
Yuna yang ingin menghindari Kagami Jiro kini malah sedikit terpeleset dan hampir saja terjatuh dan tanpa sengaja dia berpegangan pada handuk Kagami Jiro hingga handuk itu mulai melorot dan terlepas begitu saja.
Oh tidak! Matilah aku!
Batin Yuna dalam hati dan dengan cepat Yuna segera menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Sementara Kagami Jiro terlihat begitu santai dan malah berkacak pinggang.
"Apa yang sedang kaulakukan, Yuna?" tanya Kagami Jiro dengan nada jenaka dan seakan sedang menahan tawa.
"Uhm ... it-itu ... anu ..." ucap Yuna masih begitu kikuk dan salah tingkah dan masih menutup rapat matanya dengan kedua tangannya.
"Yuna ... Yuna ... bukalah matamu dan coba lihat aku!" ucap Kagami Jiro tak tahan untuk tidak tertawa saat ini.
Apa yang sedang direncanakan oleh pria ini? Mengapa dia malah menyuruhku secara terang-terangan seperti ini? Dasar otak mesum!
Batin Yuna yang malah merasa kesal dan terlihat begitu ragu-ragu untuk segera membuka matanya.
"Hhm. Tenang saja, pagi ini kau tak melihat sesuatu yang buruk kok." celutuk Kagami Jiro dengan santai.
Akhirnya Yuna mulai memberanikan diri untuk sedikit menurunkan jemarinya, hingga akhirnya terlihat Kagami Jiro yang masih dengan aman memakai celana santainya yang pendek.
Yuna terlihat kembali bernafas dengan lega dengan memegangi kedua lututnya.
Ah ... syukurlah. Hampir saja aku melihat hal yang kurang pantas. Syukurlah tuan Kagami Jiro masih mengenakan sebuah celana.
Batin Yuna yang sedikit tertawa karena merasa begitu lega.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kamu berdifikiran yang tidak-tidak? Apa kau mengira aku sedang tak memakai apa-apa saat ini?" celutuk Kagami Jiro mulai melenggang melewati Yuna untuk mengambil pakaiannya di lemari.
"Ah ... itu ... tidak seperti yang tuan pikirkan kok. Hehe ..." sahut Yuna berkilah karena sangat malu.
__ADS_1
"Tenang saja. Aku akan menjaga matamu kok." sahut Kagami Jiro yang mulai mengenakan pakaiannya satu per satu.
"Terima kasih ..." sahut Yuna dengan tulus.
"Hhm. Tidak perlu khawatir." ucap Kagami Jiro yang kini mulai mengenakan kemeja merah maroonnya lalu mengkancingkannya satu per satu. "Oh iya bagaimana kondisimu sekarang? Apa demammu sudah turun?" Kagami Jiro melenggang kembali mendekati Yuna dan tiba-tiba saja menyentuh kening Yuna untuk memastikan sesuatu.
Dan hal itu membuat Yuna merasa sedikit tidak nyaman dan menjadi kikuk kembali.
"I-iya ... aku baik-bail saja. Terima kasih ... karena tuan sudah berbaik hati untuk merawatku, tapi aku harus segera pulang, kedua orang tuaku pasti akan sangat mengkhawatirkanku saat ini."
"Tidak perlu khawatir, Yuna. Aku sudah menghubungi kedua orang tuamu dan mengatakan kepada mereka jika kau sedang bersamaku." sahut Kagami Jiro.
"Dan mereka mengijinkannya?" celutuk Yuna hampir tak percaya.
"Yeap. Mereka mengijinkannya. " sahut Kagami JIro dengan jujur.
Yuna mengerutkan keningnya mendengarkan ucapan dari Kagami Jiro. Dan sebenarnya Yuna sangat bingung dengan kedua orang tuanya yang kali ini dengan mudahnya memberinya ijin untuk dirinya bermalam di apartemen seorang pria dewasa yang bahkan terkenal dengan gelar casanovanya.
Batin Yuna yang masih terus mengawasi gerak-gerik Kagami Jiro.
"Sekarang lebih baik makan dan minum obat dulu. Igor sudah membawakan bubur untukmu. Ayo!" Kagami Jiro mulai melenggang meninggalkan kamar dan Yuna mulai mengikuti di belakangnya.
Mereka berdua menuju ruang makan, dan mulai duduk berseberangan.
"Dimana tuan Igor? Bukankah tuan bilang tuan Igor baru saja mengantarkan bubur ini?" Yuna mulai celingukan untuk mencari sosok Igor, namun sepertinya Yuna tak berhasil menemukan keberadaan Igor di dalam apartemen ini.
"Dia sudah pergi lagi. Igor hanya datang mengantarkan bubur ini dan segera pergi lagi." jawab Kagami Jiro asal.
Karena sebenarnya Kagami Jiro sendiri yang mengusirnya seketika setelah Igor datang dan memberikan bubur itu.
__ADS_1
"Makanlah, selagi bubur itu masih hangat." ucap Kagami Jiro sambil menikmati semangkok bubur okayu dari Igor
"Tuan Igor yang memasak bubur okayu ini?" tanya Yuna terlihat begitu takjub melihat semangkok bubur putih di hadapannya yang masih begitu hangat itu.
"Tentu saja bukan! Mana bisa Igor memasak? Istri Igor yang memasak bubur okayu ini." sahut Kagami Jiro yang sekali meniup bubur iti karena masih cukup panas.
"Oh ... begitu ya." sahut Yuna singkat dan mulai meraih semangkok bubur okayu itu.
Yeap, okayu adalah nama hidangan bubur di Jepang. Bubur telah menjadi salah satu hidangan klasik di Jepang yang tengah dilanda demam dan flu. Hal ini karena bubur memiliki tekstur yang sangat lembut sehingga mudah ditelan apalagi saat sakit nafsu makan pun cenderung berkurang.
Namun, okayu dihidangkan tanpa topping seperti di Indonesia. Okayu hanya terdiri dari bubur yang telah dibumbui garam, lada dan bawang putih kemudian diberi sedikit taburan potongan daun bawang.
"Apa kau bisa makan sendiri? Aku bisa menyuapimu jika kamu belum bisa makan sendiri." ucap Kagami Jiro tiba-tiba yang seketika membuat Yuna sesikit terkejut dan dengan cepat menolaknya.
"Ah ... aku bisa makan sediri kok. Aku akan memakannya." sahut Yuna lalu mulai menyantap bubur okayu itu dengan hati-hati.
"Bagaimana? Apa lidahmu bisa merasakan sesuatu?" tanya Kagami Jiro mulai menatap Yuna kembali, dan mengira selera makan Yuna akan hilang hingga indra perasanya sedang tak berfungsi karena sakit.
Yuna tersenyum samar dan mengangguk pelan, "Aku bisa merasakan kok. Rasanya gurih dan lezat. Terima kasih ..." ucap Yuna dengan tulus dan mulai menyantap sesuap lagi.
"Hhm. Oh iya. Makan ini juga. Igor membawakan ini juga untuk kita." sahut Igor lalu mengambil sebuah mangkok kecil yang berisi dengan daikon.
"Apa itu?" tanya Yuna yang juga mulai beralih menatap mangkok kecil itu.
"Daikon. Kau bisa memakannya bukan?"
"Daikon? Oh ... iya. Aku bisa. Ibuku sering memasak di rumah jika ada salah satu diantara kita yang sedang sakit." sahut Yuna seadanya.
Yeap, daikon merupakan masakan dengan lobak putih. Biasanya lobak akan dipotong-potong dan dijadikan acar. Rasanya sedikit asam namun menyegarkan. Makanan ini sering disantap saat sedang sakit flu karena dipercaya mampu meredakan penyakit dan hidung tersumbat. Acar lobak juga sering ditambah madu untuk memberikan sentuhan cita rasa manis yang juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
__ADS_1
"Habiskan semua itu, dan kau juga harus segera sembuh! Jika tidak mereka semua akan menyalahkanku. Karena kau sakit saat bersama denganku." ucap Kagami Jiro sambil menyodorkan semangkok daikon itu untuk Yuna.
"Terima kasih, Tuan." tak ada kata lain selain ucapan terima kasih yang bisa Yuna ucapkan saat ini untuk Kagami Jiro. Karena hari ini sangat baik kepadanya dan sangat memperhatikannya.