
"Dan ... apa kamu tau tentang kepercayaan warga sekitar tentang tempat ini, Yuna?" kali ini Kagami Jiro mulai berjalan dua langkah lebih cepat untuk mendahului Yuna, lalu mulai menghadap Yuna.
"Apa?"
"Dua orang yang memiliki ikatan, dan mengunjungi tempat ini bersama ... mereka akan selalu hidup bersama-sama dan akan saling mencintai, jika mereka mengungkapkannya disini dan ... berciuman disini ..." ucap Kagami Jiro menatap lekat Yuna.
Ucapan dari Kagami Jiro jelas saja membuat Yuna membeku dan mematung. Selama beberapa saat Yuna terdiam saja dan tak bisa berkata-kata. Yuna memutuskan untuk menunduk lalu menyibak rambutnya sebelah kiri ke belakang telinganya.
Yuna berniat ingin menghindari untuk tetap melanjutkan perbincangan ini, hingga akhirnya Yuna berniat untuk melenggang kembali dan meninggalkan Kagami Jiro. Namun dengan cepat Kagami Jiro meraih lengan kiri Yuna dan menahannya.
"Yuna ... apa kamu tidak ingin hidup bahagia bersama denganku selamanya?" sebuah pertanyaan yang terkesan begitu menyudutkan Yuna, karena Yuna malah menghindari sebuah ritual dari kepercayaan warga setempat ( menurut yang sudah disampaikan oleh Kagami Jiro beberapa saat yang lalu ).
Dan tentu saja pertanyaan dari Kagami Jiro sukses membuat Yuna merasa bersalah.
"Hhm? Tentu saja tidak seperti itu! Orang menikah pastinya juga menginginkan sebuah kebahagiaan bukan? Mana mungkin aku mengharapkan kita untuk hidup tidak bahagia dan harmonis?" ucap Yuna akhirnya karena ucapan bak tuduhan dari Kagami Jiro itu sungguh tidak benar.
"Di dalam menjalin sebuah kehidupan bersama dengan penyatuan dua insan. Pastinya bahtera yang penuh cinta dan kasih yang didambakan oleh semua orang. Dan ini memang nyata." imbuh Yuna mengatakan pendapatnya.
Kagami Jiro mulai tersenyum kembali dan meraih pinggang Yuna dengan tangan kirinya lalu mendekatkan padanya.
"Jika memang seperti itu, mari lakukan bersama. Kau mau kita hidup bahagia kan?" senyuman manis dan begitu memabukkan mulai menghiasi wajah Kagami Jiro yang saat ini sudah menunduk menatap Yuna.
Yeap, senyuman yang sangat memabukkan! Dan biasanya para gadis akan begitu terpana seakan terhipnotis dan tersihir oleh senyuman khas seorang mantan casanova sejati itu.
Yuna masih saja terdiam dan menatap lekat Kagami Jiro yang sudah semakin mendekatinya. Bahkan Yuna juga tidak bermaksud untuk menolak untuk melakukannya bersama, karena Yuna juga menginginkan sebuah bahtera rumah tangga yang bahagia dan penuh kasih.
"Aku anggap diammu adalah iya." ucap Kagami Jiro yang sudah memiringkan kepalanya dan semakin mendekati wajah Yuna.
__ADS_1
Perlahan Yuna mulai memejamkan sepasang matanya dan hanya diam untuk menyambut sesuatu dari Kagami Jiro. Setelah beberapa saat mulai dirasakan oleh Yuna hembusan nafas Kagami Jiro yang memiliki aroma mint khas.
Ujung hidung Kagami Jiro yang cukup mancung kini juga mulai menyentuh pipi Yuna, jemari kanan Kagami Jiro juga mulai menyisiri rambut Yuna yang sedikit terjuntai pada bagian kiri hingga akhirnya mendaratkan jemarinya menyentuh dagu dan wajah sisi kiri Yuna.
Kagami Jiro terlihat sudah tenggelam dalam suasanan saat ini, pria yang selalu mendapatkan tempat tertinggi itu terlihat tak melewatkan satu inchi-pun setiap sudut bibir Yuna.
Namun setelah beberapa saat Yuna berusaha untuk sedikit mendorong tubuh besar pria di hadapannya itu untuk mengakhiri ciuman itu.
"Ada apa, Yuna? Apa kamu tidak menyukainya?" ucap Kagami Jiro setengah berbisik.
"Bukankah asal sudah ciuman bersama saja di dalam Goa Manjanggul ini? Tidak harus melakukannya lama bukan?" tanya Yuna dengan polosnya dan wajah ayu itu masih terlihat sedikit merona saat beberapa lampu menyorot wajahnya.
"Ehm ..." Kagami Jiro sedikit memutar bola matanya dan terlihat sedang berfikir. "Tapi bukankah melakukannya dengan baik dan sepenuh hati akan memberikan hasil yang baik juga?" imbuh Kagami Jiro yang berusaha untuk mendekati Yuna kembali. "Selamanya ... aku hanya ingin hidup bersama denganmu. Dan aku ingin kamulah yang selalu menemani diriku hingga kita menua bersama.
Kata-kata itu langsung membuat dada Yuna kembali menegang dan berdebar kembali dengan cara yang begitu manis. Dan itu semua terjadi karena Kagami Jiro yang mengucapkannya di dekat daun telinga Yuna. Bahkan Yuna juga terlihat sedikit mengangkat bahunya.
Kagami Jiro tersenyum tipis kemudian mulai sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Yuna kembali dan tulang belakang Yuna. Masih dengan dada yang berdebar bagaikan drum Yuna masih menunggunya untuk mendengarkan apa yang akan Kagami Jiro katakan selanjutnya.
"Hanya kamu yang aku mau. Dan hanya kamu yang bisa membuatku benar-benar merasakan cinta yang sesungguhnya ... Yuna ... gadis kecil yang pernah aku temui saat di rumah sakit." ucap Kagami Jiro begitu lirih dan seakan menggelitiki daun telinga Yuna hingga membuat Yuna sedikit mengangkat sedikit bahunya kembali.
Tak bisa berkata-kata lagi. Bagi Yuna mendapatkan sebuah pernyataan yang seperti saat ini adalah hal yang belum pernah dialami oleh Yuna di dalam hidupnya sebelumnya. Dan tentu saja rasanya akan berjuta rasanya. Antara rasa malu, berdebar, merasa begitu kikuk semuanya bercampur menjadi satu dan sulit diungkapkan dengan kata-kata lagi.
Yuna hanya terdiam dan mulai sedikit menunduk. Kedua jemarinya saling bertaut satu sama lain. Sepasang mata beningnya hanya menatap dasar bebatuan di dalam Goa Manjanggul ini. Atau mungkin Yuna hanya sedang sepasang sepatunya saja. Entahlah, intinya saat ini Yuna sedang merasa begitu gugup dan kikuk.
"Kamu selalu saja terdiam dan tidak memberikan jawaban apapun padaku, Yuna. Apa menurutmu aku hanya sedang membual dan bicara omong kosong?" kini Kagami Jiro mulai meraih kedua jemari Yuna dan sesikit mengangkatnya.
"Yuna ..." panggil Kagami Jiro lagi begitu nyaring namun sedikit hangat.
__ADS_1
Yuna mulai mendongak kembali dan memberanikan diri untuk menatap Kagami Jiro. Sepasang mata dengan pupil kecoklatan yang biasanya selalu terlihat tajam, dingin dan menusuk kini terlihat begitu hangat saat menatap Yuna.
"Hhm?"
"Apa kamu masih saja tidak mempercayaiku? Jika hatiku ini hanyak berdebar seperti itu saat berada bersama denganmu?" ucap Kagami Jiro yang mulai mendaratkan jemari Yuna tepat di depan dadanya.
Dan Yuna memang merasakan debaran yang sedikit lebih cepat. Pandangan mereka berdua masih saling bertemu, namun untuk berkata-kata rasanya begitu kelu untuk Yuna. Karena Yuna tak tau harus berkata apa saat ini. Yang dirasakan hanyalah sedikit gugup karena pertama kali gadis ini merasakan cinta dari seorang pria.
"Jiro ..." ucap Yuna akhirnya mulai memberanikan dirinya untuk mulai mengatakan sesuatu setelah cukup lama terdiam.
"Hhm ..." Kagami Jiro sedikit mengangkat kedua alis tegasnya dan juga tersenyum tipis menatap Yuna.
"Bolehkah kamu diam dulu? Jangan mengatakan apapun dan berjanjilah tidak akan menertawakanku ..." ucap Yuna yang membuat Kagami Jiro sedikit kebingungan.
Namun akhirnya Kagami Jiro menyetujui permintaan dari Yuna dengan anggukan pelan dan senyuman hangatnya, "Baiklah ... aku akan diam dan aku tak akan menertawakanmu."
Yuna mulai melepaskan genggaman dari Kagami Jiro, dan hal ini sempat membuat Kagami Jiro mengira jika Yuna akan pergi berpaling dan meninggalkan Kagami Jiro.
Namun rupanya sangat di lur dari dugaan tersebut. Yuna malah melemparkan dirinya pada pelukan Kagami Jiro. Sebenarnya Kagami Jiro cukup terkejut, namun akhirnya Kagami Jiro mulai membalas pelukan Yuna dengan melingkarkan kebua tangan kekarnya pada pinggang Yuna. Senyuman penuh kebahagiaan juga menghiasi wajah tampan nan dingin itu dan menjadikannya terlihat menawan.
"Aku percaya padamu. Dan aku juga berharap pernikahan kita bisa untuk selamanya." ucap Yuna meskipun sedikit malu untuk mengatakannya.
Kagami Jiro yang mendengarkan ucapan jujur dari Yuna tersenyum begitu lega, karena Yuna juga mengharapkan hal yang sama dengan yang Kagami Jiro harapkan.
"Aku harap kita bisa selalu bersama dan melihat anak-anak kita tumbuh dewasa." sahut Kagami Jiro semakin erat memeluk Yuna dan mulai memejamkan sepasang matanya dengan dagu indahnya yang masih bersandar pada kepala Yuna.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1