
Ting tong ...
Belum sempat mereka menikmati makan malamnya, tiba-tiba saja bel rumah Yuna mulai berbunyi. Menandakan sedang ada tamu di luar. Semua yang berada di ruang makan menghentikkan aktifitasnya.
"Yuna. Apakah kamu mengundang temanmu yang lain?" tanya ibu Yuna menatap putrinya.
"Hhm? Sepertinya tidak, Ibu." jawab Yuna seadanya karena seingatnya dia tidak mengundang teman kampusnya. "Aku akan melihatnya sebentar, Ibu." imbuhnya lalu mulai bangkit dari tempat dudunya lalu melenggang menuju ruang tamu dan bergegas untuk membukakan pintu itu.
Senyuman ramah Yuna seketika membeku seperti musim saat ini ketika melihat sang tamu. Seorang pria sedang berdiri membelakanginya dengan sebuah setelan jas yang begitu rapi.
Dan pakaian itu sangat dikenali oleh Yuna, karena pakaian itu adalah hasil dari tangannya sendiri.
Astaga! Mengapa aku melupakan sesuatu sepenting ini?! Aku lupa jika aku juga mengundang pria satu ini. Dia pasti akan sangat marah jika menyadari semua itu. Apalagi tadi siang aku malah pergi begitu saja tanpa menghubunginya lagi. Huft ... tapi bukan salahku sepenuhnya sih. Saat itu tiba-tiba saja Jonathan datang dan menjemputku, jadi aku pergi bersama dia deh! Semoga mood-nya tidak semakin buruk!
Batin Yuna yang masih menatap punggung pria itu hingga kini akhirnya pria itu mulai berbalik dan menatap Yuna dengan mengkerutkan kedua alisnya yang terlihat begitu tajam menatap Yuna, namun sepasang mata kecoklatan itu juga seolah sedang tersenyum misterius.
Cantik sekali. Sial! Pasti Wilson begitu menikmati saat menatap Yuna daritadi! Batin Kagami Jiro yang tiba-tiba saja merasa kesal sendiri.
"Ha-hallo, Tuan Kagami Jiro ... hehe ..." sapa Yuna sedikit merasa kikuk. "Ternyata tuan masih mengingat rumahku ya ..." imbuhnya yang terdengar sangat konyol.
"Tentu saja aku mengingatnya. Meskipun hanya pergi sekali, sekalipun itu di tempat pelosok. Maka aku akan selalu mengingatnya dengan baik, karena IQ ku sangat tinggi!" Kagami Jiro menyeringai dan kedua tangannya masih dimasukkan di dalam saku kantong celananya.
"Ahaha ... iya. Itu benar sekali." Yuna menggaruk kepalanya karena sudah begitu meremehkan Kagami Jiro.
"Mengapa tadi siang tidak menghubungiku?" todong Kagami Jiro karena tak bisa lagi menahan rasa kesal yang sudah dia simpan sejak tadi siang.
Padahal pria yang begitu dihormati oleh semua orang ini sudah rela menunggunya selama 3 jam, namun Yuna malah pergi begitu saja bersama Jonathan.
__ADS_1
"Ma-maf ... tapi aku lupa. Dan Jonathan kebetulan saja datang untuk melihat-lihat kampusku. Dan kita tak sengaja bertemu, jadi sekalian saja kita pergi bersama." jelas Yuna seadanya.
"Bagitukah? Kau yakin dia tidak sengaja melakukannya?" selidik Kagami Jiro .
"Tentu saja." sahut Yuna seadanya.
"Sampai kapan kamu akan membiarkanku berdiri disini? Apa ini caramu memperlakukan seorang tamu undangan?" Kagami Jiro mengangkat salah satu alisnya dan masih menatap Yuna.
Cciihh ... padahal dia sendiri yang bersikeras ingin datang malam ini. Aku kan sama sekali tidak berniat untuk mengundang pria menyebalkan ini. Sungguh menyebalkan!
Sungut Yuna dalam hati dan tanpa sadar sudah menatap Kagami Jiro dengan tatapan yang terlihat begitu kesal.
Huft ... sudahlah Tak ada gunanya berdebat dengan pria licik ini. Sebaiknya persilakan masuk saya.
Batin Yuna lagi. Belum sempat Yuna mempersilakan Kagami Jiro masuk ke dalam apartemen keluarganya, tiba-tiba saja dia sudah disusul oleh ibunya karena terlalu lama kembali bergabung bersama mereka.
Belum sempat menjawab ibunya, sang ibu sudah menatap pria itu dan sedikit membelalakkan sepasang metanya menatapnya. Bahkan sang ibu juga menutup mulutnya dengan salah satu jemarinya.
"Tuan Kagami Jiro?" ucap ibu Yuna begitu terkejut. "Ada apa ya? Apakah suamiku membuat kesalahan di perusahaan nyonya besar dan akan mendapat hukuman?"
Kagami Jiro tersenyum tipis mendengar ucapan ibu Yuna, "Tidak, Bibi. Paman Inukai Hyuga sangat bekerja dengan baik di perusahaan ibuku. Dan sebentar lagi dia akan mendapat rekomendasi untuk naik jabatan."
"Apa? Benarkah?" ucap ibu Yuna begitu terkejut.
Yeap, ayah Yuna bekerja pada perusahaan Ruby Shine, perusahaan perhiasan terbesar kedua di Asia yang dipimpin oleh Kagami Aiko, ibu dari Kagami Jiro.
"Tentu saja, Bibi. Aku mendengarnya langsung dari ibuku." sahut Kagami seenak jidatnya. Padahal ibunya sama sekali tidak mengatakan apapun soal ini semua.
__ADS_1
Ibu Yuna terlihat begitu bahagia seperti mendapatkan durian runtuh. Sementara bagaimana dengan Yuna? Yuna terlihat begitu shock ketika mengetahui jika ternyata ayahnya bekerja pada perusahaan ibu Kagami Jiro.
Selama ini dia tak pernah mengetahui akan hal itu. Setahu Yuna, ayahnya baru saja bekerja pada sebuah perusahaan selama 6 bulan ini ketika sudah kembali ke Jepang. Dan ternyata perusahaan itu adalah milik dari ibu Kagami Jiro. Sungguh dunia yang sempit!
"Terima kasih banyak, Tuan Muda Kagami Jiro." ucap ibu Yuna begitu sumringah. "Tapi ngomong-ngomong apa yang sedang tuan lakukan di sini?"
Beberapa saat Kagami Jiro sedikit memutar bola matanya dan mulai menjawab pertanyaan dari ibu Yuna.
"Yuna mengundangku untuk menghadiri perayaan ulang tahun paman Inukai Hyuga, Bibi. Tentu saja aku tak akan menolaknya. Terlebih paman Inukai Hyuga sangat berjasa di perusahaan ibuku. Dan tentu saja aku membawakan beberapa hadiah dariku dan juga dari ibuku." Kagami Jiro tersenyum begitu menawan sembari menengadahkan tangan kanannya ke atas.
Tiba-tiba saja Igor sudah berada disisinya ( bukan memakai jurus menghilang ya) dan memberikan dua buah bingkisan untuk Kagami Jiro.
"Hadiah dariku adalah Vacheron Constantin Tour de I’Ile, sebuah jam tangan yang sangat limeted edition." ucap Kagami Jiro sambil memberikan sebuah bingkisan untuk ibu Yuna. "Sedangkan ini adalah hadiah dari ibuku, jas Robert Westmancott Ultimate Bespoke yang diciptakan oleh desainer dari London." imbuh Kagami Jiro sambil memberikan sebuah bingkisan lagi untuk ibu Yuna.
"Terima kasih banyak, Tuan Muda Kagami Jiro. Namun semua hadiah ini terlalu mahal untuk suamiku. Dan dia juga tidak pantas memakai semua barang mewah ini. Kami hanyalah orang biasa saja, Tuan."
"Bibi, jangan menolaknya. Ibuku pasti akan sangat merasa kecewa jika bibi dan paman menolaknya. Kami sangat tulus memberikan semua ini." ucap Kagami Jiro meyakinkan ibu Yuna.
Tak ada pilihan lain, akhirnya ibu Yuna menerima semua barang branded yang nilainyi sangat tinggi bak pakaian seorang pejabat negara saja.
Huftt ... lagi-lagi pria ini melakukan hal semacam ini. Selalu saja dia memaksakan kehendaknya dan membuat orang lain begitu merasa bersalah jika menolaknya. Dasar licik!
Batin Yuna menatap Kagami Jiro dengan kesal. Kagami Jiro yang menyadari sedang ditatap oleh Yuna mulai tersenyum tipis dan merogoh sesuatu dari saku pakaiannya.
"Tenang saja, Yuna. Aku juga membawakan hadiah untukmu." sebuah kotak kecil berwarna kemerahan dan begitu lembut mulai diberikan untuk Yuna.
Nah loh ... apa ini?
__ADS_1