnya dia sudah pulang? Tumben sekali begitu terlambat pulang. Apa malam ini dia tidak pulang?" gumam Yuna pelan dengan kedua tangannya yang saling disilangkannya di bawah dadanya. "Seharusnya jika tidak pulang kamu memberitahuku."
TRINGG ...
Sebuah ponsel yang masih berada pada genggaman tangannya kini mulai terdengar sebuah notifikasi pesan. Yuna segera membuka pesan itu dan segera membacanya.
Sayang, jangan menungguku. Tidurlah duluan karena aku akan pulang sedikit terlambat. Ada sebuah tugas mendadak dan harus segera diselesaikan malam ini. Kagami Jiro.
"Hhm? Benar seperti dugaanku. Ya sudah sebaiknya aku tidur duluan. Badanku juga masih terasa begitu lelah, dan terkadang merasa begitu pusing." Yuna berbalik dan mulai melenggang pelan menuju pembaringannya.
Namun tiba-tiba tubuhnya sedikit terhuyung dan Yuna juga hampir saja terjatuh, namun tiba-tiba saja seseorang mulai meraih tangan dan tubuhnya.
"Hati-hati, Sayang. Jila lelah dan tidak enak badan sebaiknya segera beristirahat." ucapnya mulai membantu Yuna berdiri kembali dengan tegap.
"Kamu ... mengapa sudah ada disini? Bukankah masih memiliki banyak pekerjaan dan akan pulang terlambat? Kamu juga mengirimkan pesan untukku." ucap Yuna sedikit kebingungan karena baru beberapa menit yang lalu Yuna menerima pesan dari Kagami Jiro.
"Aku bahkan sudah mengirimkan pesan itu 3 jam yang lalu, Sayang." jawab Kagami Jiro langsung saja menggendong depan Yuna dan membawanya ke pembaringan agar Yuna segera beristirahat.
"Tapi pesan itu baru saja aku terima, Jiro."
"Mungkin jaringan sedang gangguan. Ya sudah kamu istirahatlah. Aku mau mandi dulu." ucap Kagami Jiro setelah mendaratkan Yuna di atas pembaringan. "Tapi ... apa kata dokter keluarga kita, Sayang? Kamu tidak sakit serius kan?" imbuh Kagami Jiro mulai teringat dengan hasil pemeriksaan dokter.
__ADS_1
"Tidak kok. Kamu mandilah dulu. Setelah kamu mandi aku akan memberitahumu." ucap Yuna dengan seulas senyum yang begitu manis.
"Hhm. Apa baiklah. Kalau begitu aku akan mandi dengan cepat agar kamu tidak menungguku terlalu lama." ucap Kagami Jiro lalu mulai melenggang untuk menuju ke kamar mandi di dalam kamarnya.
Yuna mulai meraih sebuah kotak kecil berbentuk memanjang di atas nakas. Sepasang matanya menatap lekat kotak yang sudah berada pada genggamannya. Sudut-sudut bibirnya juga mulai ditariknya hingga membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.
"Aku tidak menduga semua ini bisa terjadi secepat ini. Rasanya masih seperti mimpi. Rasanya masih belum sepenuhnya mempercayai semua ini. Namun juga ada sebuah rasa bahagia dan merasa ini sungguh luar biasa, jika di dalam rahimku sudah ada kehidupan." Yuna bergeming pelan dan mengelus pelan perutnya yang masih sangat ramping dan rata.
"Tapi aku masih belum banyak mengetahui soal kehamilan. Sebaiknya mulai besok aku harus banyak belajar dan mencari tau. Agar anak ini juga sehat selalu."
Selelah menunggu beberapa saat, akhirnya Kagami Jiro sudah kembali dari kamar mandi dan sudah mengenakan sebuah kaos you can see berwarna putih press body yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dan sekatan-sekatan tegas itu. Dan memadankannya dengan celana santai yang juga berwarna putih.
Dengan raut wajahnya terlihat begitu berseri, dan kini Kagami Jiro mulai menyusul Yuna dan duduk di atas pembaringan. Dan rupanya Kagami Jiro benar-benar mandi dengan sangat cepat. Yang biasanya bisa menghabiskan waktu 30 menit untuk mandi dan membersihkan dirinya, namun kali ini hanya 15 menit saja hanya karena Kagami Jiro tak sabar untuk segera mendengarkan Yuna tentang penyakitnya.
"Tidak masalah kok. Hanya beristirahat dan meminum vitamin saja, aku sudah merasa lebih baik. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Lagipula Christal juga selalu menemaniku tadi setelah dia pulang sekolah." jawab Yuna dengan senyum tipis dan tidak terlihat ada kemarahan dan kekecawaan di dalamnya hanya karena Kagami Jiro yang tidak bisa menemaninya disaat Yuna sedang sakit.
"Terima kasih, Yuna. Kamu memang selalu baik dan memahamiku." ucap Kagami Jiro dengan jujur.
Ya ... akhir-akhir ini Yuna sudah berubah menjadi sedikit lebih lembut di hadapanku. Dan Yuna juga juga selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untukku. Tidak seperti dulu yang begitu dingin dan keras kepala lagi.
Batin Kagami Jiro mulai merangkulkan lengan kanannya melingkar pada bahu Yuna dan sedikit menarik Yuna untuk menyandarkannya pada dada Kagami Jiro.
"Mengapa berterima kasih? Hal ini sudah sangat wajar kok." sahut Yuna seadanya.
__ADS_1
"Jadi ... apa kata dokter, Sayang? Kamu sakit apa?" tanya Kagami untuk kesekian kalinya, karena Yuna sama sekali belum memberitahu kepada dirinya akan penyakit Yuna saat ini.
Yuna tidak menjawab pertanyaan dari Kagami Jiro, namun Yuna mulai memperlihatkan sebuah benda kecil berwarna putih yang baru saja Yuna keluarkan dari kotak kecil itu. Sebuah tespek / alat uji kehamilan itu memlerlihatkan dua garis merah.
Namun Kagami Jiro malah mengkerutkan keningnya saat melihat alat itu karena Kagami Jiro tidak mengetahui maksud dari alat itu menandakan apa?
"Sayang, apa maksudnya itu?" tanya Kagami Jiro tak mengerti.
Yuna sedikit mendongak dan menatap Kagami Jiro, begitu juga dengan Kagami Jiro yang mulai beralih menatap Yuna.
"Kamu sungguh tidak tau apa ini?" tanya Yuna hampir saja tidak percaya.
"Aku tidak pernah melihat sebelumnya. Dan aku juga tidak tau apa itu maksudnya." ucap Kagami Jiro dengan jujur.
Meskipun terdengar sedikit lucu, namum Yuna juga memakhluminya. Karena dunia Kagami Jiro hanya berkutat dengan persenjataan, dan bisnis saja. Dan mungkin saja Kagami Jiro tak pernah tau dengan alat itu dan juga tak tau dengan kegunaanya.
"Ini adalah alat tes kehamilan. Dan alat setelah menguji urinku dengan alat ini hasilnya adalah positif." ucap Yuna mencoba untuk menjelaskan kepada suaminya.
Kagami Jiro membeku selama beberapa saat, rasa antara terkejut dan bahagia bercampur menjadi satu begitu saja dan masih sulit untuk diungkapkan.
"Kamu hamil, Yuna?" ucap Kagami Jiro menyimpulkan setelah beberapa saat.
Yuna yang sudah memasang senyum manis mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan dari sang suami.
__ADS_1