
“Apa kau lupa dengan ku? Selama ada aku kau tidak usah khawatir, bahkan kalau kau menarik rambut nya sampai botak juga aku akan tetap membela mu.” Ucap Abraham memotong ucapan Bellova dengan berambisi.
Bellova terdiam.
“Pppfftt… menarik rambut nya sampai botak? Hahahaha…” tawa Bellova yang tidak bisa di tahan nya lagi.
“Pak, anda sangat lucu sekali, hahahahah…” Tertawa sambil memegang perut.
“Berhenti tertawa. Aku heran pada mu, setiap bulan aku memberi mu gaji, dan kau bilang akan mengirim nya ke kampung mu, tapi kenapa orang tua mu memiliki hutang? Apa kau berbohong pada ku?” tanya Abraham, merasa
aneh.
Ibu Bellova yang mendengar ingin menjelaskan nya.
“Maaf pak, sebenar nya Bella memang selalu mengirim uang pada kami, bisa dua sampai tiga kali sebulan. Tapi, setiap saya ambil uang nya di bank, uang nya….selalu di curi di jalan, dan saya…. Tidak …berani memberitahukan nya pada Bella, karena..hhiks..hhiks.. saya tidak mau menambah beban pikiran nya lagi. Lalu, Roya datang, menawarkan pinjaman uang, karena saya pikir saya pasti bisa bayar dan saya juga tidak akan meminta banyak, saya menerima tawaran mereka, tapi tidak menyangka, saya harus membayar 100 juta, kalau tidak bisa membayar nya, mereka ingin puteri saya Bella di nikah kan pada nya. Saya sebenar nya tidak mau, tapi mereka akan melaporkan saya ke polisi kalau saya tidak mau dan menuduh saya pencuri.” Ucap ibu Bellova menangis.
__ADS_1
Bellova memeluk ibu nya agar berhenti menangis.
“Sudah lah bu, yang penting masalah nya kan sudah selesai. Tidak usah di pikirkan lagi.” Bellova menenangkan ibu nya.
Abraham menggaruk kepala nya, mengalihkan pandangannya ketempat lain.
“Ehhem, ya sudah kalau begitu, tidak usah di bahas lagi.” Abraham duduk kembali di kursi yang sudah di benarkan posisi nya.
“Besok pagi setelah bank buka, Lova harus menemaniku untuk menarik uang, dan sore nya kita kembali ke Jakarta.” Ucap Abraham mengalihkan topik pembicaraan.
Bellova melihat Abraham, ibu nya juga sudah berhenti menangis.
“Iya, kenapa? aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku terlalu lama.” Jawab Abraham jujur.
Bellova melihat ibu dan adik-adik nya yang masih kecil.
__ADS_1
“Apa.. apa tidak bisa besok nya saja kita kembali? Tapi saya tidak memaksa sih pak, kalau memang tidak bisa, saya akan ikut dengan anda.” Bellova berusaha membujuk nya.
“Tidak bisa. Sudah lah, karena aku sudah lapar, berikan aku makanan.” Pinta Abraham memegang perut karena kelaparan.
Bellova melihat ibu nya, lalu menganggukkan kepala.
“Kalau begitu, tunggu sebentar ya pak, saya akan siapkan makanan nya.” Bellova pergi kedapur kecil, sangat kecil.
*************
Arshinta yang menemani Satmaka kerumah sakit juga melihat jenasah Fenara, adik dari Satmaka. Pria itu tidak menangis atau berbicara, dia hanya menatap wajah adik nya yang meninggal dengan wajah tersenyum.
Rakha, anak laki-laki itu juga sudah tahu, kalau wanita yang tidak bernyawa itu adalah ibu kandung nya, dia memang menangis, tapi Arshinta berusaha menenangkan dengan memeluk dan mengusap bahu nya.
Kata dokter, Fenara meninggal murni karena penyakit nya. Fenara yang tidak mau makan atau minum kecuali di paksa, itupun masuk nya hanya sedikit lalu di muntahkan lagi. tangan dan kaki yang berdarah dan terluka karena gigitan nya sendiri, tubuh nya juga sangat kurus, bukan dia tidak mendapat perawatan dari dokter yang ahli.
__ADS_1
Setelah mereka keluar dari rumah sakit pun, Satmaka masih saja diam sembari mengemudikan mobil nya. Arshinta yang memangku Rakha, tidak ingin mengajak nya berbicara untuk sementara, karena dia ingin membiarkan pria itu melepas kesedihan dengan cara nya sendiri.
Beberapa hari Arshinta juga sering datang kerumah Satmaka, terkadang dia menginap di rumah Satmaka, hanya saja kalau malam tiba, Arshinta akan tidur di kamar Rakha. Saat ini, dua laki-laki itu sedang dalam masa kesedihan yang butuh penghiburan, dan Arshinta ingin menemani mereka.