
Tok ... tok ... tok ...
Ritme beraturan yang berasal dari pintu dengan sekejap mulai membuyarkan angan Kagami Jiro, "Masukklah!" perintahnya.
Seorang office girl mulai memasuki ruangan kerja Kagami Jiro dengan membawakan secangkir Americano coffe di atas sebuah sebuah nampan. Lalu segera memberikannya untuk Kagami Jiro.
"Silakan, Tuan." ucap office girl itu dengan ramah lalu segera undur diri kembali.
Kagami Jiro segera meraih secangkir Americano coffe itu dan mulai menikmatinya. Kemudian dia mulai bangkit dan melenggang mendekati sisi samping ruangan kerjanya dan menatap keindahan gedung-gedung pencakar langit di hadapannya yang hanya berbatas sebuah kaca bening yang tebal.
Berulang kali pria tampan itu melirik jam tangan super mewahnya yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Seakan begitu tak sabar untuk menantikan seseorang.
Karena cukup bosan menunggu, akhirnya Kagami Jiro mulai kembali ke meja kerjanya dan menyibukkan dirinya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya dengan laptopnya.
Setelah cukup lama menyibukkan dirinya dengan laptop itu, kini telpon kantor itu berdering. Kagami Jiro segera mengangkatnya.
"Ya. Halo ..." sapa Kagami Jiro masih belum mengetahui siapa yang sedang menghubunginya saat ini.
"Tuan, ada seorang gadis yang berniat untuk menitipkan sesuatu untuk tuan Kagami Jiro. Namun kami menahannya karena khawatir dia adalah seorang mata-mata atau penyusup?" jelas seorang pria melalui seberang.
"Seorang gadis?" gumam Kagami Jiro mengkerutkan keningnya. "Bagaimana ciri-cirinya?"
"Gadis ini memiliki panjang rambut sebahu berwarna coklat kemerahan. Dia lumayan cantik dan sexy, Tuan." ucap pria itu ceplas-ceplos.
"Jaga matamu!" tandas Kagami Jiro dengan nada bicara penuh penekanan dan reflek membuat pria di seberang menjauhkan gagang telpon itu dari telinganya.
Karena ucapan Kagami Jiro cukup keras dan bisa memekakkan telinga siapa saja yang sedang mendengarnya.
"Ma-maaf, Tuan. Aku hanya berkata dengan jujur!" ucap pria yang pastinya adalah salah satu dari anak buahnya.
"Jika masih banyak berkata omong kosong, aku akan menurunkan jabatanmu menjadi rekanan, Simon!" ucap Kagami Jiro mulai mengeluarkan jurus mautnya untuk mengancam bawahannya.
"Ba-baik, Tuan. Maafkan saya, Tuan." ucap pria yang dipanggil Simon itu dengan nada bicara yang terbata.
__ADS_1
"Jangan mau menjadi perantara dan disuruh gadis itu untuk memberikan barang itu untukku! Suruh dia datang ke ruanganku sekarang juga dan bawakan barang itu!" titah Kagami Jiro dengan tegas lalu mengakhiri panggilan itu.
"Ciihh ... beraninya Simon berkata seperti itu!" guman Kagami Jiro begitu kesal lalu meraih beberapa lembaran putih dan meremaskan dan menghempaskannya begitu saja.
Dan rupanya berkas itu adalah berkas penting yang baru saja dikerjakan oleh Wilson, under boss dari Doragonshadou. Sebuah berkas yang berisi laporan tertulis tentang penelitian sebuah senjata rahasia terbaru yang akan dimiliki Doragonshadou.
Dengan cepat Kagami Jiro segera menekan salah satu tombol pada telpon perusahaan itu hingga panggilan itu mulai diangkat oleh seseorang.
"Ya, Tuan Kagami Jiro. Ada yang bisa kubantu? Apakah ada laporanku yang salah?" tanya pria itu menerka-nerka.
"Kirimkan lagi laporan itu padaku, Wilson!" titah Kagami Jiro dengan penuh penekanan.
"Tapi, Tuan ... bukankah laporan itu sudah kuberikan satu jam yang lalu?" ucap Wilson keheranan.
"Jangan banyak tanya dan segera buatkan lagi untukku!" tandas Kagami Jiro lalu mengakhiri sambungan itu.
"Sial! Mengapa hari ini begitu banyak orang yang sangat menyebalkan!" gumam Kagami Jiro begitu kesal lalu lebih memilih untuk menikmati sisa Americano coffe-nya.
Tok ... tok ... tok ...
Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam dengan gaya rambut yang begitu rapi, kini mulai memasuki ruangan dengan membawa sebuah dokumen.
"Tuan. Maaf jika sedikit lama, karena tadi sempat ada sedikit kerusakan pada mesin printer-ku." ucap pria itu sambil menyodorkan beberapa lembar kertas yang sudah dijadikan menjadi satu.
"Hhm. Tak masalah!" jawab Kagami Jiro dengan entengnya.
Tak sengaja pria itu menangkap beberapa hasil pekerjaannya yang baru saja dia selesaikan satu jam yang lalu, kini sudah berada di atas lantai dengan keadaan teremas seperti sampah saja.
Nyuutt ...
Rasanya sesak sekali, hingga Wilson masih menatap gumpalan kertas itu selama beberapa saat.
Ada apa dengan pekerjaanku? Apakah ada kesalahan fatal yang aku tulis dalam laporan itu sampai tuan Kagami Jiro membuangnya begitu saja dan malah meminta laporan yang baru. Hhm ...
__ADS_1
Batin Wilson yang masih terdiam menatap gumpalan kertas itu.
"Ada yang masih ingin kau sampaikan padaku, Wilson?" tanya Kagami Jiro membuyarkan angan Wilson.
"Tidak ada, Tuan. Hanya saja, jika masih ada kekurangan dalam laporan itu, tuan bisa memberitahuku, dan aku akan segera memperbaikinya." ucap Wilson menyauti.
"Hhm. Tentu saja!" jawab Kagami Jiro dengan datar. "Bagaimana? Apa kali ini kau sudah memiliki seorang kekasih? Sudah cukup lama kau menyandang status jomblo. Kau cukup mapan dan tampan, tak mungkin jika tak ada seorang gadis yang menyukaimu, Wilson. Dan apa sama sekali tak ada gadis yang sedang kau sukai saat ini?" kini Kagami Jiro mulai menatap Wilson dan sedikit menggodanya.
Kagami Jiro sangat suka ketika menggoda under boss-nya itu. Di dalam pekerjaan, Wilson memang cukup berpotensi dan terampil. Bela dirinya juga sangat baik. Namun dia sama sekali tidak pernah dekat dengan seorang gadis manapun, kecuali saat cinta pertamanya yang berakhir dengan kandas dan membuatnya trauma.
"Sebenarnya ada, Tuan ..." sahut Wilson sedikit malu.
Mendengar jawaban dari Wilson sungguh membuat Kagami Jiro begitu penasaran. Gadis manakah yang bisa membuat seorang Wilson yang begitu menutup diri akhirnya jatuh cinta.
"Siapa dia? Katakan padaku!" celutuk Kagami Jiro sedikit tersenyum dan sangat ingin tau.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya di kompleks apartemenku. Dan rupanya kita adalah tetangga." jawab Wilson yang terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Wah. Bisa kebetulan seperti itu ya." sahut Kagami Jiro begitu tertarik. "Pasti sangat cantik ya, hingga membuatmu begitu menyukainya."
"Yeap. Dia sangat cantik. Dia juga baik dan sangat ramah." Wilson tersenyum samar dan mulai membayangkan gadis itu kembali.
"Apa kau sudah mengajaknya untuk berkencan?" Kagami Jiro mebautkan kedua jemarinya dan menatap Wilson dengan senyum tipis.
"Belum. Aku belum bertemu lagi setelah beberapa hari. Tapi hari ini aku tak sengaja bertemu dengannya kembali, Tuan. Dan ... dia sedang berada disini." sahut Wilson.
"Apa yang sedang gadis itu lakukan disini?" ucap Kagami Jiro tak mengerti.
"Dia mau menemui seseorang. Itu yang dia katakan padaku tadi." sahut Wilson seadanya.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan beraturan mulai terdengar dari arah pintu dan membuat kedua pria itu berhenti berkicau.
__ADS_1