
Jiro ... jika saja kamu mengakui kamu salah dan meminta maaf kepadaku ... jika saja kamu mau bertanggung jawab atas perbuatanmu tanpa aku harus memaksamu ... maka aku akan membatalkan lamaran dari senior Kin Izumi ...
Batin gadis cantik itu yang kini hanya menunduk dan meremas pakaiannya tanpa sepatah kata apapun.
"Katakan padaku, Amane ... apakah aku memang seburuk itu? Bahkan tiba-tiba kau lebih memilih untuk menikah dengan pria itu?"
"Yah ... karena aku memang mau menikah ..." jawab Amane dengan asal dan masih terlihat begitu murung.
"Apa pria itu yang kamu mau, Amane? Apa kau mencintai pria itu?"
"Uhm. Iya ..." jawab Amane terdengar begitu pelan dan ragu.
Namun Amane mengatakan hal seperti itu karena dia ingin melihat tanggapan seperti apa yang akan Kagami Jiro berikan.
"Baiklah jika memang itu pilihanmu. Aku sebagai temanmu hanya ingin melihat kamu bahagia." ucap Kagami Jiro yang membuat Amane sedikit kecewa, karena Kagami Jiro sungguh tidak peka!
"Malam itu aku sudah membuatmu kehilangan sesuatu. Katakan, berapa yang harus aku bayar? Aku akan mentransfer sejumlah uang untukmu." imbuh Kagami Jiro yang kini membuat Amane begitu terpukul dan kecewa.
Sepasang mata bak green shapphire diamond itu kini sedikit membelalak setelah mendengar ucapan dari Kagami Jiro. Ada rasa kesal, marah dan begitu kecewa yang berkecamuk menjadi satu di dada Amane.
"Jadi seperti itulah kau memandangku, Jiro? Aku sungguh tak habis pikir kau bisa mengatakan hal seperti itu padaku ..." ucap Amane yang terlihat begitu kecewa.
"Jadi apa maumu, Amane?"
"Tanyakan pada hati nuranimu, Jiro ..."
"Menikah? Kau sungguh tidak berpikiran untuk menikah denganku bukan? Bukankah selama ini kita hanya bersandiwara? Dan bukankah kau juga sudah memutuskan akan menikah dalam waktu dekat ini bersama pria pilihanmu itu?"
"Ya!" tandas Amane begitu tegas dengan sepasang manik-manik yang kini sudah menjadi sedikit berair. "Kau tak perlu melakukan dan membayar apa-apa padaku. Dan mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah saling mengenal." ucapan penuh dengan kekecewaan terlontarkan begitu saja oleh Amane.
Dengan cepat gadis cantik itu mulai bangkit dan melenggang meninggalkan Kagami Jiro.
__ADS_1
"Amane!"
Teriakan panggilan dari Kagami Jiro tak diindahkan sama sekali oleh gadis cantik itu. Gadis itu terus melenggang begitu saja dengan penuh kekecewaan.
"Haishhh ... aku berniat berbaik hati untuk memberikan kompensasi padanya. Namun dia malah melakukan hal seperti ini padaku! Sungguh berani sekali mengatakan hal seperti itu padaku!"
BRRAAKK ...
Kagami Jiro menggebrak mejanya dan terlihat begitu kesal karena mendapatkan perlakuan tak terduga dari gadis cantik peracik parfum itu.
...⚜⚜⚜...
Dasar tidak berperasaan. Bukannya meminta maaf dan bertanggung jawab, namun malah mau membereskan dan membayarku dengan uang. Apa dia pikir semua bisa dibeli dengan uang?
Batin Amane yang kini sedang berada di dalam kamar mandi. Dia melihat seorang gadis yang begitu cantik namun berwajah begitu murung sedang menatap dirinya. Gadis itu adalah pantulan dari dirinya sendiri.
Amane ... lupakan Jiro! Sampai kapanpun kalian tidak akan bisa bersama! Malam itu adalah sebuah kesalahan ... ya! Lupakan dia dan mulailah hidupmu dengan benar. Kamu juga akan segera menikah, Amane!
...⚜⚜⚜...
Di sebuah altar putih yang begitu megah dan kokoh, terlihat pasangan dengan balutan pakaian pengantin yang begitu bersinar. Kedua mempelai itu diiringi oleh beberapa pendamping menuju sebuah altar putih yang begitu megah dan tentunya sangat kokoh.
Seorang bell boy berusia 3 tahun yang begitu lucu dan menggemaskan terlihat mulai membunyikan loncengnya, menandakan pengantin sudah boleh memasuki chapel. Bunga-bunga indah itu mulai bertaburan menjatuhi kedua mempelai ini.
Pengantin wanita terlihat begitu cantik dan sungguh mempesona dengan gaun putihnya yang menjuntai hingga lantai. Rambut pirangnya sedikit dihias dengan beberapa manik-manik yang begitu indah. Sementara pengantin pria juga terlihat begitu tampan dan gagah dengan setelan jas berwarna hitam.
Keduanya terlihat begitu berbahagia, ditandai dengan senyumanya yang terlitat tanpa beban saat ini. Pasangan yang sangat sempurna!
Sementara itu di sebuah meja tamu undangan, terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang ditemani oleh seorang pemuda tampan dengan setelan jaz berwarna abu-abu. Mereka terlihat sedang mengalami sebuah perdebatan kecil antara ibu dan anak.
"Huft ... mengapa ibu memaksaku untuk menghadiri pesta pernikahan ini?!" celutuk pemuda tampan itu yang terlihat sudah begitu bosan.
__ADS_1
"Lalu siapa yang akan menemani ibu, Jiro sayang? Papamu sedang sibuk hari ini dan ada pertemuan bersama beberapa rekan bisnisnya. Yosuke sedang menyelesaikan tugas kuliahnya, Christal juga sedang ada les. Daripada ibu sendirian dan bosan, jadi ibu ajak kamu. Lagipula bukankan kamu dan Amane selama ini sangat akrab? Setidaknya berikan ucapan selamat untuknya. Dan berikan hadiah untuknya." ucap Aiko, ibu Kagami Yosuke.
"Ibu. Aku saja tidak berniat untuk menghadiri pesta pernikahan ini. Aku datang karena ibu yang tiba-tiba mengajakku dan menjemputku di appartemen. Jadi aku tidak sempat membeli sesuatu."
"Tenang saja. Ibu sudah menduga akan menjadi menjadi seperti ini." ucap Aiko sambil mencari sesuatu di dalam tas limited edition-nya.
Setelah beberapa saat, Aiko mulai mengeluarkan sebuah kotak kecil keemasan dari dalam tasnya dan mengulurkannya untuk Kagami Jiro.
"Apa ini, Ibu?" tanya Kagami Jiro sambil menimang-nimang kotak kecil itu.
"Hanya sebuah jam tangan kok. Berikan padanya sekarang ..."
Kagami Jiro mulai memandang lurus ke depan. Terlihat beberapa orang sudah mulai bergantian memberikan selamat untuk pasangan pengantin baru yang terlihat begitu berbahagia itu.
"Ibu saja yang memberikan. Aku tunggu disini saja." ucap Kagami Jiro dengan malas sambil memberikan kotak itu kepada ibunya lagi.
"Jiro. Apa kalian sedang bertengkar?" selidik Aiko yang mulai mencurigai Kagami Jiro.
"Hanya masalah kecil kok. Dan aku sedang tidak ingin bertegur sapa dengan mereka, Ibu. Amane bahkan tidak mau melihatku lagi."
"Memang apa yang sudah kau lakukan padanya sampai dia begitu marah padamu? Hingga dia tidak mau lagi bertemu denganmu, Sayang?" tanya Aiko begitu ingin tau.
"Sudahlah, Ibu. Hanya masalah kecil saja. Biasa lah, seorang gadis selalu saja menggunakan perasaan. Lebih baik ibu yang memberikannya sendiri. Aku tunggu disini saja." ucap Kagami Jiro lalu duduk kembali.
Aiko terlihat begitu kewalahan untuk membujuk putra pertamanya, hingga akhirnya dia sendiri yang menemui kedua mempelai itu untuk memberikan selamat dan juga hadiah.
Sementara Kagami Jiro terlihat begitu santai dalam posisi duduk dan menatap mereka dari kejauhan. Sesekali pandangannya bertemu dengan tidak sengaja bertatapan dengan Amane.
Semoga kau bahagia, Amane. Biar bagaimanapun sebenarnya aku sudah menganggapku sebagai temanku. Semoga pria itu bisa membahagiakanmu.
Batin Kagami Jiro menatap datar gadis itu dari kejauhan.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...