
Seorang gadis mulai membuka sepasang matanya setelah tidur selama beberapa saat. Gadis itu mulai terduduk dan mulai membuka lalu merentangkan kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot-ototnya.
"Hoam ..." jemari tangannya mulai menutupi mulutnya yang sedang menguap saat ini.
Sebuah benda pipih yang tergeletak di atas nakas mulai diraihnya untuk melihat sesuatu. Namun seketika sepasang matanya mulai membelalak ketika melihat beberapa angka yang berderet menunjukkan sebuah jam.
"Apa? Sudah jam 5 PM? Aku tidur selama 3 jam? Oh tidak ..." gadis yang tak lain adalah Yuna itu segera menuruni pembaringannya lalu dengan langkah cepat Yuna mulai mencari seseorang di beberapa ruangan di dalam apartemennya.
Namun Yuna tak melihat orang yang saat ini sedang dicarinya, Yuna hanya melihat sang ibu yang saat ini sedang sibuk memasak di dapur.
"Ibu ... kapan pulang?" tanya Yuna yang mulai mendatangi sang ibu yang masih sibuk mengiris beberapa sayuran segar.
"Jam 2 PM tadi ibu pulang kok. Maaf ya, ibu terlalu asyik berkunjung di rumah Jonathan jadi agak lama pulang." jawab ibu Yuna seadanya.
Namun Yuna masih terlihat celingukan mencari sosok Kagami Jiro, yang sudah terlihat sama sekali di dalam apartemen ini.
"Kamu sedang mencari calon suamimu, Yuna?" tanya ibu Yuna tersenyum lebar menggoda anak gadisnya.
"Hehe ... iya ... dia dimana, Ibu?" jawab Yuna meskipun masih begitu malu.
"Calon menantu ibu sudah pulang, Sayang. Tak lama setelah ibu pulang ke rumah, dia segera pamit karena asistennya terus menghubunginya. Dan sepertinya ada sesuatu yang penting." jawab ibu Yuna seadanya.
"Oh begitu ya ..." sahut Yuna datar lalu mulai meraih sebuah pisau dan talenan untuk membantu sang ibu memotong sayuran.
"Hhm. Mengapa calon menantu ibu sampai datang dan menjagamu, Sayang? Apakah datang bulanmu kali ini sangat parah dan sakit luar biasa?" tanya ibu Yuna yang sebenarnya merasa kereranan.
__ADS_1
"Tidak kok, Ibu. Dia saja yang berlebihan. Padahal aku sudah mengatakannya kepadanya untuk kembali saja bekerja. Namun dia malah bersikeras mau disini dan menjagaku. Padahal aku hanya butuh istirahat sebentar saja lo." sungut Yuna yang masih memotong beberapa labu putih.
Sang ibu tersenyum mendengar ucapan dari putrinya dan mulai menggodanya. "Itu karena calon menantu ibu begitu mengkhawatirkan calon istrinya."
"Ibu jangan menggodaku terus." rengek Yuna dengan nada manja.
"Sudah sana lebih baik kamu mandi saja, biarkan ibu saja yang memasak. Lagipula perutmu juga masih sakit kan?"
"Sudah merasa lebih baik kok sekarang." sahut Yuna.
"Iya, kamu mandi saja." perintah ibu Yuna lagi karena tak tega melihat Yuna, karena biasanya Yuna akan sangat merasa kesakitan di bagian perutnya jika sedang mengalami datang bulan.
"Baiklah ..." jawab Yuna mengalah dan mulai meletakkan kembali pisau dan labu putih itu. "Aku akan mandi dulu, Ibu."
...⚜⚜⚜...
Setelah melewati lantai dasar dan beberapa lantai lainnya yang merupakan tempat pemasaran berbagai jenis perhiasan berkelas ini, kini gadis itu mulai menuju sebuah ruangan wakil presdir.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, akhirnya sang pemilik ruangan mulai mempersilakan sang tamu untuk masuk.
"Masuk!"
Gadis itu mulai membuka pintu dan segera memasuki ruangan itu. Terlihat seorang pria dengan kemeja putih yang dipadankan dengan rompi hitam bergaris lembut. Sementara jaz dan coatnya ditanggalkannya di gantungan khusus.
"Sia ... kapan kamu tiba di Jepang?" pria yang tak lain adalah Kagami Jiro menyambut gadis itu dan mulai berbasa-basi. Padahal sudah jelas-jelas Kagami Jiro mengetahui jika gadis ini sudah mencarinya sejak kemarin.
__ADS_1
Sia, putri tunggal dari pemilik saham terbesar di Ruby shine. Dan sebenarnya kedua orang tua Sia sangat dekat dengan kedua orang tua Kagami Jiro. Selama ini Sia berada di China untuk kuliah, dan disana juga ada keluarga dari pihak ibunya. Dan selama ini Sia juga cukup dekat dengan Kagami Jiro.
Kini Kagami Jiro mulai bangkit dari tempat duduknya dan berdiri menyambut gadis itu.
"Dan mengapa kamu tau aku sedang berada disini?" pertanyaan diiringi dengan sebuah senyuman itu tak segera dijawab oleh gadis cantik yang sangat modis itu, namun gadia itu malah melemparkan dirinya pada pelukan Kagami Jiro dan mengecup pipinya begitu saja.
Dan sebenarnya hal ini membuat Kagami Jiro merasa kurang nyaman. Memang benar, selama ini hal seperti sudah menjadi hal yang sangat wajar jika beberapa gadis bertemu dengannya. Kagami Jiro sering mendapatkan perlakuan manis dari beberapa gadis yang dekat dengannya.
Namun berbeda dengan saat ini, saat ini Kagami Jiro mulai membatasi diri dengan bersentuhan dan berinteraksi dengan gadis lain. Selain merasa kurang nyaman, sebenarnya Kagami Jiro juga takut jika Yuna akan salah paham dan masih mengira jika Kagami Jiro belum berubah.
"Jiro!! Aku baru tiba kemarin. Dan tentu saja aku tau kamu ada disini, instingku tak pernah salah. Hehe ..." gadis itu masih mengalungkan kedua tangannya melingkar pada leher kuat Kagami Jiro dan Kagami Jiro masih membiarkannya.
"Oh ... mengapa tidak memberiku kabar jika akan kembali ke Jepang? Seharusnya aku bisa menjemputmu di bandara." ucap Kagami Jiro berbasa basi.
"Kau tidak mengangkat panggilanku! Bahkan kau tak bisa ditemui kemarin." sungut gadis itu mulai melepaskan Kagami Jiro dan melenggang beberapa langkah membelakangi Kagami Jiro.
Kedua tangannya mulai disilangkannya di bawah dadanya, dan wajahnya terlihat sedikit cemberut.
"Kemarin aku sedang sibuk. Oh iya, ada apa mencariku?" Kagami Jiro bersandar pada meja kerjanya dan memasukkan kedua jemarinya pada saku celananya.
"Aku hanya ingin mengunjungimu. Sudah lama tidak bertemu denganmu. Bagaimana jika kita makan siang bersama?" Sia berbalik dan tersenyum lebar menatap Kagami Jiro.
"Sebenarnya aku sedang banyak pekerjaan hari ini. Dan makan siangku juga sudah dalam perjalanan kesini, dan mungkin sebentar lagi akan segera sampai." ucap Kagami Jiro sambil melirik jam tangan berwarna silver yang melingkar dengan manis pada pergelangan tangan kirinya.
Tepat setelah Kagami Jiro mengatakan hal itu, tiba-tiba mulai terdengar ritme teratur yang berasal dari pintu. Kagami Jiro mulai tersenyum lebar seolah-olah mengatakan "Nah, makan siangku sudah datang ..."
__ADS_1
"Masuk!" perintah Kagami Jiro mulai menatap ke arah pintu.
Sementara gadis bernama Sia itu juga mulai beralih menatap pintu untuk melihat siapa yang datang. Dan sangat terlihat jika Kagami Jiro sedang bersemangat saat menantikannya. Apakah itu karena Kagami Jiro yang sudah begitu lapar dan begitu menantikan makan siangnya? Entahlah, mari kita lihat jawabannya di bab selanjutnya. Hehe ...